Warga yang berbondong membeli emas bukan lagi sekadar FOMO. Ekonomi dunia yang semakin tidak pasti ke depan akan mendorong kenaikan harga emas lebih lanjut.
17 Apr 2025 19:00 WIB · Ekonomi
Seiring dengan harga emas yang terus meningkat hingga telah menyentuh titik tertinggi, masyarakat berbondong-bondong mendatangi sejumlah gerai untuk membeli emas. Apakah masyarakat berinvestasi emas karena panik atau fear of missing out (FOMO)?
Dalam dua minggu terakhir, Rudiantara Faizal (31), warga Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, telah datang sebanyak tiga kali ke gerai emas bersama ibunya untuk membeli emas.
Dalam tiga kali kunjungannya ke tiga gerai itu, pria yang kerap disapa Izal itu pun langsung memborong total delapan keping emas. Enam keping emas di antaranya masing-masing seberat 1 gram, serta dua keping emas seberat 2 gram.
Harga emas yang terus meningkat mendorong Izal untuk bergerak cepat dan tak mau kehilangan momentum investasi lebih banyak. Dari informasi yang dia kumpulkan, baik itu dari media dan obrolan, investasi emas akan memberikan keuntungan dalam jangka waktu panjang. Kelak, bisa dijual kembali dengan gampang dan dengan harga yang lebih tinggi.
Ia membeli emas dengan tabungan sendiri dan ditambah uang dari ibunya. Ibunya menyarankan ia membeli emas untuk mulai berinvestasi bagi masa depan.
”Bukan didesak, ya, tapi dorongan mama untuk membeli emas karena harga emas terus naik. Nah, teman-temanku juga saran begitu. Makanya baru sekarang ini aku investasi emas,” ujar pria yang berprofesi sebagai desain grafis itu, Kamis (17/4/2025), kepada Kompas saat dihubungi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/16/5168f8b7-47e3-45c6-8ae2-904de85f8cdc_jpg.jpg)
Meski sudah membeli delapan keping emas, Izal mengaku tidak akan berhenti berinvestasi. Ia akan terus memantau informasi pergerakan harga emas. Jika ke depan ada kenaikan harga emas yang signifikan, Izal akan kembali membeli.
”Untuk saat ini belum beli dulu karena lumayan juga uang sudah cukup terkuras membeli emas. Cuma, nanti gajian sudah ada rencana akan membeli emas lagi. Aku beruntungnya karena dibantu (uang dari) orangtua untuk beli emas. Investasi emas ini rencananya untuk biaya nikah dan kebutuhan lainnya di masa depan,” ujarnya.
Sementara itu, Yuliana Jemie, warga Pontianak, Kalimantan Barat, tak ingin ikut-ikutan atau latah membeli emas meski harganya terus merangkak naik. Sejauh ini, jika ada uang lebih, Jemie lebih memilih membeli emas digital. Itu pun tidak dengan nominal tinggi atau dalam jumlah yang banyak.
Jemie mengaku, telah cukup lama menabung emas sehingga ia tak perlu ikut-ikutan membeli emas, apalagi harus mengantre lama.
”Enggak FOMO-FOMO-lah. Tidak setiap saat emas naik lalu langsung beli. Biar tidak memberatkan dan tetap jalan berinvestasi, saya beli emas (logam mulia atau digital) pakai uang khusus, bukan uang harian. Jadi tidak harus ikut memaksa beli emas,” kata Jemie yang berprofesi sebagai pebisnis UMKM itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/16/f5861c8c-c17d-4bd6-9caa-f6b81d35163b_jpg.jpg)
Menurut Jemie, investasi emas memang menguntungkan sehingga dalam keadaan mendesak bisa digunakan sebagai solusi cepat.
Contohnya, saat Jemie membeli logam mulia sebanyak 10 gram pada 2007 dan menjual emasnya kembali pada 2022, ia bisa mendapatkan keuntungan mencapai berkali-kali lipat. Sebagai perbandingan, pada 2007, harga emas masih sekitar Rp 500.000 per gram.
Pengamat pasar modal Ibrahim Assuaibi mengatakan, di awal memang sempat ada fenomena FOMO atau rasa takut ketinggalan untuk membeli emas. Namun, fenomena warga yang berbondong membeli emas logam mulia tidak lagi bisa dikatakan FOMO seiring kesadaran dan pengetahuan masyarakat terkait pentingnya berinvestasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Sudah tidak panik dan FOMO lagi. Awalnya masyarakat itu ikut-ikutan, tetapi masyarakat sudah mengerti kondisi perlambatan ekonomi.
”Sudah tidak panik dan FOMO lagi. Awalnya masyarakat itu ikut-ikutan, tetapi masyarakat sudah mengerti kondisi perlambatan ekonomi global akibat perang dagang, geopolitik, hingga penurunan suku bunga, yang membuat harga emas terus naik. Warga sudah banyak berpikir emas sebagai safe haven,” ujar Ibrahim, dihubungi secara terpisah.
Memanasnya perang dagang karena berlanjutnya aksi balas-membalas tarif impor antara Amerika Serikat dan China. Berdasarkan dokumen resmi Gedung Putih Fact Sheet: President Donald J. Trump Ensures National Security and Economic Resilience, tercatat bahwa AS berencana menerapkan kembali tarif tambahan sebesar 245 persen ke China.
Balas-membalas tarif antara kedua negara adidaya itu membuat harga emas dunia menembus level 3.343 dollar AS per troy ons (1 troy ons sama dengan 31,1 gram) pada Kamis (17/4/2025) ini. Ibrahim memperkirakan, minggu depan emas dunia akan menyentuh level 3.400 per troy ons.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/23/63846ab1-7da4-4a0d-b5e3-45fd793175b2_png.png)
Pada saat ekonomi Indonesia tidak baik-baik saja dan kelas menengah ikut terganggu, salah satu caranya memang masyarakat akan membeli emas dengan jumlah gram kecil atau yang dianggap lebih terjangkau. Hal ini yang membuat masyarakat berbondong-bondong membeli emas.
Akibat dampak dari perang dagang dan ekonomi secara global itu pula, masyarakat terdorong membeli emas karena kondisi peningkatan harga emas yang terus melonjak dalam hitungan minggu dan bulanan.
Posisi saat ini langka. Biasanya dalam 5-10 tahun baru kelihatan keuntungannya. Saat ini, hitungannya bukan tahunan, tetapi mingguan dan bulanan.
Dahulu, investasi emas perlu jangka waktu yang panjang untuk mendapat keuntungan. Namun, saat ini, jika warga membeli emas dan menjualnya dalam jangka waktu pendek, mereka masih bisa mendapat keuntungan dalam hitungan bulan.
”Posisi saat ini langka. Biasanya dalam 5-10 tahun baru kelihatan keuntungannya. Saat ini hitungannya bukan tahunan, tetapi mingguan dan bulanan, karena harga logam mulia terus mengalami kenaikan,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/16/95638fe0-0e97-4ec4-80a3-0c71cd7d234c_jpg.jpg)
Menurut dia, ada fenomena menarik di balik masyarakat yang berbondong-bondong membeli emas logam atau emas perhiasan dibandingkan emas digital, yakni fenomena modal sosial.
”Orang cenderung lebih bahagia jika dia membeli emas dalam bentuk barang, ada wujudnya,” ucapnya.
Meski demikian, Ibrahim mengingatkan warga agar bijak dalam berinvestasi emas logam mulia. Jangan sampai masyarakat, khususnya kelas menengah, membeli emas menggunakan dana darurat atau dana kebutuhan sehari-hari.
Prinsip dalam berinvestasi, masyarakat tetap harus paham prioritas ekonominya. Investasi jangan menggunakan uang harian karena bisa mengganggu stabilitas ekonomi rumah tangga dan pribadi.
Jangan sampai masyarakat kelas menengah membeli emas menggunakan dana darurat atau dana sehari-hari.
”Investasi yang aman bisa didahului dengan menabung dulu, kemudian itu yang bisa diinvestasikan untuk emas. Sekarang juga sudah ada emas digital, jadi bisa beli sedikit demi sedikit dengan nominal rupiah yang tidak sebesar beli logam mulia,” ujarnya.
Merujuk laman situs resmi PT Aneka Tambang Tbk atau Antam dengan nama emiten ANTM, harga emas saat ini tercatat Rp 1.975.000 per gram.
Dalam proyeksi lima tahun ke depan, pihak Antam memperkirakan emas tetap menjadi pilihan utama investor karena sifatnya yang likuid, stabil, dan terbukti sebagai aset safe haven yang aman dan stabil selama krisis.
Di tengah pertumbuhan ekonomi global yang fluktuatif dan ketegangan geopolitik yang memanas, permintaan emas bahkan diprediksi akan tumbuh 5-7 persen per tahun hingga 2030.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/19/7684c8f4-879e-4ad6-b64c-96ea0ea515dc_jpg.jpg)
Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto dalam keterangan tertulisnya menyatakan, harga emas di pasar internasional kemarin alias Rabu (16/4/2025) kembali mencapai rekor penutupan tertinggi.
Untuk pertama kalinya, harga emas berada di atas 3.300 dollar AS per troy ons. Data Trading Economics yang diakses pada Kamis (17/4/2025) sekitar pukul 17.25 menunjukkan, harga emas tercatat sudah di level 3.324 dollar AS per troy ons.
Penguatan harga emas ini terjadi bersamaan dengan pelemahan dollar AS. Rabu kemarin, indeks dollar AS terhadap mata uang utama lainnya (DXY) kembali turun di bawah 100 dan ditutup pada 99,26. Dengan ketidakpastian ekonomi yang masih cukup tinggi, harga emas pun masih berpotensi untuk menguat dalam jangka pendek.
”Perkembangan ini turut berdampak positif kepada pergerakan harga saham ANTM, yang kemarin menguat 3,5 persen menjadi 1.925, atau tumbuh 26,2 sejak awal tahun. Kami masih tetap menjadikan saham ANTM sebagai pilihan terbaik saat ini,” kata Arya.
Kenaikan harga emas pada tahun 2024 bahkan menjadi salah satu faktor penting penopang ekspor Indonesia dan berkontribusi terhadap neraca perdagangan Indonesia yang terus mencatatkan surplus dalam 58 bulan berturut-turut.
Untuk saat ini, harga emas diperkirakan masih akan terus naik. Dalam jangka panjang, faktor utama penggerak harga emas di pasar global adalah perkembangan kondisi geopolitik, permintaan dari berbagai bank sentral dunia, serta kondisi ekonomi dunia yang terdampak oleh konflik dagang AS-China. Jadi, sudah beli emas berapa keping?
Penulis:
Aguido AdriEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul