Unjuk rasa dengan korban tewas mencapai ribuan pada awal 2026 mengingatkan kita pada peristiwa serupa di tahun 1979.
14 Jan 2026 10:50 WIB · Internasional
AP
Seiring dengan dibukanya saluran komunikasi secara terbatas, jumlah korban tewas akibat unjuk rasa di Iran melonjak hingga mencapai lebih dari 2.000 orang. Beberapa hari sebelumnya, kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat, HRANA, memverifikasi kematian 490 demonstran dan 48 personel kemanan.
Unjuk rasa yang dimulai sekitar dua minggu lalu awalnya adalah bentuk kemarahan atas perekonomian Iran yang memburuk. Dimotori para pedagang di Grand Bazaar, aksi ini segera mendapat simpati banyak kalangan.
Dalam perkembangannya, unjuk rasa ini segera menargetkan rezim teokrasi, khususnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang berusia 86 tahun. Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan para pengunjuk rasa di Teheran membuat grafiti dan nyanyian yang menyerukan kematian Khamenei, sebuah tindakan yang dapat berujung pada hukuman mati.
Data jumlah kematian terakhir yang mencapai 2.003 serta penahanan terhadap 16.700 orang selama unjuk rasa selama dua minggu ini mengejutkan dunia internasional. Jumlah itu mencapai empat kali lipat jumlah korban tewas dalam unjuk rasa Mahsa Amini yang berlangsung berbulan-bulan.
Jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah seiring makin represifnya aparat menanggapi pengunjuk rasa. Jumlah korban tewas tersebut jauh melampaui jumlah korban tewas dari aksi protes atau kerusuhan lainnya di Iran dalam beberapa dekade terakhir. Ini juga mengingatkan pada kekacauan yang terjadi saat Revolusi Islam tahun 1979 di negara itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/14/98b3ada8-1215-4d88-a201-8fa05e946ed4.jpg)
Saat kepemimpinan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang dimulai pada September 1941 setelah mewarisi kekuasaan dari ayahnya, masyarakat Iran mulai gerah dengan situasi politik serta korupsi dan pelanggaran HAM yang dilakukan rezim ini. Unjuk rasa yang awalnya kecil berubah menjadi besar dan merata di seluruh wilayah Iran.
Unjuk rasa yang mulai berlangsung dari tahun 1978 berlangsung berbulan-bulan hingga memasuki tahun 1979. Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang berada di pengasingan selama 14 tahun setelah sempat dipenjara selama 10 bulan oleh Shah, menjadi salah satu motor penggerak unjuk rasa dari Paris, Perancis.
Khomeini melarikan diri dari Iran pada pertengahan tahun 1960-an karena takut ajaran-ajarannya akan ditindak oleh Shah. Setelah 37 tahun berkuasa, Shah diam-diam meninggalkan Iran pada 16 Januari 1979. Tak berselang lama, Khomeini kembali dari pengasingan pada 1 Februari 1979. Jutaan warga menyambut kedatangan Khomeini dan mengarak dari bandara sampai ke kota.
Sepuluh hari kemudian, pemerintahan Shah jatuh. Revolusi Iran mengubah secara mendasar struktur politik dari monarki menjadi sebuah republik Islam yang dipimpin oleh otoritas agama yang diproklamirkan pada 1 April 1979 dengan Khomeini sebagai pemimpin tertinggi pertama negara itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/14/f4869d25-658c-4e83-8fe4-f1cfa17b10a3.jpg)
Satu hal yang menarik adalah Reza Pahlevi, putra sulung Shah Mohammad Reza Pahlavi, yang digulingkan saat Revolusi Islam 1979, kini menyerukan unjuk rasa besar-besaran dari Amerika Serikat. Ini mirip yang dilakukan Khomeini dari Perancis waktu itu.
Ribuan korban tewas dalam unjuk rasa selama 1978-1979. Situasi Iran saat ini mengingatkan publik pada situasi yang juga mirip di tahun 1979. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra