Tiga Petenis Indonesia pada Satu Panggung di WTA Chennai

Ada tiga petenis putri Indonesia yang bertanding di WTA Chennai. Mereka adalah Aldila Sutjiadi, Janice Tjen, dan Priska Madelyn Nugroho.

31 Okt 2025 11:31 WIB · Olahraga

KOMPAS

Oleh Yulia Sapthiani

Momen langka bagi tenis Indonesia terjadi dalam turnamen profesional. Aldila Sutjiadi, tak lagi sendiri dalam menjalani persaingan WTA Tour. Dia ditemani ”adik-adiknya”, Janice Tjen dan Priska Madelyn Nugroho, di WTA Chennai, India, 27 Oktober-2 November 2025.

Setelah turnamen tertunda pada dua hari pertama karena hujan, ketiganya bermain pada hari yang sama di SDAT Tennis Stadium, Chennai, India, Kamis (30/10/2025).

Janice menjalani babak kedua tunggal putri melawan juara bertahan asal Ceko, Linda Fruhvitova, dan menang 2-6, 6-3, 6-2. Penampilannya pada set pertama disaksikan Aldila yang duduk di lapangan sambil berpayung karena cuaca panas disertai hujan rintik.

Malam harinya, Janice bermain lagi, berduet dengan Aldila yang hanya fokus pada nomor ganda. Uniknya, undian mempertemukan pasangan peraih medali perunggu ganda putri Asian Games Hangzhou 2022 ini dengan Priska yang berduet dengan petenis Rusia, Sofia Lansere. Dalam pertandingan yang berlangsung ketat pada set ketiga, Aldila/Janice menang dengan skor 2-6, 6-3, 12-10.

Priska juga bermain di nomor tunggal putri sebagai petenis lucky loser, yaitu petenis yang tersingkir pada kualifikasi tetapi akhirnya tampil pada babak utama untuk menggantikan petenis yang mengundurkan diri. Dia menjalani babak pertama tunggal putri pada Selasa, kalah dari petenis tuan rumah, Sahaja Yamalapalli, 4-6, 2-6.

Dengan demikian, pada Jumat, penggemar tenis Indonesia bisa menyaksikan penampilan Aldila dan Janice pada perempat final. Janice akan berhadapan dengan Mia Pohankova di tunggal. Setelah mendapatkan waktu istirahat yang cukup, dia dan Aldila akan berhadapan dengan pasangan India, Vaishnavi Adkar/Maaya Rajeshwaran Revathi.

Momen tampilnya tiga petenis ”Merah Putih” dalam satu turnamen WTA Tour jarang terjadi. Ini karena tak banyak atlet tenis Tanah Air yang berkompetisi di level profesional, apalagi pada level WTA Tour.

Petenis Jawa Timur Janice Tjen, berpose setelah menerima medali emas PON Aceh-Sumut 2024 di Kompleks Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, Aceh, Kamis (19/9/2024). Aldila Sutjiadi dan Janice Tjen meraih medali emas setelah mengalahkan sesama wakil Jawa Timur, Jessy Rompies dan Beatrice Gumulya. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 19-09-2024

Dalam struktur turnamen putri profesional, WTA Tour terdiri dari WTA 250, 500, dan 1000 dari level paling rendah ke tinggi. Selain itu, ada Grand Slam yang merupakan level tertinggi dan mempunyai badan tersendiri dalam penyelenggaraannya.

WTA juga memiliki Final WTA yang digelar setiap akhir musim kompetisi. Ajang ini hanya diikuti delapan wakil, masing-masing, dari tunggal dan ganda yang memiliki hasil terbaik sepanjang tahun.

Untuk petenis yang belum bisa memasuki persaingan WTA Tour karena rankingnya belum mencukupi, WTA menggelar WTA 125. Selain itu, ada turnamen profesional di bawah struktur Federasi Tenis Internasional (ITF) dengan nama World Tennis Tour (WTT) yang dibagi ke dalam beberapa level berdasarkan jumlah hadiah dan poin ranking yang diperebutkan. Peserta WTT biasanya petenis yang rankingnya lebih rendah di bawah peserta turnamen WTA.

WTA Chennai pertama kali diselenggarakan pada 2003 dengan level Tier IV. Saat itu, WTA menggunakan Tier I hingga IV untuk menentukan urutan level turnamen.

Mantan petenis nomor satu dunia yang memiliki 23 gelar juara Grand Slam, Serena Williams, menjadi juara pada 2008 sebelum turnamen tersebut tidak digelar pada 2009-2021.

Saat diselenggarakan kembali pada 2022, WTA Chennai berstatus sebagai WTA 250, level terendah dalam WTA Tour yang dijuarai Fruhvitova.

Di antara ketiga petenis putri Indonesia yang bermain di Chennai, Aldila menjadi yang paling berpengalaman dalam persaingan WTA Tour. Dia bersaing di tenis profesional sejak 2010.

Petenis Jatim Aldila Sutjiadi dan petenis tuan rumah Priska Madelyn Nugroho berpelukan seusai berlaga di Arena Sian Soor, pada Kamis (17/10/2021). Aldila keluar sebagai pemenang dalam laga final tunggal putri PON Papua 2021 ini. .

Berdasarkan data WTA, Aldila menjalani debut WTA 250 di Chicago, Amerika Serikat, pada Agustus 2021. Dia bermain sejak kualifikasi, menembus babak utama, tetapi kalah pada babak pertama. Lebih ketatnya persaingan tunggal membuat Aldila hanya fokus pada nomor ganda sejak 2023 setelah selalu bermain di tunggal dan ganda.

Prestasi tertinggi petenis berusia 30 tahun itu adalah mencapai babak ketiga ganda putri di semua Grand Slam. Adapun di ganda campuran, Aldila mencapai semifinal Perancis Terbuka dan Wimbledon 2023, serta AS Terbuka 2024. Dia menjadi finalis Turnamen WTA Elite Trophy 2023 (berpasangan dengan Miyu Kato), level kedua dari turnamen Final WTA.

Aldila mempunyai lima gelar juara ganda WTA Tour dari sembilan final ditambah semifinalis WTA 1000 Indian Wells 2023. Dia mencapai posisi terbaiknya dalam ranking dunia ganda pada tahun tersebut, dengan menempati peringkat ke-26.

Priska, yang menjadi juara ganda putri yunior Australia Terbuka 2020 (bersama Alexandra Eala/Filipina), bukan kali ini saja tampil di WTA Tour. Dia bermain di WTA 250 Jiujiang pada November 2024, kalah pada babak pertama setelah bermain sejak fase kualifikasi.

Namun, mendapat kesempatan secara konsisten untuk tampil di WTA Tour bukan hal yang mudah karena membutuhkan posisi sebaik mungkin dalam ranking. Oleh karena masih sulit menembus persaingan WTA Tour, Priska menempa diri pada rangkaian WTT dan sesekali di WTA 125. Priska memiliki 10 gelar juara tunggal putri dan 15 ganda putri turnamen ITF.

Dua pekan sebelum bermain di Chennai, Priska bermain di WTA 125 Jinan yang juga diikuti Janice. Priska mencapai semifinal, sementara Janice menjadi juara.

Petenis andalan Papua Priska Madelyn Nugroho saat menjalani partai semifinal PON Papua 2021 di Arena Sian Soor, pada Rabu (6/10/2021). Priska menang mudah atas petenis veteran Jatim Jessy Rompies, 6-3, 6-2.

Jalur universitas

Bagi Janice, WTA Chennai menjadi bagian dari pencarian pengalaman sebanyak mungkin dalam turnamen WTA Tour setelah naik level dari turnamen WTT dan tenis universitas. Seperti Aldila dan Priska, Janice mencari pengalaman bertanding dari universitas di AS.

Menjadi petenis melalui jalan kuliah di AS menjadi pilihan bagi petenis-petenis Indonesia yang ingin mengembangkan diri. Ini menjadi opsi karena untuk terjun langsung di arena profesional tak hanya membutuhkan kemampuan level tinggi, tetapi juga modal besar.

Mengikuti kompetisi olahraga profesional berarti harus bisa membiayai sendiri semua kebutuhan, seperti menyewa lapangan untuk latihan, mencari pelatih/rekan latih tanding, dan mengikuti turnamen di berbagai negara. Ini belum termasuk kebutuhan terkait pemenuhan gizi dan saat cedera.

Kuliah di AS menjadi pilihan karena negara ini mempunya kompetisi solid untuk calon-calon atlet. Di tingkat universitas terdapat kompetisi olahraga bergengsi, NCAA, yang juga menjadi tempat petenis putri Indonesia menempa diri. Setelah itu, barulah mereka memilih jalan ke level yang lebih tinggi.

Janice diberi motivasi oleh pelatihnya di Universitas Pepperdine, juga, oleh Aldila untuk mencoba kembali persaingan profesional yang ditinggalkan saat kuliah. Dia kembali ke turnamen profesional sejak Juni 2024 setelah 20 bulan absen.

”Pengalaman saya bermain di tenis universitas membantu saya mengatasi kesulitan pada level ini, termasuk pada pertandingan seperti tadi. Saya pernah mengalaminya saat di universitas,” kata Janice seusai mengalahkan Fruhvitova dalam wawancara dengan WTA.

Ketika berhadapan dengan Fruhvitova, Janice tertinggal 0-2 pada set kedua dan ketiga setelah kehilangan set pertama. Dia bangkit dengan tiga kali mematahkan servis lawan pada kedua set itu.

Quote

Senang banget bisa ada atlet Indonesia lainnya. Ada teman yang bisa diajak ’ngomong’ bahasa Indonesia. Ketika lebih banyak atlet Indonesia di WTA Tour, tentu akan lebih seru dan menyenangkan. (Aldila Sutjiadi)

Janice Tjen, of Indonesia, returns a shot to Emma Raducanu, of Great Britain, during the second round of the U.S. Open tennis championships, Wednesday, Aug. 27, 2025, in New York. (AP Photo/Andres Kudacki)

”Sebenarnya, dalam skor berapa pun, saya selalu berjuang. Terima kasih kepada pelatih yang selalu mendukung. Senang rasanya bisa memenangi pertandingan dalam situasi yang cukup sulit,” kata Janice.

Petenis berusia 23 tahun itu naik level dari turnamen WTT melalui jalur Grand Slam. Sebanyak 13 gelar juara dari 15 final turnamen WTT menaikkan peringkat dan mengantarkan Janice bermain di AS Terbuka melalui jalur kualifikasi. Dia menembus babak utama meski kalah pada babak kedua dari Emma Raducanu.

Setelah momen itu, Janice menambah daftar pengalaman baru. Dia mencapai final WTA Sao Paulo, turnamen pertamanya di WTA 250.

Pengalaman pertama lainnya adalah saat tampil di WTA 1000 Beijing. Janice bermain sejak kualifikasi, tetapi kalah pada babak pertama.

Sebenarnya, bukan kali ini saja tiga petenis putri Indonesia atau setidaknya dua petenis di antara mereka mengikuti turnamen yang sama. Namun, kehadiran tiga atlet ”Merah Putih” di Chennai menjadi yang pertama dalam WTA Tour di luar negeri. Selain WTA 125 Jinan, turnamen lain, yaitu WTA 125 Suzhou, 29 September-5 Oktober, diikuti Aldila dan Janice. Mereka menjuarai ganda putri.

Sebelum Janice, Aldila, dan Priska tampil di Chennai, momen berkumpulnya petenis Indonesia dalam satu turnamen WTA Tour terakhir kali terjadi di WTA Bali 2008. Saat itu, ada Sandy Gumulya, Ayu Fani Damayanti, dan Lavinia Tananta yang bersaing di nomor tunggal. Tahun tersebut menjadi tahun terakhir penyelenggaraan WTA Bali pada level Tier III atau setara dengan WTA 250 pada saat ini.

Cukup banyak petenis Indonesia yang mendapat kesempatan tampil di WTA Bali, baik karena lolos berdasarkan peringkat, bermain sejak kualifikasi, maupun karena mendapatkan wildcard sebagai petenis tuan rumah. Pada 2006, terdapat delapan petenis tuan rumah yang bermain di nomor tunggal dan ganda. Mereka di antaranya Yayuk Basuki, Angelique Widjaja, Ayu, dan Sandy.

Petenis Jawa Timur, Aldila Sutjiadi (kanan) dan Janice Tjen, meninggalkan arena pertandingan setelah mengalahkan sesama wakil Jawa Timur, Jessy Rompies dan Beatrice Gumulya, pada final tenis nomor ganda putri PON Aceh-Sumut 2024 di Kompleks Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, Aceh, Kamis (19/9/2024). Aldila dan Janice mengalahkan Jessy dan Beatrice dengan poin 7-6, 6-4. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 19-09-2024

Ketika Indonesia tak lagi memiliki turnamen WTA Tour, petenis Tanah Air menentukan agenda dengan memilih turnamen di luar negeri. Di sisi lain, tak banyak petenis Indonesia yang mau dan bisa tampil dalam persaingan profesional dengan beragam kendala.

Maka, Aldila pun menyambut gembira kehadiran Janice dan Priska di WTA Tour. ”Senang banget bisa ada atlet Indonesia lainnya. Ada teman yang bisa diajak ngomong bahasa Indonesia. Ketika lebih banyak atlet Indonesia di WTA Tour, tentu akan lebih seru dan menyenangkan,” kata Aldila setelah menjuarai WTA 125 Suzhou bersama Janice.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari