PENDIDIKAN PANGAN

Berguru MBG di Jepang, Membangun Masa Depan di Meja Makan

”Shokuiku” mengajarkan lebih dari sekadar gizi. Ia menyiapkan anak menjadi pribadi yang mampu mengambil keputusan sehat sepanjang hayat.

07 Jun 2026 08:03 WIB · Pendidikan & Kebudayaan

Kompas/Nasrullah Nara

Oleh Nasrullah Nara dari Nagoya, Jepang

Bel berbunyi menjelang tengah hari di sebuah sekolah dasar di Kota Makinohara, Shizuoka, Jepang. Para siswa menyingkirkan meja belajar ke sisi dinding kelas lalu menggantinya dengan meja makan.

Beberapa di antaranya mengenakan celemek, sementara yang lainnya menata meja makan, mendorong rak makan masuk kelas, menata wadah makanan, antre mengambil makanan, lalu duduk rapi di depan meja makan.

Salah satu siswa tampil ke depan untuk memimpin ungkapan rasa syukur makanan yang tersaji. ”Itadakimasu…,” ucap anak-anak itu serempak sebagai tanda terima kasih kepada petani, masyarakat, dan siapa saja yang terlibat dari pengadaan makanan hingga tersaji di depan mereka.

Di sekolah ini, makan siang bukan sekadar urusan mengenyangkan perut, melainkan juga menyangkut pembangunan mental dan karakter. Ia merupakan bagian dari pelajaran hidup yang disebut shokuiku.

Di saat Indonesia sedang riuh dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), pengalaman Jepang menawarkan perspektif berbeda. Selama lebih dari satu abad, negeri ini menjadikan makanan sebagai sarana pendidikan untuk membentuk kebiasaan hidup sehat, rasa syukur, kedisiplinan, hingga kecintaan terhadap komunitas dan lingkungan.

Pemandangan di sekolah tersebut terekam dalam kunjungan Kompas bersama para peserta Country Focused Training ”Promoting Healthy Growth through Shokuiku”, Kamis (4/6/2026).

Program tersebut diselenggarakan Badan Kerja Sama Internasional Jepang (Japan International Cooperation Agency/JICA). Sebanyak 12 birokrat dari sejumlah kementerian dan lembaga yang terkait dengan program MBG mengikuti pelatihan tersebut di JICA Chubu Center, Nagoya, 31 Mei-6 Juni 2026.

Sejumlah birokrat dari kementerian/lembaga yang terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG), meninjau perpustakaan sebuah sekolah dasar di Makinohara, Shizouka, Jepang, Kamis (4/6/2026). Di sekolah tersebut, mereka melihat langsung kegiatan makan siang di sekolah yang dikenal dengan nama shokuiku. Kunjungan mereka difasilitasi oleh Japan International Cooperation Agency (JICA).

Para peserta berasal dari Badan Gizi Nasional (BGN), Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

Program tersebut tidak hanya berupa sesi di kelas bersama para ahli dan pejabat kementerian di Jepang. Para peserta juga diajak melihat langsung bagaimana filosofi shokuiku diterapkan di lapangan, mulai dari sistem penyediaan makan siang sekolah, pengelolaan keamanan pangan, hingga praktik pendidikan gizi di sekolah dasar.

Beberapa agenda lapangan sempat mengalami penyesuaian akibat pengaruh taifun yang bergerak di kawasan Pasifik. Meski demikian, kunjungan ke Makinohara di Prefektur Shizuoka tetap terlaksana.

Di kota pesisir yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi teh Jepang itu, peserta memperoleh kesempatan melihat dua sisi yang saling melengkapi: bagaimana makanan dipersiapkan di pusat penyediaan makan siang sekolah dan bagaimana makanan tersebut kemudian menjadi bagian dari proses pendidikan di sekolah.

Quote

Bermula pembiasaan yang baik dari lingkungan keluarga, ruang kelas, hingga ke komunitas tempat anak-anak tumbuh kelak menuju dewasa.

Dari sinilah terlihat bahwa bagi Jepang, makan siang sekolah bermakna medium belajar secara holistik. Bermula dari pembiasaan yang baik dari lingkungan keluarga, ruang kelas, hingga ke komunitas tempat anak-anak tumbuh kelak menuju dewasa.

Pemahaman itu menjadi makin jelas ketika pihak pimpinan SD itu memaparkan bagaimana shokuiku diterapkan di sekolahnya. Tujuan pendidikan di tersebut adalah building tomorrow atau membangun masa depan. Dalam kerangka itulah, shokuiku dirancang untuk membentuk anak-anak yang makan demi kesehatan dan kesejahteraan dirinya sendiri.

Makan bukan tujuan akhir

Karena itu, sekolah tidak memandang makan siang sebagai tujuan akhir. Makan siang hanyalah menjadi salah satu sarana untuk membantu anak memahami asal-usul makanan, membangun hubungan yang sehat dengan makanan, dan pada akhirnya mampu mengelola pola makannya sendiri hingga dewasa kelak.

Program tersebut dikembangkan sesuai tahap perkembangan siswa. Pada tahap awal, fokusnya adalah membangun rasa aman dan ketertarikan terhadap makanan. Anak-anak diperkenalkan pada bahan pangan dan bagaimana bahan pangan diproduksi.

Pada kelas menengah, mereka mulai mempelajari hubungan antara makanan, kesehatan, dan pertumbuhan sekaligus mengenal produk lokal dan budaya pangan daerah. Adapun pada kelas atas, siswa mulai diajak merefleksikan kebiasaan makan serta memperoleh keterampilan memasak dasar.

Wadah menu makan siang di sekolah (shokuiku) di sebuah SD di Makinohara, Shizouka, Jepang tandas, Kamis (4/6/2026). Para siswa dibiasakan menghabiskan makanan yang disuguhkan.

Tahapan itu dirumuskan sekolah dalam tiga fase yang sederhana, yaitu security and interest, kemudian understanding and practice, lalu independence and management.

Urutan tersebut memperlihatkan bahwa tujuan akhir shokuiku bukanlah memastikan anak menghabiskan makanan hari ini. Tujuan akhirnya adalah membangun kemampuan anak untuk menjaga kesehatannya sendiri di masa depan.

Tantangan

Di balik keberhasilan sistem pendidikan pangan Jepang, SD yang dikunjungi ternyata masih menghadapi tantangan yang akrab ditemui di banyak sekolah di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Pimpinan sekolah itu memaparkan bahwa 16,3 persen siswanya kelebihan berat badan, sementara 2,7 persen tergolong obesitas berat. Pada saat yang sama, sayuran masih menjadi menu yang paling sering tersisa. Sekitar 80 persen sisa makanan sekolah berasal dari hidangan sayuran.

Menu makan siang di sekolah (shokuiku) yang disajikan pada siswa SD di  Kota, Makinohara, Jepang, Kamis (4/6/2026). Anak-anak dibiasakan mengonsumsi sayuran atau makanan berserat sejak kecil.

Temuan itu mendorong sekolah melihat persoalan makan bukan semata-mata sebagai urusan selera anak. Bagi SD tersebut, kebiasaan makan merupakan bagian dari kesehatan sekaligus pendidikan.

Oleh karena itu, waktu makan siang dipandang sebagai kesempatan penting untuk membantu anak membangun hubungan yang lebih baik dengan makanan.

Pendekatan yang digunakan pun jauh dari kesan memaksa. Anak yang belum menyukai makanan tertentu tidak dituntut langsung menghabiskan porsinya.

Mereka cukup didorong untuk mencoba satu suapan terlebih dahulu. Dari langkah kecil tersebut, sekolah berupaya menumbuhkan rasa aman, membangun kepercayaan diri, lalu mendorong anak mencoba lebih banyak sesuai kesiapan masing-masing.

Filosofi itu mencerminkan pandangan bahwa perubahan perilaku makan tidak lahir dari tekanan, tetapi dari proses belajar yang berlangsung terus-menerus.

Tanaman sayuran dalam pot berjejer rapi di sebuah sekolah di Makinohara,  Shizouka, Jepang, Kamis (4/6/2026). Pengenalan tanaman kepada siswa bagian dari upaya menghargai jerih payah petani.

Sebelum makan, siswa mencuci tangan, mengenakan masker saat menyiapkan makanan, dan membantu proses penyajian. Sebelum suapan pertama, mereka mengucapkan itadakimasu.

Setelah selesai makan, mereka mengucapkan gochisousama. Sekolah juga memastikan siswa memiliki waktu cukup untuk menikmati makanan dengan tenang. Dengan demikian, makan siang tidak dipandang sebagai jeda dari pembelajaran, tetapi bagian dari pembelajaran itu sendiri.

Pendekatan yang sama juga terlihat di ruang kelas. Tema makanan diintegrasikan ke berbagai mata pelajaran. Dalam pelajaran bahasa Jepang, siswa belajar tentang makanan melalui cerita. Dalam Matematika, mereka mempelajari volume dan berat menggunakan bahan pangan.

Dalam pelajaran musik, siswa mengenal musim dan budaya lokal melalui lagu ”Chatsumi” (”Tea Picking”). Sementara dalam pelajaran lingkungan hidup dan pembelajaran terpadu, siswa memakai kelima indera melalui pengalaman langsung, seperti mengupas kacang polong dan memipil jagung. Makanan hadir tak hanya di meja makan, tetapi juga di ruang belajar.

Mengenal pangan lokal

Bagi SD yang dikunjungi itu, makanan juga menjadi sarana mengenalkan anak kepada komunitas di mana mereka tinggal.

Sekolah memanfaatkan berbagai bahan pangan lokal, seperti teh, tomat mini, melon, stroberi, jeruk mandarin, udang sakura, bonito, dan black hanpen (kue ikan surimi) yang berasal dari wilayah Shizuoka dan Makinohara. Menu makan siang juga disesuaikan dengan musim.

Penggunaan bahan pangan lokal bertujuan membantu siswa memahami makanan dan budaya pangan daerah sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap orang-orang yang terlibat dalam proses produksinya.

Kolam ikan kebun sayuran menjadi bagian dari properti di sebuah SD di Makinohara, Shizouka, Jepang, Kamis (4/6/2026). Sekolah tersebut menjadi percontohan shokuiku (makan siang di sekolah) yang dikunjungi sejumlah birokrat dari Indonesia atas fasilitas JICA.

Melalui pendekatan tersebut, siswa tidak hanya mengetahui apa yang mereka makan. Mereka juga belajar bahwa makanan memiliki hubungan dengan masyarakat, budaya, dan lingkungan tempat mereka tinggal.

Ekosistem

Pemahaman mengenai hubungan antara makanan dan masyarakat menjadi lebih lengkap ketika peserta mengunjungi Makinohara School Lunch Program Center.

Di tengah kawasan pesisir Makinohara berdiri bangunan besar yang lebih menyerupai fasilitas industri daripada dapur sekolah. Dari tempat inilah ribuan porsi makanan dipersiapkan dan didistribusikan setiap hari ke sekolah-sekolah di wilayah tersebut.

Seorang petugas dari Makinohara School Lunch Center menjelaskan bahwa setiap tahap memiliki standar yang ketat. Sebelum makanan dikirim ke sekolah, petugas memeriksa rasa, aroma, penampilan, dan kemungkinan adanya benda asing.

Hasil pemeriksaan dicatat. Ketika makanan tiba di sekolah, suhu makanan kembali diperiksa dan didokumentasikan. Kalau di Indonesia, Makinohara School Lunch merupakan sejenis satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) untuk MBG.

Bagi Jepang, keamanan pangan tidak hanya berarti memasak makanan dengan baik, tetapi juga memastikan bahwa seluruh proses dapat dipertanggungjawabkan.

Perhatian yang sama terlihat dalam penanganan alergi makanan. Penyesuaian menu dilakukan berdasarkan dokumen medis dan koordinasi antara sekolah, pengelola makan siang, serta keluarga siswa.

Setelah makan siang, para siswa membilas dan  mengumpulkan bekas kotak minumannya yang terbuat dari bahan kertas.  Sejak kecil, anak-anak dibiasakan memilah sampah untuk nantinya didaur ulang. Aktivitas itu tampak dalam kunjungan ke sebuah SD di Makinohara, Shizouka, Jepang, Kamis (4/6/2026).

Di sisi lain, sistem tersebut juga dibangun di atas prinsip keterbukaan. Informasi mengenai menu harian, bahan pangan yang digunakan, hingga berbagai kegiatan terkait makan siang sekolah disampaikan kepada masyarakat melalui berbagai saluran informasi, termasuk media sosial.

”Silakan cek akun Instagram maki_schoollunch. Anda dapat melihat interaksi antara masyarakat dan kami terkait dengan menu dan aspek lainnya,” ujar petugas tersebut.

Lebih dari satu abad

Untuk memahami mengapa Jepang membangun sistem sedetail itu, jawabannya muncul dalam sesi pelatihan bersama Yamaue Nozomu dari Divisi Pendidikan Kesehatan dan Shokuiku Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains, dan Teknologi Jepang (MEXT).

Yamaue Nozomu, pejabat dari Divisi Pendidikan Kesehatan dan Shokuiku, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains, dan Teknologi Jepang (MEXT).

Menurut Yamaue, shokuiku bukanlah program baru. ”Akar sejarahnya dapat ditelusuri hingga tahun 1889 ketika program makan siang sekolah pertama kali diperkenalkan untuk membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu,” katanya.

Program tersebut kemudian berkembang menjadi kebijakan nasional yang semakin terstruktur. Jepang mengesahkan School Lunch Program Act pada tahun 1954 dan memperkuat pendidikan pangan melalui Basic Act on Shokuiku pada tahun 2005.

Perjalanan panjang itu menunjukkan bahwa keberhasilan Jepang bukanlah hasil dari program jangka pendek. Sistem tersebut dibangun dan disempurnakan selama lebih dari satu abad.

Dalam perspektif Jepang, makan siang sekolah merupakan living teaching material atau bahan ajar hidup. Anak-anak belajar tentang kesehatan, kebersihan, etika makan, pangan lokal, hingga hubungan antara makanan dan masyarakat melalui pengalaman sehari-hari.

Infografik Barometro Makanan Minim Gizi Masih Cenderung Disukai

Untuk mendukung tujuan tersebut, Jepang bahkan memiliki profesi khusus berupa diet and nutrition teacher atau guru gizi (eiyō kyōyu) yang berperan sebagai pendidik sekaligus penghubung antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Yamaue berharap para peserta dapat mendorong anak-anak memahami kegembiraan menikmati makanan sekaligus pentingnya pola makan sehat melalui kegiatan pendidikan di sekolah.

Menurut dia, sekolah memiliki peran penting dalam mendukung tumbuh kembang anak secara fisik dan mental. Ia juga mendorong pengembangan shokuiku sebagai pembelajaran sepanjang hayat yang dimulai sejak masa kanak-kanak hingga dewasa.

”Saya juga mendorong Anda untuk terus mempromosikan pendidikan pangan dan gizi (shokuiku) sebagai proses pembelajaran sepanjang hayat, mulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa,” ujar Yamaue di sela pelatihan.

Investasi peradaban

Melalui shokuiku, siswa diajak memahami bahwa makanan tidak hadir begitu saja di meja makan. Ada orang-orang yang menanam bahan pangan, ada yang mengolahnya, dan ada pula yang menyiapkan makan siang sekolah setiap hari. Mereka belajar bahwa setiap tahapan dalam proses tersebut memerlukan kerja, waktu, dan perhatian.

Pemahaman sederhana itulah yang perlahan mengubah cara pandang anak terhadap makanan. Apa yang semula hanya dipandang sebagai menu makan siang perlahan menjadi bagian dari pelajaran tentang kesehatan, tanggung jawab, dan kehidupan bersama.

Infografik Masyarakat yang Tidak Bisa Menjangkau Pangan Gizi Berimbang Jurnalisme Data Rata-rata Harga Bahan Pangan Gizi Seimbang Indonesia Per Kapita Per Hari Versi HDB

Pelajaran terbesar dari Makinohara barangkali terletak di sana. Makan siang sekolah memang menjadi titik awal, tetapi tujuan yang hendak dicapai jauh melampaui urusan gizi.

Melalui shokuiku, sekolah berupaya menumbuhkan kebiasaan makan yang sehat, memperkenalkan hubungan antara manusia dan pangan, mengenalkan komunitas tempat anak-anak tumbuh, serta membangun kemampuan mereka untuk membuat pilihan yang baik bagi dirinya sendiri.

Karena itu, yang dibangun Jepang sesungguhnya bukan hanya sistem penyediaan makanan bagi siswa. Jadi, yang dibangun adalah fondasi bagi lahirnya generasi yang sehat, mandiri, dan memahami keterkaitan antara pangan, lingkungan, serta masyarakat di sekitarnya.

Dalam perspektif itu, shokuiku dipandang bukan sekadar program makan atau program gizi. Ia merupakan investasi jangka panjang untuk membentuk kualitas manusia. Membangun peradaban dari meja makan.

Lintas sektor

Tentang pentingnya kolaborasi dan koordinasi antarsektor (lembaga), JICA juga menghadirkan Takahashi sebagai pembicara mewakili Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang.

Kehadiran kementerian di luar sektor pendidikan ini menegaskan, shokuiku bukan sekadar urusan apa yang dimakan anak di sekolah. Di Jepang, pendidikan pangan dipandang sebagai titik temu antara kebijakan kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sosial, dan pembangunan sumber daya manusia.

Adapun Yoko Tsurugi dari Pemerintah Prefektur Kumamoto menegaskan, keamanan pangan dibangun melalui pencegahan. Karena itu, pengawasan dilakukan sejak bahan makanan diterima, diolah, disimpan, hingga didistribusikan ke sekolah. Kebersihan dapur, kesehatan petugas, kualitas air, dan suhu makanan dipantau serta dicatat secara berkala.

Tsurugi menegaskan bahwa gejala seperti muntah atau diare tidak selalu berarti keracunan makanan. Karena itu, setiap dugaan kasus harus ditelusuri melalui investigasi epidemiologi sebelum disimpulkan penyebabnya.

Pelajaran penting dari Jepang yakni bahwa keamanan pangan tidak hanya ditentukan oleh kualitas menu, tetapi juga oleh sistem pengawasan, pencatatan, dan distribusi yang ketat.

Dengan kata lain, keamanan pangan bukan sekadar pelengkap program makan sekolah, melainkan fondasi yang menjaga seluruh sistem tetap berjalan dengan aman.

Yamaue Nozomu, pejabat dari Divisi Pendidikan Kesehatan dan Shokuiku, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains, dan Teknologi Jepang (MEXT), membawakan materi pada Country Focused Training ”Promoting Healthy Growth through Shokuiku” di Gedung JICA Chubu, Nagoya, Senin (1/6/2026).

Apa yang disampaikan para pemateri dan kunjungan lapangan sejalan dengan harapan peserta pelatihan. Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Then Suyanti, misalnya, berharap mendapatkan pelajaran dan contoh praktik baik dari Jepang untuk bisa diadopsi untuk program MBG di Indonesia.

Hal yang dimaksud adalah tata kelola kelembagaan; penguatan kolaborasi lintas sektor dan mekanisme koordinasi antarlembaga untuk efektivitas penerapan program secara nasional.

Ia juga berharap penataan kerangka keamanan pangan dan pengendalian mutu di seluruh rantai pasok. ”Kita juga perlu memperkuat pengawasan keamanan pangan melalui sistem pemantauan dan inspeksi yang efektif,” ujar Then menambahkan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nasrullah Nara dari Nagoya, Jepang
 | 

Editor:

Evy Rachmawati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan