Adopsi Bitcoin oleh swasta dan dukungan regulasi dari pemerintah membuat transaksi Bitcoin semakin diminati lebih banyak investor.
05 Des 2024 13:06 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Untuk pertama kalinya, aset Bitcoin menembus 100.000 dollar Amerika Serikat, Kamis (5/12/2024). Catatan rekor ini tak lepas dari kemudahan transaksi Bitcoin berkat bertambahnya korporasi yang mengadopsi pemanfaatan aset kripto dan makin banyak pemerintah yang dipersepsikan akan cenderung pro aset kripto, termasuk Amerika Serikat di era Donald Trump nanti.
Harga Bitcoin berhasil melampaui rekor tertinggi sepanjang masa menjelang tengah hari Waktu Indonesia Barat pada Kamis. Hingga pukul 11.23, harga Bitcoin melonjak 4 persen secara harian ke harga 102.781 dollar Amerika Serikat (AS) atau Rp 1,63 miliar.
Mike Novogratz, pendiri dan CEO perusahaan kripto AS Galaxy Digital, dikutip dari Reuters, berpendapat, momentum nilai Bitcoin menembus 100.000 dollar AS didorong oleh adopsi institusional, kemajuan dalam tokenisasi dan pembayaran, dan jalur regulasi yang lebih jelas. Ini terjadi meski dalam 16 tahun umurnya, Bitcoin menjadi bahan kontroversi di dunia keuangan.
Regulasi terkait aset kripto ini, antara lain, dirasakan semakin jelas di AS. Optimisme akan regulasi yang lebih baik daripada Pemerintah AS ini terjadi menyusul kemenangan Donald Trump pada terpilih dalam pemilihan November 2024.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/04/21/c422f68d-7e1f-4884-9c37-3d138625ffc7.jpg)
Nilai Bitcoin meningkat lebih dari dua kali lipat tahun ini dan naik 45 persen dalam empat minggu sejak kemenangan Trump pada pemilihan umum presiden AS 2024. Pelaku pasar pun telah menyaksikan banyaknya anggota parlemen pro-kripto yang terpilih menjadi anggota Kongres.
Pasar kini menanti janji Trump untuk menjadikan Amerika Serikat sebagai ”Ibu Kota Kripto di planet ini”. ”Kita menyaksikan pergeseran paradigma. Setelah empat tahun mengalami kemerosotan politik, Bitcoin dan seluruh ekosistem aset digital berada di ambang memasuki arus utama keuangan," kata Mike.
Platform jual beli aset kripto di Indonesia, Indodax, dalam rilisnya hari ini, juga menangkap hal senada. Adopsi korporasi yang akan masif dan regulasi yang lebih prokripto mendorong tumbuhnya harga Bitcoin.
Faktor lainnya adalah kenaikan investasi di aset exchange-traded fund (ETF) Bitcoin dan peningkatan kapitalisasi saham pasca periode halving di April 2024. Kondisi ini membalik keterpurukan aset kripto pada 2022.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/21/2dc17921-00ca-488d-bffa-0a739019d20d.png)
Indodax mencatat, persetujuan berbagai ETF Bitcoin di Amerika Serikat membawa perubahan besar dalam dinamika pasar kripto. ETF seperti iShares Bitcoin Trust dari BlackRock telah mengumpulkan aset bersih senilai 48,95 miliar dollar AS hingga November 2024. Arus modal ini meningkatkan legitimasi aset ini di mata investor tradisional.
MicroStrategy, perusahaan teknologi ternama, terus menambah kepemilikan Bitcoin. Saat ini, MicroStrategy memegang sekitar 1,5 persen dari total suplai Bitcoin, menjadikannya salah satu pemegang institusional terbesar.
”Langkah ini memicu perusahaan lain untuk mempertimbangkan Bitcoin sebagai bagian dari strategi keuangan mereka," kata Indodax.
Harga saat ini yang menembus 100.000 dollar AS dengan kapitalisasi pasar mencapai 2 triliun dollar AS, membuat Bitcoin melampaui perusahaan-perusahaan besar seperti Meta dan Tesla.
Daya tarik Bitcoin semakin meningkat sebagai ”emas digital” di tengah ketidakpastian ekonomi global. Indodax pun memprediksi harga Bitcoin akan melambung hingga 130.000 dollar AS dalam beberapa bulan ke depan.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase