Berikan Waktu dan Ruang untuk Janice Tjen

Janice Tjen mengangkat nama tenis Indonesia di arena profesional pada 2025. Masih banyak peluang yang bisa dicapai selangkah demi selangkah, dengan kerja keras.

29 Des 2025 12:39 WIB · Olahraga

AP

Oleh Yulia Sapthiani

Tenis Indonesia punya bintang baru di arena profesional, Janice Tjen. Pada 2025, petenis berusia 23 tahun ini mendapat banyak pengalaman pertama.

Dia tampil di arena Grand Slam dan WTA Tour, menjuarai turnamen WTA 250, dan menempati ranking 50-an dunia. Momen-momen itu didapatnya pada tahun pertama dalam persaingan WTA Tour, tepatnya sejak Agustus.

Janice menempati peringkat ke-56 dalam daftar ranking edisi terakhir 2025 yang dikeluarkan WTA pada Senin (29/12/2025). Posisinya melambung dari urutan ke-411 pada awal tahun.

Banyak momen positif yang didapatnya sepanjang tahun ini. Untuk pertama kalinya, petenis kelahiran Jakarta, 6 Mei 2002, ini tampil di arena Grand Slam, level tertinggi dalam persaingan tenis profesional. Dia bermain pada turnamen Amerika Serikat Terbuka di New York, 24 Agustus-7 September, sejak babak kualifikasi hingga pada babak kedua. Juara tunggal putri AS Terbuka 2021, Emma Raducanu, mengalahkannya.

Di arena WTA Tour, hasil terbaiknya adalah saat menjuarai tunggal dan ganda putri WTA 250 Chennai, 27 Oktober-2 November. Pada nomor ganda, Janice berpasangan dengan seniornya, Aldila Sutjiadi.

Janice menembus Grand Slam sebagai petenis peringkat ke-149 yang ditempati berkat rangkaian gelar juara dari turnamen ITF. Sirkuit ITF untuk putri, yang levelnya berada di bawah WTA Tour, terdiri dari W15, W35, W50, W75, dan W100 dari level bawah menuju yang tertinggi. Pada periode Juni 2024 hingga Agustus 2025, Janice menjuarai 13 dari 26 turnamen pada nomor tunggal.

Juni 2024 adalah momen kembalinya Janice ke tenis profesional yang dia masuki sejak 2018. Janice memilih jalur lain untuk mengasah kemampuan, yaitu melalui kompetisi tenis universitas di AS.

Janice Tjen, of Indonesia, returns a shot to Emma Raducanu, of Great Britain, during the second round of the U.S. Open tennis championships, Wednesday, Aug. 27, 2025, in New York. (AP Photo/Andres Kudacki)

Dia kuliah di University of Oregon pada 2020-2021, lalu pindah ke Pepperdine University (2021-2024). Pada 2022, Janice mengikuti tiga turnamen ITF yang berlangsung di California, negara bagian yang sama dengan tempatnya kuliah, tetapi setelah itu rehat dari persaingan profesional.

Berkat dukungan pelatih di universitas, Janice kembali ke arena profesional dengan berbagai hasil positif. Posisi terbaiknya dalam ranking dunia adalah posisi ke-53, yang ditempati pada 3 November hingga 8 Desember 2025. Janice menjadi tunggal putri kedua terbaik Indonesia setelah Yayuk Basuki yang berada di peringkat ke-19 pada 6 Oktober 1997.

Janice menjadi kebanggaan Indonesia, apalagi tak banyak petenis ”Merah Putih” yang konsisten berkiprah di arena profesional. Sebelum Janice, petenis yang aktif berkompetisi di arena profesional bisa dihitung dengan jari, di antaranya Jessy Rompies dan Beatrice Gumulya.

Aldila, yang fokus pada nomor ganda sejak 2023, menjadi yang terdepan dengan menjadi semifinalis ganda campuran di Perancis Terbuka, Wimbledon, dan AS Terbuka. Pada ganda putri, petenis berusia 30 tahun itu mencapai babak ketiga di semua Grand Slam.

Jumlah petenis putra yang rajin bertanding di ajang profesional lebih sedikit. Bisa dibilang, hanya Christopher Rungkat yang aktif.

Sebagai cabang olahraga profesional, tenis membuat atletnya harus membiayai sendiri semua kebutuhan sepanjang musim kompetisi. Tak hanya saat mengikuti turnamen, banyak kebutuhan yang harus dibiayai dalam persiapan.

Saat latihan, petenis harus menyewa lapangan dan membeli bola. Kebutuhan lain adalah makanan bergizi, vitamin, berobat ke dokter saat cedera, pelatih, dan sparring partner yang setara.

Pasangan ganda putri Indonesia, Aldila Sutjiadi/Janice Tjen, melawan wakil Filipina, Stefi Aludo/Rennielle Madis pada babak semifinal SEA Games Thailand 2025 di National Tennis Development Centre, Muang Thong Thani, Nonthaburi, Thailand, Rabu (17/12/2025) siang. Aldila/Janice menang dengan skor 6-1, 6-1.

Pada 2023, Aldila mengatakan, biaya yang dikeluarkan per tahun untuk mengikuti WTA Tour berkisar 75.000 hingga 100.000 dollar AS (Rp 1,2 miliar-Rp 1,6 miliar). Jumlah itu bisa naik dua kali lipat saat petenis didampingi pelatih dan akan lebih besar jika lebih banyak anggota tim.

Atas dasar itu, petenis Indonesia memilih jalur melalui universitas di AS untuk menempa diri. Setelah matang, barulah mereka memasuki arena profesional.

Mereka mencari universitas yang memiliki program beasiswa untuk atlet dan AS memiliki banyak universitas dengan program itu. Ini karena negara tersebut mempunyai kompetisi olahraga kompetitif, NCAA. Banyak atlet dari berbagai cabang yang terjun ke arena profesional melalui NCAA.

”Saya terbiasa ditempa tekanan ketika bertanding di tenis universitas. Itu membuat saya belajar untuk memecahkan masalah dalam posisi sulit,” kata Janice saat tampil dalam turnamen WTA 250 Chennai, India, 27 Oktober-2 November, turnamen WTA Tour terakhirnya pada 2025.

Hadapi ekspektasi tinggi

Indonesia bangga atas prestasi Janice, tetapi ini baru langkah awal bagi peraih medali emas ganda putri Asian Games Hangzhou 2022 (bersama Aldila) itu. Janice pun tak terlalu fokus pada statistik dalam awal perjalanannya di WTA Tour.

”Perjalanan saya pada tahun ini tak terduga, tetapi saya dan pelatih tidak terlalu berpikir tentang ranking dan hal-hal semacam itu. Kami hanya ingin terus berkembang, lebih baik dibandingkan periode awal kami bekerja sama,” tutur Janice dalam laman resmi WTA.

Janice dilatih Chris Bint, orang Inggris yang menjadi pelatih tenis nasional Selandia Baru. Mereka bertemu saat Janice mengikuti turnamen di Selandia Baru pada Desember 2024. Diceritakan dalam The Athletic, mereka menambahkan pelatih fisik dari Pepperdine University dan fisioterapis dari Indonesia dalam tim.

Petenis Indonesia, Janice Tjen, bersalaman dengan rekannya usai mengalahkan petenis Thailand L Tararudee pada laga final tenis beregu putri SEA Games 2025 di National Tennis Development Centre, Muang Thong Thani, Nonthaburi, Nonthaburi, Thailand, Sabtu (13/12/2025). Tim tenis beregu putri Indonesia meraih medali emas usai menang 2-1 atas tim beregu putri Thailand. Priska Madelyn Nugroho kalah melawan M Sawangkaew dengan tiga gim 2-6, 4-6. Sementara itu Janice Tjen menang dalam tiga gim 4-6, 6-4, 6-3. Pasangan Aldila Sutjiadi/Janice Tjen mengalahkan pasangan Thailand Mananchaya Sawangkaew/Peangtarn Plipuech dengan dua gim 7-5, 7-5. Kemenangan ini memastikan tim tenis beregu putri Indonesia mempertahankan gelar juara dari SEA Games Kamboja 2023.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
13-12-2025

Dalam aku Instagram-nya, Bint memuji Janice yang mau bekerja keras dan disiplin seperti yang dia minta. Kedua hal itu, ditambah dengan upaya untuk menikmati setiap momen, adalah faktor yang selalu diminta Bint dan bisa dijalankan Janice.

Tahun ini, Janice baru bisa mengikuti WTA 250, level terendah dalam WTA Tour. Dengan ranking 50-an dunia, dia punya kesempatan berkompetisi pada tingkat lebih tinggi, yaitu WTA 500 dan 1000 serta langsung masuk babak utama Grand Slam pada 2026.

Pada fase itulah, semua kemampuan yang telah mengantarkannya pada posisi saat ini akan benar-benar diuji. Janice bisa bertemu petenis elite dunia, bahkan di babak-babak awal.

Dia akan menghadapi tantangan itu dengan ekspektasi lebih tinggi, termasuk dari pihak eksternal, seperti penggemar tenis atau media. Apalagi, di era digital, setiap orang bisa berpendapat melalui media sosial, tanpa filter.

”Saya harus bekerja keras dan bisa konsisten karena saya percaya, dengan kerja keras, saya mampu mendapat hasil baik,” kata Janice untuk menghadapi ekspektasi tinggi dari orang di sekitarnya.

Dia mengatakan hal itu dalam acara bersama salah satu sponsornya, BCA, di Jakarta, pada pertengahan November. Jeda WTA Tour hingga akhir tahun digunakan untuk berlibur di Indonesia, mengikuti SEA Games Thailand 2025—Janice mendapat medali emas beregu putri dan ganda putri, dan menjalani latihan untuk menghadapi musim kompetisi 2026.

Janice bisa melihat ekspektasi orang lain dari sudut pandang positif, menjadikannya sebagai motivasi untuk terus berkembang, selangkah demi selangkah. Akan tetapi, hal itu tak semudah membalikkan telapak tangan.

Ekspektasi tinggi orang lain (dan diri sendiri) bisa memunculkan dampak negatif ketika menjadi beban. Sloane Stephens, Jelena Ostapenko, termasuk Raducanu kesulitan mempertahankan performa mereka setelah menjuarai Grand Slam. Stephens adalah juara AS Terbuka 2017, sementara Ostapenko menjuarai Perancis Terbuka pada tahun yang sama.

Stephens tak bisa mengatasi sorotan publik dan media yang cenderung punya standar sendiri, yaitu bahwa juara Grand Slam adalah petenis hebat dan ”harus” menjadi juara lagi pada turnamen-turnamen berikutnya.

Petenis Indonesia, Janice Tjen, melawan petenis Thailand L Tararudee pada laga final tenis beregu putri SEA Games 2025 di National Tennis Development Centre, Muang Thong Thani, Nonthaburi, Nonthaburi, Thailand, Sabtu (13/12/2025). Tim tenis beregu putri Indonesia meraih medali emas usai menang 2-1 atas tim beregu putri Thailand. Priska Madelyn Nugroho kalah melawan M Sawangkaew dengan tiga gim 2-6, 4-6. Sementara itu Janice Tjen menang dalam tiga gim 4-6, 6-4, 6-3. Pasangan Aldila Sutjiadi/Janice Tjen mengalahkan pasangan Thailand Mananchaya Sawangkaew/Peangtarn Plipuech dengan dua gim 7-5, 7-5. Kemenangan ini memastikan tim tenis beregu putri Indonesia mempertahankan gelar juara dari SEA Games Kamboja 2023.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
13-12-2025

Raducanu punya pengalaman berbeda. Glorifikasi media, terutama di Inggris, membuat dia lebih sibuk dengan aktivitas di luar tenis setelah menjuarai AS Terbuka 2021. Dia lebih sering menghadiri acara terkait sponsor dan mode serta berada di dunia selebritas sehingga tak punya cukup waktu untuk mengembangkan diri di lapangan tenis.

Setelah AS Terbuka 2021, hasil terbaiknya di ajang Grand Slam hanya babak ketiga di Australia Terbuka, Wimbledon, dan AS Terbuka 2025. Artinya, Raducanu lebih sering tersingkir pada dua babak awal. Atlet berusia 23 tahun itu bahkan belum mencapai final lain setelah menjadi juara di New York pada 2021.

Di tengah sorotan yang lebih besar dalam setengah tahun terakhir, Janice ”hanya” perlu fokus dan maju selangkah demi selangkah. Apalagi, dia bisa berkonsentrasi untuk meningkatkan level pada faktor teknis, fisik, dan mental karena kebutuhan terkait pencarian sponsor akan dibantu International Management Group (IMG).

Perusahaan dengan kantor pusat di New York ini bergerak dalam bidang olahraga, mode, dan media. Di dunia olahraga, salah satu perannya adalah mendampingi atlet potensial dalam mendapatkan sponsor.

Maka, ketika Janice menjalankan tugasnya untuk membawa nama Indonesia lebih baik di tenis dunia, kita hanya harus mendukungnya tanpa ekspektasi berlebihan, tanpa melebihi proses yang akan dijalani sang atlet.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti