Diturunkannya rudal Oreshnik dan ATACMS di dalam perang Ukraina yang sudah memasuki hari ke-1.000 membuat dunia khawatir, gencatan senjata tidak kunjung terwujud.
23 Nov 2024 17:10 WIB · Internasional
Perkembangan situasi perang Ukraina membuat dunia khawatir konflik terus memanas dan berkembang. Kekhawatiran ini didasari ketidakmauan dunia perang itu terus memanas dan melibatkan senjata nuklir strategis. Bila itu terjadi, kehancuran akan semakin parah dan dunia akan terimbas sangat serius.
Kekhawatiran itu menguat sejak pada Jumat (22/11/2024) Rusia menembakkan rudal Oreshnik ke Ukraina. Oreshnik merupakan rudal hipersonik yang mampu memuat enam hulu ledak sekaligus.
Pengerahan Oreshnik ini atas perintah Presiden Rusia Vladimir Putin. Sejatinya, Oreshnik masih dalam tahap percobaan. Rudal itu digunakan untuk menyerang markas tentara Ukraina di Dnipro.
Putin mengatakan, Oreshnik akan terus diuji coba dalam pertempuran nyata. Ia juga mengatakan bahwa Rusia akan memproduksi Oreshnik dalam jumlah banyak, terlepas dari besarnya ongkos produksi. Ketua Satuan Rudal Strategis Rusia Jenderal Sergei Karakayev menuturkan, Oreshnik bisa menghasilkan kerusakan setara dengan senjata nuklir.
Pemakaian Oreshnik ini membalas pemakaian rudal jelajah jarak jauh buatan Amerika Serikat (AS), yaitu ATACMS, oleh Ukraina pada Kamis (21/11/2024). Presiden AS Joe Biden setelah sekian lama menolak akhirnya mengizinkan Kyiv menggunakan rudal jarak jauh tersebut. Keputusan itu diambil Biden setelah berdiskusi dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Keputusan AS ini dinilai berisiko dan mengakibatkan negara-negara Uni Eropa yang juga anggota NATO terbelah pendapatnya. Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban yang secara pribadi dekat dengan Putin menyalahkan AS. ”Jangan pernah meremehkan Rusia. Mereka tidak menggertak. Lagi pula, tidak mungkin Ukraina mampu mengoperasikan ATACMS. Pasti ada pasukan AS yang memegang kendali,” kata Orban.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Ceko Jan Lipavsky menyatakan dukungan Ceko kepada Ukraina. Praha akan terus memberi sokongan dalam bentuk persenjataan dan biaya. ”Kita tidak boleh mau ditakut-takuti oleh diktator dari Rusia,” kata Menlu Ceko.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/23/9e43cac4-c0b4-49ba-9387-7ad815c66bb2_jpg.jpg)
Pemakaian ATACMS ke Rusia itu semakin berisiko membuat Rusia mempraktikkan doktrin nuklir terbaru mereka. Putin merevisi doktrin itu menjadi apabila ada negara pemilik senjata nuklir yang diserang, negara lain yang berstatus sama berhak turun tangan. Ini menyitir hubungan Rusia dengan Iran, China, dan Korea Utara (Korut) yang sama-sama mempunyai nuklir.
Pertanyaan besar bagi publik ialah alasan Biden yang selama ini menolak permintaan Ukraina, tetapi kini tiba-tiba menyetujui. Patut diperhatikan pula izin ini dikeluarkan ketika Biden kurang dari tiga bulan lagi menjabat sebagai presiden AS. Pada 20 Januari 2025, presiden terpilih AS, Donald Trump, dilantik dan mengambil alih Gedung Putih.
Direktur Fulcrum Institut F Andrew Wolf menjelaskan dua kemungkinannya kepada The Hill edisi 21 November 2024. Pertama, Biden sengaja mengambil momen sebelum ia menghabiskan masa jabatannya sebagai simbol bahwa ia tidak lemah. Keputusan itu menunjukkan bahwa ia berani mengambil risiko apabila diperlukan. Ini semacam simbol kepada Putin, Trump, ataupun masyarakat global.
”Harus diingat bahwa ini keputusan politik yang telah dipikirkan masak-masak,” kata Wolf.
Menurut dia, hal ini menjadi semacam tantangan kepada Trump. Alasannya, selama berkampanye, Trump selalu mengatakan bahwa ia bisa mengakhiri perang Ukraina hanya dalam waktu 24 jam. Trump tidak pernah menjelaskan langkah yang ingin diambilnya. Akan tetapi, para ahli memperkirakan ia melandaskan hubungan pribadinya dengan Putin yang ia anggap dekat sebagai faktor terkuat dalam penyelesaian perang tersebut.
Aspek kedua ialah meskipun Ukraina memakai ATACMS, pengaruhnya terhadap perang yang telah berlangsung sejak 24 Februari 2022 ini tidak terlalu signifikan. Pasalnya, ATACMS sangat mahal untuk diproduksi. Setiap rudalnya membutuhkan ongkos pembuatan setidaknya 1 juta dollar AS.
Ukraina tidak akan mampu menghamburkan persenjataan semahal itu. Mereka akan saksama memilih sasaran. Pada saat yang sama, dengan kemampuan militernya, Rusia tinggal memindahkan persenjataan mereka ke titik yang sulit dijangkau oleh Ukraina. Luasnya lahan Rusia memungkinkan hal tersebut dilaksanakan.
”Oleh sebab itu, kemungkinan eskalasi ke luar wilayah konflik kecil. Akan tetapi, ATACMS memberi Ukraina kekuatan lebih untuk bernegosiasi,” kata Wolf.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/23/1abaa00c-96ed-41e7-9661-7cb403651cd0_jpg.jpg)
Perkembangan lain yang terus dipantau ialah keberadaan pasukan Korut di Rusia. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam taklimat hariannya mengatakan, diperkirakan ada 11.000 tentara Korut di wilayah perbatasan Ukraina-Rusia. Mereka terintegrasi dengan pasukan Rusia. Bahkan, per akhir tahun 2024, perkiraannya ada 100.000 tentara Korut akan diturunkan ke medan perang.
”Kemungkinannya ialah 10.000 hingga 15.000 tentara Korea Utara dirotasi setiap tiga bulan,” kata Duta Besar Ukraina untuk Korea Selatan Dmytro Ponomarenko kepada Voice of America.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/23/677d2940-4faf-4c07-a0a1-869cbb900530_jpg.jpg)
Sementara itu, dalam wawancara dengan SBS TV, Penasihat Keamanan Gedung Biru─kantor kepresidenan Korea Selatan─, yakni Shin Won-sik, mengatakan bahwa Rusia memberi Korut sistem rudal permukaan ke udara sebagai ganti penurunan pasukan oleh Pyongyang. Selain itu, Rusia juga memberi Korut berbagai sistem pertahanan udara yang belum terkuak jenisnya.
Meskipun begitu, melansir media The Warzone, pakar dari Jaringan Pertahanan Korea Selatan, Lee Ill-woo menduga sistem rudal permukaan-ke-udara yang dimaksud adalah S-400. Rusia juga mengekspor persenjataan ini ke China, India, Aljazair, dan Turki. S-400 memiliki kemampuan jelajah maksimal hanya 500 kilometer, tetapi efektif untuk menghadang rudal-rudal balistik yang terbang rendah.
Sementara itu, ahli dari Pusat Kajian Strategi Nasional Korea Selatan, Kim Dae-yong, menerangkan bahwa sistem yang diberikan oleh Rusia harus cocok dengan kemampuan persenjataan Korut yang masih kuno. Pyongyang belum memiliki teknologi digital kuat untuk militer. Mayoritas persenjataan mereka masih pada taraf masa Soviet.
Selain S-400, Kim berpendapat bahwa Moskwa juga memberi Pyongyang sistem S-300 dan Pantsir. Meskipun ketinggalan zaman, kedua sistem itu masih bisa menghadang berbagai pesawat nirawak pemantau yang dioperasikan oleh Korea Selatan dan AS.
Selain itu, Rusia dikabarkan juga mengguyur Korut dengan pasokan minyak. Dukungan energi ini membuat Korut bakal mampu menggerakkan lebih kuat industri mereka, khususnya militer.
Bila hal itu yang terjadi, situasi di Semenanjung Korea masih akan tetap dibayangi ketegangan. Kondisi ini makin memperlihatkan bahwa meskipun terpisah oleh jarak, konflik di dunia saat ini sejatinya merupakan jalinan yang saling terikat.
Ancamannya akan meluruh bila eskalasi dihentikan….
(AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Bonifasius Josie Susilo H