Beragam Skandal Presiden Korea Selatan 1960-2024

Dari 13 presiden Korea Selatan sejak tahun 1948-2024, tujuh di antaranya dipidana karena skandal korupsi hingga pelanggaran HAM.

14 Des 2024 20:38 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

Republik Korea, nama resmi Korea Selatan, sudah memiliki 13 presiden sejak merdeka tahun 1948. Meski kini Korsel menjadi negara industri maju, ada tujuh presiden dan mantan presiden di negara itu yang divonis pidana dalam kasus pelanggaran HAM dan skandal korupsi hingga mereka dimakzulkan.

Presiden pertama Korsel Syngman Rhee (memerintah 1948-1960) dimakzulkan karena skandal kecurangan pemilu. Ia satu-satunya presiden Korsel yang dimakzulkan dua kali selama menjabat.

Pemakzulan pertama terjadi tahun 1925 ketika Rhee menjadi Presiden Sementara Republik Korea (1919-1945) dalam pemerintahan pengasingan di Kota Shanghai, China.

Rhee adalah seorang Kristen Methodis, sama seperti Generalissimo Chiang Kai-shek, pemimpin Partai Nasionalis (Kuomintang) China. Chiang juga seorang Kristen Methodis karena pengaruh isterinya, Song Mei-Ling, dan keluarga besar Song.

Penulis buku Flag of Our Fathers, James Bradley, yang difilmkan sutradara Steven Spielberg dengan judul film yang sama, dalam pidato di Memorial Club and Hotel Korps Marinir Amerika Serikat, San Fransisco, AS, tahun 2015 menjelaskan, masyarakat AS sangat terobsesi memberikan pengaruh pada masa depan China dan Asia.

Caranya adalah dengan membentuk masyarakat Kristiani di Asia meniru AS. Hingga kini, berbagai aliran gereja berkembang pesat di Korsel.

”Henry Luce, pendiri majalah Time, putera seorang misionaris AS di China dan juga kelahiran China, sangat mendorong pendekatan ke Asia dan China. Bahkan, majalah Time tahun 1941 memproyeksikan masa depan Asia dalam pengaruh kebijakan abad Amerika,” kata James Bradley, yang juga menulis buku best seller, China Mirage.

Dalam suasana zaman seperti itulah, Syngman Rhee muncul di Korea.S

South Korea Martial Law Photo Gallery

Dalam laporan Sydney Morning Herald, 15 November 2008, Rhee dikenal sangat anti-komunis. Terjadi pembantaian terhadap orang-orang komunis tahun 1948-1949 di Pulau Jeju dan Provinsi Mungyeong, Korsel, dan pembantaian terhadap organisasi Liga Bodo tahun 1950 setelah pecah Perang Korea. Diperkirakan ada 100.000 korban jiwa tewas dalam rangkaian pembantaian tersebut.

Rhee memerintah dengan tangan besi. Semasa kepemimpinannya, Korsel sangat tergantung pada bantuan AS. Setelah menang Pemilu 1952, Rhee mengubah konstitusi lewat parlemen agar batas kekuasaan dua periode dihapus.

Quote

Setelah menang Pemilu tahun 1952, Syngman Rhee mengubah konstitusi lewat parlemen agar batas kekuasaan dua periode dihapus.

Dia kembali menang pada pemilu 1956 dan 1960. Dalam Pemilu 1960 terjadi protes atas kecurangan pemilu, disusul kasus tewasnya anak sekolah yang diduga akibat tindakan polisi. Demo besar-besaran terjadi.

Badan Pusat Intelijen AS (CIA) pun mengevakuasi Rhee keluar dari Korsel ke Hawaii. Dia tinggal di AS hingga akhir hayat tahun 1965.

Infografik Presiden Korea Selatan: Sejarah yang Bermasalah

Pada 27 Februari 2024 kantor berita Korsel, Yonhap, melaporkan bahwa film layar lebar The Birth of Korea ditonton lebih dari 1 juta orang di Korsel. Film ini berkisah tentang kehidupan pribadi dan kiprah politik Rhee.

Ini film dokumenter keempat Korsel yang pemirsanya melampaui 1 juta orang setelah My Love, Don’t Cross That River (2014), Old Partner (2009), dan Our President (2017). Ketiga film itu secara berurutan masing-masing menyedot 4,8 juta penonton, 2,93 juta penonton, dan 1,85 juta penonton.  

Quote

Hidup Jenderal Park Chung-hee berakhir tragis dibunuh pada Oktober 1979 oleh pimpinan intelijen Korea Selatan dalam sebuah pertemuan makan malam tertutup.

Presiden Korsel berikutnya, Yun Po-sun, pernah menjadi menteri pada masa pemerintahan Rhee. Yun dijatuhkan dalam kudeta militer oleh Jenderal Park Chung-hee. Park Chung-hee membiarkan Yun tetap beraktivitas politik, lalu mengalahkannya dalam Pemilu Korsel 1963.

Hubungan RI-Korsel terjalin erat pada masa Jenderal Park Chung-hee. Ketika itu, tahun 1970-an, misi diplomatik Indonesia dipimpin LB Moerdani yang bertugas di Seoul hingga tahun 1974. Kerja sama ekonomi dan militer RI-Korsel terjalin dengan baik.

South Korea Martial Law Photo Gallery

Hidup Park Chung-hee berakhir tragis. Ia dibunuh pada Oktober 1979 oleh pimpinan intelijen Korea Selatan dalam sebuah pertemuan makan malam tertutup.

Selanjutnya sepasang jenderal, yakni Chun Doo-hwan dan Roh Tae-woo, melancarkan kudeta tahun 1979 di tengah kekacauan suasana. Chun Doo-hwan pun menjadi presiden Korsel pada awal dekade 1980-an.

Jenderal Chun Doo-hwan dijuluki ”Jagal dari Gwangju”. Julukan ini disematkan padanya karena ia memerintahkan militer Korsel menumpas perlawanan mahasiswa prodemokrasi.

Chun setuju untuk turun dari jabatan Presiden Korsel tahun 1987 setelah menghadapi gelombang unjuk rasa rakyat. Dia menyerahkan kekuasaan kepada sejawatnya di militer, Roh Tae-woo.

Chun dan Roh adalah teman selama puluhan tahun. Keduanya pernah menjadi teman sekelas di Akademi Militer semasa Perang Korea (1950 – 1953).

Dalam foto bertanggal 26 Agustus 1996 ini, dua mantan Presiden Korea Selatan, Roh Tae-woo (kiri) dan Chun Doo-hwan, tampil di persidangan dalam pengadilan kasus mereka di Seoul, Korsel.

Tahun 1996, Chun dan Roh sama-sama terbukti bersalah atas pengkhianatan karena melancarkan kudeta militer tahun 1979. Kudeta itu mengantarkan Chun menjadi Presiden Korsel.

Roh divonis 22,5 tahun penjara, yang kemudian dikurangi menjadi 17 tahun penjara. Adapun Chun divonis pidana mati yang kemudian diubah menjadi pidana seumur hidup.

Belakangan, mereka berdua mendapat amnesti tahun 1998 setelah hanya dipenjara selama dua tahun.

Skandal era modern

Pada Desember 2016, Presiden Park Geun-hye yang menjabat sejak tahun 2013 dimakzulkan oleh parlemen Korsel. Keputusan itu diperkuat keputusan Mahkamah Konstitusi Korsel tahun 2017 yang berujung pada vonis bersalah dan pemenjaraan.

Park adalah putri mantan diktator militer Park Chung-hee. Park Geun-hye semula dinilai bersih dari korupsi. Tak dinyana dia diduga menerima puluhan juta dollar AS dari para chaebol (konglomerat Korea), termasuk grup usaha Samsung.

Tuduhan tambahan terhadap Park Geun-hye termasuk membuat daftar hitam berisi para seniman dan seniwati yang mengkritik dia. Park Geun-hye juga mencopot para pejabat yang berlawanan dengan dia.

Rakyat Korea Selatan bersuka cita setelah Mahkamah Konstitusi negara itu mengumumkan pemakzulan Presiden Park Geun-hye dalam unjuk rasa di dekat Istana Kepresidenan Gedung Biru di Seoul, Korsel, Jumat (10/3).

Park Geun-hye divonis 20 tahun penjara dan dikenakan denda pada 2021. Pada akhir tahun 2021 dia mendapat pengampunan dari Presiden penggantinya, Moon Jae-in.

Yoon Suk Yeol, yang baru saja dimakzulkan, ketika Park Gyeun-hye diproses pidana, adalah jaksa Kota Seoul yang terlibat dalam penuntutan. Yoon berperan penting dalam pencopotan dan pemenjaraan Park Gyeun-hye.

Sebelumnya, dalam kurun waktu 2008-2013, pendahulu Park Gyeun-hye, yakni Presiden Lee Myung-bak, dijatuhi pidana pada Oktober 2018 atas kejahatan korupsi.

Lee Myung-bak terbukti menerima suap dari Samsung untuk membantu CEO Samsung Lee Kun-hee yang terbukti menghindari kewajiban pembayaran pajak. Bekas presiden Korsel itu dijatuhi pidana penjara 15 tahun. Dia mendapat pengampuran dari Presiden Yoon tahun 2022.

Adapun Presiden Korsel 2003-2008 Roh Moo-hyun yang mengampanyekan perbaikan hubungan dengan Korea Utara, hidupnya berakhir tragis. Dia bunuh diri dengan melompat ke jurang tahun 2009.

Sebelumnya, Roh Moo-hyun sedang diselidiki karena diduga menerima suap satu juta dollar AS dari seorang industriwan sepatu. Uang suap itu diberikan kepada istrinya. Selain itu, ada juga suap lima juta dollar AS kepada suami dari salah satu keponakan perempuannya.

(AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase