IRAN

Berharap Iran ”Normal” Selamanya...

Kecemasan dan ketakutan meliputi warga Iran setelah gagalnya perundingan 21 jam.

14 Apr 2026 12:31 WIB · Internasional

AFP/ATTA KENARE

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Suasana ”normal” tecermin saat Amerika dan Israel mencapai kesepakatan dengan Iran dalam perang Timur Tengah yang dimulai pada 28 Februari. Gencatan senjata selama dua pekan yang dimulai pada Rabu (8/4/2026) membawa angin segar dan disambut sukacita oleh masyarakat Iran.

Di Teheran, ibu kota Iran, warga lalu-lalang dan menjalani kehidupan seperti hari-hari sebelum terjadinya perang. Kafe-kafe dipenuhi oleh kelompok-kelompok kecil masyarakat, laki-laki, perempuan, bahkan orang tua yang menikmati sore.

<p>Seorang pengendara sepeda melewati Taman Pardisan di Teheran, Iran, Jumat (10/4/2026). (AP/VAHID SALEMI)</p><p>Seekor anjing berjalan-jalan di Taman Pardisan di Teheran, Iran, Jumat (10/4/2026). (AP/VAHID SALEMI)</p><p>Seorang polisi berjalan di Lapangan Revolusi Islam di pusat kota Teheran, Iran, Senin (13/4/2026). (AP/VAHID SALEMI)</p>

Seorang pengendara sepeda melewati Taman Pardisan di Teheran, Iran, Jumat (10/4/2026). (AP/VAHID SALEMI)

Seekor anjing berjalan-jalan di Taman Pardisan di Teheran, Iran, Jumat (10/4/2026). (AP/VAHID SALEMI)

Seorang polisi berjalan di Lapangan Revolusi Islam di pusat kota Teheran, Iran, Senin (13/4/2026). (AP/VAHID SALEMI)

Di taman-taman yang tersebar di penjuru Iran juga senada. Seorang bocah perempuan dengan gembira berusaha menerbangkan layang-layang di Taman Pardisan. Layang-layang berukuran besar dengan buntut berwarna-warni itu melayang. Gambar tokoh kartun Angry Bird seakan berkejaran dengan layang-layang lain berwarna kuning yang terbang lebih tinggi.

Di tempat yang sama, di sudut lain, dua warga berolahraga sore sambil membawa anjing kecil yang lucu. Di pusat kota, keluarga kecil berjalan bersama di lorong-lorong pertokoan. Akhir pekan pertama di Iran setelah kesepakatan gencatan senjata memperlihatkan suasana ”normal” kehidupan sehari-hari di Iran.

Kendaraan melaju di Enqelab-e-Eslami, atau Lapangan Revolusi Islam, di pusat kota Teheran, Iran, Senin (13/4/2026).

AP/Vahid Salemi
Seorang wanita duduk di sebuah kafe di utara Teheran, Iran, Minggu (12/4/2026).

AP/Vahid Salemi
Papan iklan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei berdiri di sisi jalan raya di Teheran, Iran, Jumat (10/4/2026).

AP/Vahid Salemi

Bayang-bayang ketakutan

Kegagalan pembicaraan tatap muka antara delegasi Amerika yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance dan mediator Iran di ibu kota Pakistan, Islamabad, Minggu (12/4/2026), menjadi kekhawatiran baru bagi warga Iran. 

Kegagalan setelah perundingan selama 21 jam menimbulkan reaksi kekecewaan. Para pejabat Amerika mengatakan, pembicaraan tersebut gagal karena penolakan Iran untuk berkomitmen meninggalkan program nuklirnya. Sementara para pejabat Iran menyalahkan Amerika karena gagal mencapai kesepakatan tanpa merinci poin-poin yang menjadi kendala.

Warga menghabiskan waktu di sebuah kafe di Teheran utara, Iran, Minggu (12/4/2026).

AP/Vahid Salemi
Seorang pedagang kaki lima melihat ponsel pintarnya saat dia menunggu pelanggan di Teheran utara, Iran, Minggu (12/4/2026).

AP/Vahid Salemi
Orang-orang berjalan melewati mural dinding di sepanjang pinggir jalan di Teheran pada Minggu (12/4/2026).

AFP/ATTA KENARE
Sebuah keluarga Iran menyeberang jalan di pusat kota Teheran, pada Jumat (10/4/2026).

AFP

Kegagalan perundingan ini menimbulkan keraguan dan ketakutan tentang masa depan gencatan senjata selama dua pekan yang sejatinya akan berakhir pada 22 April. Warga Iran enggan berbicara dengan media soal ketidakpastian masa damai. Farhad Simia, yang bersedia berbicara, mengatakan, ”Saya menentang perang. Saya pikir negosiasi adalah jalan yang lebih baik.” 

Jalan-jalan di Teheran dipenuhi dengan bendera Iran berukuran besar dan papan reklame raksasa yang mengagungkan para pemimpin negara dan prestasi militernya. Sebuah ilustrasi besar menggambarkan sejumlah tentara Iran berseragam mengangkat jaring ikan dari laut dengan tangkapan berupa miniatur pesawat dan kapal perang militer AS.

”Selat Tetap Ditutup”, demikian bunyi tulisan di papan reklame tersebut. Dalam perkembangan terbaru, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kepada media pada Senin bahwa militer Amerika telah memulai blokade pelabuhan Iran. 

Penumpang duduk di halte bus dekat bekas kedutaan AS di Teheran pada Sabtu (11/4/2027).

AFP/ATTA KENARE
Wanita berjalan melewati mural dinding di sepanjang pinggir jalan di Teheran pada 11 April 2026. 

AFP/ATTA KENARE
Seorang wanita bermain bola voli di Taman Pardisan di Teheran, Iran, Jumat (10/4/2026).

AP/Vahid Salemi
Seorang wanita menerbangkan layang-layang saat akhir pekan di taman Pardisan di Teheran, Iran, Jumat (10/4/2026).

AP/Vahid Salemi

Blokade ini ini bertujuan memaksa Iran membuka Selat Hormuz. Iran menanggapinya dengan ancaman terhadap semua pelabuhan di Teluk Persia dan Teluk Oman dan menargetkan negara-negara sekutu Amerika. Suasana ”normal” warga Iran tampaknya masih belum sepenuhnya normal. (REUTERS/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti