Berhasil capai sasaran di Dnipro, Ukraina, Rusia akan luncurkan terus rudal baru Oreshnik. Rudal yang lebih cepat, akurat, dan daya jangkau hingga 5.500 kilometer.
23 Nov 2024 09:03 WIB · Internasional
Tekanan Barat dan Amerika Serikat membuat Rusia mengambil langkah tak terduga. Moskwa mengirim Oreshnik ke ”jantung” Ukraina.
Setelah Ukraina menggempur Rusia dengan tembakan ATACMs dan Storm Shadow, Moskwa ganti menghantam Ukraina dengan rudal balistik terbaru. Presiden Rusia Vladimir Putin memutuskan menggunakan Oreshnik untuk menanggapi keputusan Presiden AS Joe Biden yang mengizinkan Ukraina menggunakan rudal-rudal yang dikirim Washington untuk menyerang wilayah Rusia.
Dunia terkesiap dengan langkah Putin itu lantaran Oreshnik adalah rudal hipersonik yang mampu membawa enam hulu ledak sekaligus. Oreshnik pun mampu membawa hulu ledak konvensional ataupun hulu ledak nuklir.
Sebagai rudal hipersonik, Oreshnik diperkirakan mampu terbang dengan kecepatan 10 kali kecepatan suara dan dapat menyerang target hingga sejauh 5.500 kilometer. Ini bisa menjangkau negara-negara sekutu Ukraina di Eropa dan pantai barat Amerika Serikat.
Dalam serangan ”eksperimental” ke Dnipro, Oreshnik memperlihatkan efektivitasnya. Setelah melewati fase terminal, enam hulu ledak Oreshnik masing-masing melesat ke setiap target bak kilatan petir.
Tak ada satu pun senjata, baik rudal maupun artileri pertahanan udara, Ukraina mampu mencegat hulu ledak yang meluncur dengan kecepatan setara 24 kali kecepatan suara itu. Tak heran apabila Putin pun segera menegaskan bahwa langkah serupa akan terus dilakukan, tergantung pada situasi dan karakter ancaman keamanan terhadap Rusia. ”Kami juga akan memulai produksi serial senjata eksperimental ini,” kata Putin, Jumat (22/11/2024).
Di Rusia, Oreshnik adalah pohon hazel (Corylus avellana). Pohon itu dikenal sebagai penghasil kacang hazel yang baik untuk kesehatan. Dalam khazanah budaya Eropa, termasuk Rusia, batang pohon hazel, merujuk laman www.woodlandtrust.org.uk, dipercaya dapat melindungi diri dari roh jahat. Batang pohon tersebut dapat digunakan sebagai tongkat sihir dan jimat penangkal bahaya.
Dalam perspektif tersebut, boleh jadi rudal balistik Oreshnik adalah jimat Rusia untuk menangkal bahaya. Oreshnik sekaligus menjadi tongkat sihir yang dapat digunakan untuk menghancurkan lawan. Dalam serangan ke Dnipro, rudal tersebut mengusung hulu ledak konvensional. Namun, bayangkan jika dia diberi muatan hulu ledak nuklir, kehancuran yang dihasilkan pasti sangat luar biasa.
Putin mengatakan rudal itu bukan senjata nuklir strategis, melainkan memiliki daya serang, akurasi, dan dampak yang sebanding. Apalagi jika digunakan dalam jumlah besar dan dikombinasikan dengan rudal jarak jauh berpresisi tinggi lainnya.
Rudal Oreshnik adalah jenis rudal baru yang dikembangkan Rusia. Putin meyakini rudal barunya itu tidak dapat ditembak jatuh oleh musuh. Rudal Oreshnik ini tergolong rudal jarak menengah yang memiliki jangkauan 3.000-5.500 kilometer. Pakar keamanan mengatakan fitur baru rudal Oreshnik adalah rudal tersebut membawa beberapa hulu ledak yang mampu menyerang target yang berbeda secara bersamaan.
Kemampuan ini biasanya ada pada rudal balistik antarbenua jarak jauh yang dirancang membawa hulu ledak nuklir. Menurut Ukraina, rudal tersebut mencapai kecepatan tertinggi lebih dari 13.000 kilometer per jam dan hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk mencapai targetnya.
Pakar militer Rusia, Anatoly Matviychuk, mengatakan, rudal Oreshnik dapat membawa enam hingga delapan hulu ledak konvensional atau nuklir. Departemen Pertahanan AS mengatakan rudal yang ditembakkan Rusia ke Ukraina itu didasarkan pada rudal balistik antarbenua atau ICBM RS-26 Rubezh.
Rudal ICBM RS-26 Rubezh adalah rudal balistik berbahan bakar padat yang dapat bergerak di jalan raya dan mulai dikembangkan pada 2008. AS secara resmi menarik diri dari Perjanjian Kekuatan Nuklir Jarak Menengah (INF) 1987 dengan Rusia pada 2019 setelah menuding Rusia melanggar perjanjian tersebut.
AS mengatakan, pada waktu itu Rusia sedang mengembangkan rudal jelajah berbasis darat (dikenal sebagai 9M729 di Rusia). Rudal ini berbeda dari RS-26.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/23/d050bb4350b8aa56db25883177329128-AFP_36MZ6KP.jpg)
Kepala Pasukan Roket Strategis Rusia mengatakan, Oreshnik adalah rudal jarak menengah berbasis darat yang dibangun atas perintah Putin sejak Juli 2023. Pakar senjata Rusia, Yan Matveyev, menulis di akun Telegram bahwa dirinya tidak yakin Oreshnik dapat diproduksi massal karena harganya yang sangat mahal dan prosesnya yang tak mudah.
BBC News menyebutkan kecepatan rudal itu penting karena, semakin cepat rudal melaju, semakin cepat pula rudal mencapai sasaran. Semakin cepat mencapai sasaran, semakin sedikit waktu yang dimiliki militer atau negara sasaran untuk bereaksi.
Rudal balistik umumnya mampu mencapai sasaran dengan mengikuti lintasan melengkung ke atas lalu menukik ke bawah menuju sasaran. Saat rudal menukik turun itu kecepatannya bertambah dan mendapat energi kinetik.
Ini memungkinkan rudal untuk bermanuver ke sasaran yang membuat susah ditahan oleh sistem rudal permukaan-ke-udara (seperti sistem rudal pertahanan Patriot buatan AS yang digunakan Ukraina).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/22/6a27bc77-d69b-42d9-8660-375b6e426c9b.png)
Faktor kecepatan ini yang mungkin ditekankan Putin pada rudal barunya. Pasalnya, selama ini sekitar 80 persen rudal yang ditembakkan Rusia berhasil dicegat Ukraina. Pakar militer Rusia, Ilya Kramnik, kepada harian pro-Kremlin, Izvestiya, memperkirakan rudal Oreshnik adalah versi yang diperkecil dari rudal ICBM, Yars-M.
Menurut pakar militer lain, Dmitry Kornev, Oreshnik dapat dibuat berdasarkan rudal jarak pendek, Islander, yang umum digunakan di Ukraina, tetapi dengan mesin generasi baru. Islander dengan mesin yang diperbesar pernah dipakai di lokasi uji Kapustin Yar, Rusia.
Analis militer, Vladislav Shurygin, juga memperkirakan Oreshnik mampu menembus sistem pertahanan rudal modern apa pun yang tercanggih saat ini. Rudal Oreshnik dapat menghancurkan bunker yang terlindungi dengan baik di kedalaman yang sangat dalam tanpa menggunakan hulu ledak nuklir. Namun, pernyataan ini belum terbukti karena tidak ada bunker yang diserang di Dnipro, Ukraina.
AS mampu mendeteksi, melacak, dan mengidentifikasi peluncuran rudal balistik, seperti rudal Rusia yang ditembakkan ke Ukraina, dengan bantuan sensor yang digunakan sejak Perang Dingin. Sensor buatan era Perang Dingin itu disempurnakan selama bertahun-tahun dan menjadi jaringan global tak kenal lelah.
Angkatan Luar Angkasa AS atau Space Force yang mengoperasikan sensor itu memanfaatkan enam satelit Lockheed Martin dan Northrop Grumman atau SBIRS sebagai sistem inframerah berbasis ruang angkasa. Mereka berada di orbit geostasioner di sekitar bumi untuk mencari tanda-tanda adanya peluncuran rudal.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/12/19/b8e4ba7a-bf41-4eaf-9fd8-185c00c47837_jpg.jpg)
AS menggunakan berbagai sensor yang mampu mendeteksi penembakan rudal balistik di mana saja di dunia ini dalam hitungan detik. Mulai dari rudal kecil yang tidak canggih seperti Scud hingga ICBM. Peneliti tamu di lembaga kajian Henry L Stimson Center, William Alberque, menjelaskan, memproses data dengan kecepatan sangat tinggi ini penting karena akan bisa tahu lebih banyak apa saja yang diluncurkan.
Sensor bisa mengidentifikasi rudal dari motor roket. ”Motor roket menghasilkan gas buang yang berbeda dengan suhu yang bervariasi berdasarkan bahan bakar dan faktor desain lainnya. Tanda-tanda ini yang dapat dengan cepat mengidentifikasi rudal,” ujarnya.
Untuk membantu satelit, ada juga sensor berbasis darat yang mencakup radar peringatan dini di AS, Kanada, dan Inggris. Bersama dengan satelit, sistem ini dapat menentukan jenis rudal, sudut peluncuran, azimut, titik puncak, kecepatan, ukuran, dan titik pendaratan.
Selain Space Force, ada banyak organisasi Pemerintah AS lainnya yang terlibat, termasuk Badan Intelijen Geospasial Nasional, Komando Strategis AS, dan Badan Pertahanan Rudal. Jika ada ancaman dari rudal yang lebih kecil dan jarak pendek, sistem peringatan dininya dapat diotomatisasi karena tidak mengancam AS atau sekutunya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/02/28/fd8e9ec7-c57e-49e3-ac01-02f8eaf0d4f1.jpg)
Namun, untuk ancaman yang lebih serius, seperti rudal jarak jauh, dibutuhkan analisis dan pengambilan keputusan oleh manusia. Dalam kasus serangan Rusia terhadap Ukraina di Kota Dnipro, kata Alberque, tidak ada kekhawatiran tentang serangan nuklir karena tidak ada tanda-tanda hulu ledak dipindahkan, penyiagaan pasukan, atau keterlibatan Direktorat Utama ke-12 Kementerian Pertahanan Rusia, yang mengendalikan senjata nuklir Rusia.
Sistem peringatan dini adanya ancaman rudal ini adalah konsep yang awalnya muncul tahun 1950-an. Awalnya berfungsi untuk menemukan formasi pengebom lalu diperluas untuk mendeteksi rudal.
Sistem peringatan dini zaman dulu menggunakan radar berbasis darat yang sangat besar untuk memindai rudal. Lalu dihubungkan ke sistem pertahanan yang sering mencakup pencegat berhulu ledak nuklir.
Saat ini Space Force sedang menjalankan program senilai 15 miliar dollar AS atau sekitar Rp 240 triliun untuk membangun sistem peringatan dini yang lebih canggih. Namanya, Next Generation Overhead Persistent Infrared.
Sistem ini akan mencakup satelit geostasioner dan satelit yang mengorbit kutub yang dijadwalkan akan diluncurkan pada 2028. Satelit geostasioner yang pertama akan dikirim tahun depan. (REUTERS/AFP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra