Selama lebih dari empat tahun perang melawan Rusia, Ukraina berpengalaman menghadapi serangan pesawat nirawak buatan Iran. Pengalaman itu yang kini ditawarkan Kyiv.
29 Mar 2026 07:00 WIB · Internasional
AP Photo/Evgeniy Maloletka
ABU DHABI, SABTU — Ukraina menawarkan keahlian menangkis pesawat nirawak Rusia ke sejumlah negara Timur Tengah yang tengah berkonflik dengan Iran. Akhir pekan ini, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menandatangani perjanjian kerja sama pertahanan dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Sebagai gantinya, Ukraina menyiratkan keinginan memperoleh rudal pertahanan untuk menghadapi Rusia dan pasokan solar.
Zelenskyy mengatakan, Ukraina dan Uni Emirat Arab (UEA) sepakat bekerja sama di bidang keamanan dan pertahanan. Selama beberapa pekan terakhir, tim Ukraina telah bekerja di UEA untuk membantu memperkuat perlindungan terhadap ancaman udara.
”Selama beberapa pekan ini, warga Ukraina telah bekerja di sini untuk membantu melindungi nyawa. Kami bertemu dengan perwakilan tim kami dan membahas hasil awal serta kesimpulan utama dari pekerjaan mereka di Emirat, serta sejumlah usulan,” katanya di Abu Dhabi, Sabtu (28/3/2026).
Menurut Zelenskyy, pengalaman perang Ukraina kini mulai diintegrasikan ke sistem pertahanan UEA. Fokus utamanya ialah memperkuat pertahanan udara dan melindungi infrastruktur kritis. ”Sudah ada pemahaman yang jelas tentang bagaimana memperkuat sistem pertahanan udara dan infrastruktur kritis di Emirat dengan mengintegrasikan pengalaman Ukraina,” ujarnya menambahkan.
Selama lebih dari empat tahun perang melawan Rusia, Ukraina juga berpengalaman menghadapi serangan pesawat nirawak (drone) buatan Iran. Pengalaman itu yang kini ditawarkan Kyiv kepada negara-negara Teluk, sembari menjajaki memperoleh pasokan rudal pertahanan udara dan pasokan solar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/18/341f50005b14dc95a8a681ff8ef8e88e-Russia_Ukraine_War_Drone_Factory_125534744.jpg)
Sebelum bertemu Presiden UEA Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, Zelenskyy mengatakan, para ahli Ukraina telah lebih dulu bertemu dengan perwakilan pasukan keamanan dan pertahanan UEA. Tim itu akan menuntaskan rinciannya.
Menurut kantor berita negara UEA, WAM, kedua pemimpin juga membahas peluang memajukan kerja sama bilateral di bawah perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif di antara kedua negara.
Dalam pertemuan itu, keduanya juga membicarakan perkembangan keamanan dan eskalasi militer di kawasan. Pembahasan itu mencakup dampaknya terhadap pelayaran internasional dan perekonomian global.
Zelenskyy mengatakan, Ukraina tidak hanya membutuhkan bantuan, tetapi juga siap membantu pihak yang selama ini mendukung Kyiv.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/19/db495a3ff8a66ae195bb221f6d1b7d52-Germany_Munich_Security_Conference.jpeg)
Dalam lawatan ke Arab Saudi, Jumat (27/3/2026), kementerian pertahanan kedua negara menandatangani perjanjian kerja sama pertahanan. Menurut Zelenskyy, perjanjian kerangka itu menjadi dasar bagi kontrak masa depan, kerja sama teknologi, dan investasi.
”Kami siap berbagi keahlian dan sistem kami dengan Arab Saudi dan bekerja bersama untuk memperkuat perlindungan nyawa,” cuitnya di akun X.
Zelenskyy mengatakan, Arab Saudi kini menghadapi jenis serangan rudal balistik dan drone dari Iran yang telah dihadapi Ukraina empat tahun terakhir. Menjelang pertemuannya dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, ia juga membahas laporan bahwa Rusia membantu Iran, perkembangan pasar bahan bakar, dan kerja sama energi.
Kami siap berbagi keahlian dan sistem kami dengan Arab Saudi dan bekerja bersama untuk memperkuat perlindungan nyawa.
Dalam pesan video kepada Joint Expeditionary Force, Zelenskyy menekankan bahwa kekuatan Ukraina tidak hanya terletak pada senjata baru, tetapi juga pada pengalaman memakainya dalam perang.
”Kuncinya tidak hanya memproduksi senjata baru, terutama drone, tidak hanya teknologi, tetapi juga pengalaman nyata dalam menggunakannya, dan mengintegrasikannya dengan radar, penerbangan, dan sistem pertahanan udara lainnya. Kami punya pengalaman itu,” kata Zelenskyy.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/28/bcd6bf0c1325f091912f475051d0843d-Emirates_Iran_US_Israel.jpeg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/05/ed773c0e181ff224e1bf28626c789482-20260305_NNN_Drone_Iran_mumed.png)
Pada saat yang sama, Kyiv juga ingin mendapat dukungan dari negara-negara Timur Tengah untuk memperkuat pertahanannya sendiri. Ia menyiratkan minat memperoleh rudal pertahanan udara dari kawasan itu.
”Mereka punya rudal pertahanan udara tertentu yang jumlahnya tidak cukup kami miliki. Itulah kesepakatan yang ingin kami capai,” kata Zelenskyy kepada harian Perancis, Le Monde.
Selain soal pertahanan udara, Ukraina juga sedang memburu pasokan solar. Dalam wawancara dengan televisi Ukraina pada Jumat, Zelenskyy mengatakan ia sedang membahas bersama para menteri dan perusahaan energi negara Ukraina, Naftogaz, soal potensi kekurangan solar di negaranya.
”Pertama dan terutama, ini soal solar. Sebab sekitar 90 persen dari potensi kekurangan itu secara spesifik adalah solar. Karena itu, inilah persoalan yang sedang kami fokuskan untuk diselesaikan,” ujar Zelenskyy.
Seusai melawat ke Arab Saudi dan UEA, Zelenskyy tiba di Qatar pada Sabtu sore. Sehari sebelumnya, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha mengatakan, Kyiv hampir merampungkan sejumlah perjanjian keamanan, terutama dengan UEA dan Qatar. Kerja sama ini untuk membantu negara-negara Teluk itu menghadapi serangan Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/28/6f7b15bd28e61e9c038134d3501a4be1-Ukraine_for_Russia_Iran_Drones.jpeg)
Dalam proses yang sama, Ukraina juga disebut telah berdiskusi dengan Arab Saudi, Kuwait, Jordania, dan Oman. Namun, Kuwait, Jordania, dan Oman belum masuk agenda resmi lawatan Zelenskyy dalam rangkaian tur Teluk ini.
Kyiv juga telah mengirim lebih dari 220 ahli antipesawat nirawak ke sejumlah negara Timur Tengah. Mereka ditugaskan untuk berbagi pengetahuan tentang cara mencegat serangan pesawat nirawak yang telah menghantam infrastruktur energi di kawasan.
Minat negara-negara Teluk terhadap teknologi antipesawat nirawak Ukraina meningkat sejak serangan Iran. Sejumlah perusahaan drone Ukraina mengaku telah didekati negara-negara Teluk. Namun, mereka belum mendapat lampu hijau dari pemerintah di Kyiv untuk mengekspor produknya.
Kvertus, perusahaan Ukraina pembuat sistem peperangan elektronik anti-drone, mengatakan telah didekati Arab Saudi dan Kuwait. ”Kami menunggu persetujuan untuk mengekspor produk apa pun. Kami paham bahwa kami perlu berkoordinasi dengan pemerintah kami karena ini bukan hanya soal bisnis, soal menjual drone, ini soal politik,” kata Chief Executive Officer Kvertus Yaroslav Filimonov, dikutip dari BBC.
Direktur Utama TAF Industries Volodymyr Zinovsky mengatakan, perusahaannya telah didekati perwakilan Arab Saudi, Qatar, UEA, dan Kuwait. Namun, ia meminta mereka membicarakannya dengan Pemerintah Ukraina.
TAF Industries adalah perusahaan teknologi pertahanan Ukraina pembuat drone dan sistem perang elektronik. ”Kami semua bekerja untuk melindungi Ukraina, tetap bersama Ukraina, dan menjaga Ukraina tetap hidup. Ini soal bertahan hidup. Dan jika kami harus menunggu beberapa bulan, kami akan menunggu,” kata Zinovsky.
Pada saat yang sama, Rusia dikabarkan sedang mengirim pesawat nirawak ke Iran. Drone itu mencakup versi yang telah ditingkatkan. Teknologi dasarnya berasal dari drone Iran yang sebelumnya dipasok Teheran ke Moskwa setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Informasi ini diperoleh Associated Press dari pejabat AS dan Eropa.
Rusia juga dilaporkan telah menyempurnakan desain pesawat nirawak Shahed selama perang di Ukraina. Peningkatan ini di antaranya meningkatkan kemampuan navigasi. Para spesialis Rusia juga disebut mengembangkan drone umpan tanpa bahan peledak. Tujuannya untuk menguras sistem pertahanan udara lawan.
Pada sejumlah varian, mereka juga menambahkan mesin jet, kamera, sistem anti-jamming (anti-pengacakan sinyal) yang lebih maju, radio link, platform komputasi kecerdasan buatan, atau perangkat internet Starlink.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/28/a74291bb4ab4430297b3c8f30d89e2b9-Russia_Ukraine_War.jpeg)
Dalam laporan itu, Rusia dan Iran disebutkan telah menandatangani kesepakatan senilai 1,7 miliar dollar AS untuk teknologi Shahed Iran. Drone itu mula-mula dikirim dalam bentuk suku cadang ke Rusia. Setelah itu, jalur produksi dibuka di pabrik Alabuga di wilayah Tatarstan, Rusia tengah.
Seorang pejabat intelijen Eropa mengatakan bahwa pembicaraan soal pengiriman drone antara pejabat Rusia dan Iran bulan ini berlangsung sangat aktif. Namun, seorang pejabat pertahanan AS mengatakan, belum jelas apakah pengiriman itu hanya sekali atau menjadi bagian dari rangkaian pasokan yang lebih panjang.
Ia juga mengatakan motif Moskwa belum diketahui. Sebab, setiap amunisi yang dikirim ke Teheran berarti satu amunisi yang tidak bisa ditembakkan Rusia ke Ukraina.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/22/47876cb6-9470-41ee-a599-a2f9e1baf443.jpg)
Pejabat Eropa lain mengatakan, intelijen negaranya menunjukkan ada kiriman drone yang sedang dalam perjalanan, tetapi belum bisa dipastikan bagaimana pengirimannya. Kiriman drone itu diduga dibawa dua konvoi truk yang oleh Rusia disebut membawa bantuan kemanusiaan. Truk-truk itu telah bergerak menuju Iran melalui Azerbaijan.
Kedutaan Besar Rusia di Baku mengatakan, tujuh truk yang membawa 150 ton makanan dan bantuan lain menyeberang ke Astara di Iran utara pada Jumat. Media Rusia, Interfax, melaporkan, Kementerian Situasi Darurat Rusia mengatakan, 313 ton obat dikirim ke Astara lewat jalur kereta.
Pejabat Eropa yang lain mengatakan negaranya belum bisa memastikan transfer drone Rusia ke Iran. Namun, jika pengiriman dilakukan lewat truk, jumlahnya kemungkinan kecil dan bisa lebih merupakan isyarat simbolis, yaitu untuk menjaga hubungan Moskwa dengan Teheran.
Kremlin membantah laporan itu. Ketika ditanya soal laporan Financial Times bahwa Rusia memasok drone ke Iran, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyebutnya sebagai berita palsu. (Reuters/AP)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Kris Mada