Sudah kembali ke jalur kemenangan di Liga Inggris, saatnya Manchester City juga menemukan konsistensi di Liga Champions Eropa. Kans itu terbuka di markas Villarreal.
20 Okt 2025 13:22 WIB · Olahraga
VILLARREAL, SENIN — Pep Guardiola akan berjumpa tim Spanyol kelima yang bakal dihadapinya di Liga Champions Eropa selama menangani Manchester City. Villarreal bakal menguji ketangguhan ”The Citizens” di Stadion de la Ceramica, Rabu (22/10/2025) pukul 02.00 WIB. Erling Haaland lagi menjadi harapan besar City untuk kembali ke jalur kemenangan di Eropa.
Sembilan musim Guardiola telah mengasuh City. Selama di klub itu, Guardiola telah memimpin City menghadapi empat tim asal negara tanah airnya, yakni Barcelona, Real Madrid, Atletico Madrid, dan Sevilla.
Pertemuan empat tim itu terangkai dalam 16 pertandingan. Hasilnya, City mengemas tujuh kemenangan, empat kali seri, dan lima kekalahan.
Sebelum ditangani Guardiola, City baru satu kali berjumpa Villarreal pada fase grup Liga Champions edisi 2011-2012. Mereka menang 2-1 di Manchester. Kemudian, City yang kala itu ditangani Roberto Mancini unggul 3-0 pada kunjungan perdana ke markas tim berjuluk ”Kapal Selam Kuning” itu.
Rekor sempurna menghadapi Villarreal itu ingin dijaga oleh City. Stadion de la Ceramica, markas Villarreal, tentu bukan arena pertandingan yang membuat pemain-pemain City tenggelam dalam teror.
Hanya berkapasitas sekitar 23.000 tempat duduk, jumlah itu kurang dari setengah dari tribune Stadion Etihad, markas City, yang berkapasitas lebih dari 50.000 kursi. Meskipun berkapasitas kecil untuk tim yang berlaga di Liga Champions, jumlah kursi tribune Stadion de la Ceramica sudah nyaris setengah dari total populasi kota Villarreal yang hanya berjumlah sekitar 50.000 jiwa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/20/32a50bfe-3644-480b-96b3-081f6b243629_jpg.jpg)
Harapan City untuk membawa pulang tiga poin disandangkan pada ketajaman Erling Haaland. Sudah 23 gol telah dihasilkan Haaland memasuki bulan ketiga musim 2025-2026. Khusus untuk City, Haaland mencetak 11 gol di Liga Inggris serta 3 gol di Liga Champions.
Sebanyak 12 gol terakhir Haaland diciptakan dalam delapan pertandingan beruntun bersama City. Ia belum terbendung menjaringkan bola ke gawang lawan sejak mencetak gol pembuka keunggulan City saat tumbang 1-2 dari Brighton & Hove Albion, 31 Agustus lalu.
Bahkan, pada dua laga terakhir City kontra Brentford dan Everton, gol-gol penyerang asal Norwegia itu berharga enam poin. Efektivitas Haaland di muka gawang lawan perlahan membawa City naik ke papan atas. Mereka sudah berada di peringkat kedua Liga Inggris memasuki pekan kedelapan dengan hanya berselisih enam poin dari Arsenal, pemuncak klasemen sementara.
”Tentu, Erling (Haaland) adalah pemain kunci kami. Ia bisa mencetak empat atau lima gol. Di waktu yang sama, saya menyadari kami tidak bisa terus-menerus hanya bergantung (gol) kepadanya,” ucap Guardiola dilansir laman klub, Senin (20/10/2025).
Guardiola patut senang juga khawatir secara bersamaan. Ketajaman Haaland bisa menjadi bumerang bagi perjalanan timnya di kompetisi yang amat panjang. Terjadi disparitas kuantitas gol antara Haaland dan rekan setimnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/20/87176171-0af1-42ec-8dc3-7ba7d25e4fe2_png.png)
Hanya ada enam pemain City lainnya yang sudah mencatatkan nama di papan skor. Phil Foden telah menyumbang dua gol. Kemudian, lima nama lainnya masing-masing sudah mencetak sebuah gol, yaitu Tijjani Reijnders, Jeremy Doku, Savinho, Ryan Cherki, dan Matheus Nunes.
”Kami ingin melakukan hal-hal baik tidak hanya untuk Erling. Para pemain sayap, gelandang serang, dan pemain lain juga harus meningkatkan permainan mereka,” tutur Guardiola.
Terlepas dari ketergantungan akut City pada Haaland, Guardiola menyiapkan sistem yang membuat banyak pemain bisa menghadirkan ancaman. Dalam skema 4-1-4-1, juru taktik beretnis Catalonia itu tidak membatasi tugas pemain tertentu untuk mengkreasi peluang besar untuk Haaland dan pemain lainnya.
Saya pikir hasil-hasil laga terakhir menunjukkan kami mulai menemukan konsistensi sebagai sebuah tim. Tetapi, sepak bola bisa berubah sangat cepat. (Phil Foden)
Tak heran, dalam 11 pertandingan yang telah berjalan, City sudah memiliki 13 pemain yang menginisiasi gol alias menciptakan asis. Doku ialah pencipta asis terbanyak (tiga), disusul Foden, Josko Gvardiol, dan Nico O’Reilly yang sudah menyumbang asis ganda.
Situasi itu menyebabkan lawan lebih kesulitan untuk meredam aksi ofensif The Citizens. Haaland memang menjadi target operan akhir dalam skema serangan. Akan tetapi, bola menuju Haaland bisa dihasilkan oleh 10 pemain lain, termasuk kiper Gianluigi Donnarumma.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/06/66d130af18223fb2d948c1b57fb93035-wires_photo_2025_10_06T031233.975.jpg)
Foden menyebut permainan dan raihan hasil positif dalam dua laga terakhir kian menghadirkan atmosfer positif di dalam tim. Skuad City, tambahnya, tidak ingin laju positif ini berakhir dalam waktu dekat.
”Saya pikir hasil-hasil laga terakhir menunjukkan kami mulai menemukan konsistensi sebagai sebuah tim. Tetapi, sepak bola bisa berubah sangat cepat,” kata Foden dilansir Sky Sports.
”Kami harus fokus dan memikirkan setiap laga tanpa memikirkan hal-hal jauh di depan. Jika hasil buruk hadir, terkadang sulit untuk kembali ke jalur yang tepat,” ucapnya kemudian.
Ketika City mulai konsisten menang, Villarreal justru dijauhi hasil tiga poin dalam tiga laga terakhir. Setelah ditahan Juventus, 2 Oktober lalu, Kapal Selam Kuning menelan kekalahan dari Real Madrid, lalu harus puas berbagi poin kontra Real Betis.
Laga menghadapi Juve dan Betis digelar di Stadion de la Ceramica. Padahal, pada empat laga kandang sebelumnya, mereka meraup tiga poin, yaitu atas Real Oviedo, Girona, Osasuna, dan Athletic Bilbao.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/06/02d10beb-a604-4b40-b071-ccfe8ece12e0_jpg.jpg)
Pelatih Villarreal Marcelino menuturkan, hasil nirmenang dalam beberapa laga terakhir disebabkan performa naik dan turun skuadnya dalam 90 menit laga. Kata Mercelino, timnya mampu tampil baik sesuai rencana permainan, tetapi kerap kehilangan fokus dalam durasi minoritas laga.
Hal itu membuat mereka harus merelakan gagal meraih poin penuh. ”Terkadang, kami bermain lebih baik dari yang saya kira, tetapi sering pula kami tampil di bawah standar. Kami harus menuntut lebih dari diri sendiri untuk meraih hasil positif,” ujar Marcelino, seperti dikutip Marca.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto