Kampanye media sosial, teknologi pelacakan kapal, desain situs web yang cerdas, dan koordinasi akar rumput yang baik jadi kunci ”keberhasilan” armada GSF.
06 Okt 2025 07:00 WIB · Internasional
Berakhir sudah perjalanan misi ketiga armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla atau GSF setelah dicegat kapal militer Israel. Tentara Israel naik ke kapal-kapal para aktivis dan menahan para aktivis berikut kapalnya. Tak lama berselang, para pendukung GSF dan pro-Gaza di sejumlah negara protes dan turun ke jalan.
Demonstrasi terjadi di sejumlah kota di Eropa, bahkan hingga Argentina, Meksiko, dan Pakistan. Gelombang protes kembali terjadi di sejumlah kota besar dunia pada Sabtu (4/10/2025) malam, menandai meningkatnya solidaritas global terhadap misi GSF.
Di Roma, ribuan demonstran memenuhi Piazza Venezia, melanjutkan aksi yang sudah berlangsung empat hari berturut-turut. Di Barcelona dan Madrid, massa membawa bendera Palestina dan spanduk bertuliskan ”End the Siege”, menyerukan penghentian blokade dan serangan terhadap Gaza.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/05/601b14aa0082b2644fc4d3419eb8627c-APTOPIX_Spain_Gaza_Flotilla_Protest.jpeg)
Sementara di London, polisi menahan hampir 500 orang dalam aksi besar yang digelar kelompok Palestine Action setelah Pemerintah Inggris melarang organisasi itu.
Kritikan dari para politisi dan pemimpin juga datang dari Kolombia hingga Malaysia. Apalagi, setelah PBB juga mengecam pencegatan GSF yang dianggap bentuk pelanggaran hukum internasional oleh Israel.
Israel tidak berhak menghalangi GSF karena armada GSF berlayar memasuki perairan Palestina, bukan perairan Israel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/02/d8bf4485-cd21-4284-9390-cd67bcb65352_jpg.jpg)
Cepatnya informasi terbaru yang beredar dan memicu reaksi seragam itu bisa terjadi berkat GSF yang mengirimkan informasi terbaru secara berkala melalui akun-akun media sosial, antara lain, di platform X, Telegram, dan Instagram. Bahkan, konferensi pers dengan para aktivis di atas kapal juga sering dilakukan melalui Zoom.
Segera setelah tentara Israel bersenjata naik ke kapal GSF, Rabu (1/10/2025) malam, dua pengembang web di Glasgow, Skotlandia, Malcolm dan Daniel Powers, bergegas melacak kapal-kapal tersebut. Jutaan warganet di seluruh dunia terus memantau perkembangan aktivitas para aktivis.
Saat rekaman buram dari kamera di kapal menyiarkan langsung pencegatan tersebut di situs web GSF, para pengembangnya memperbarui status kapal secara langsung dan mengunggah rekaman video pendek dari setiap kapal.
Begitu tayang, penonton videonya melonjak dengan jumlah klik mencapai rekor. Ada 2,5 juta kunjungan pada Rabu dan 3,5 juta pada Kamis. Studio desain dan pengembangan perangkat lunak yang membantu melacak kapal-kapal GSF atas nama penyelenggara, Rectangle, saja belum pernah melihat jumlah klik sebanyak itu di situs web mana pun yang pernah mereka buat.
Kapal-kapal GSF dilengkapi peralatan yang memungkinkan dilakukan siaran langsung dengan perangkat pelacakan kapal yang canggih.
Malcom dan Powers berkolaborasi dengan kelompok riset Arsitektur Forensik di London untuk mengoperasikan pelacakan kapal. Perangkat telekomunikasi Garmin dan ponsel juga disiapkan jika metode lain gagal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/05/d2e907b3ef344234fe39c7e9ab8b6de0-wires_photo_25.jpg)
Kamera-kamera yang dipasang di kapal memungkinkan siapa saja melihat secara langsung segala yang terjadi di kapal. Termasuk saat para aktivis duduk mengenakan rompi pelampung kala tentara Israel naik ke kapal. Malcom menilai, banyaknya jumlah netizen yang menonton menunjukkan antusiasme dan penasaran yang tinggi untuk melihat apakah armada GSF bisa sampai tujuan.
Armada GSF terdiri dari sekitar 40 kapal sipil yang membawa sekitar 500 orang. Mereka terdiri dari anggota parlemen, pengacara, dan aktivis dari sejumlah negara. Salah satunya, aktivis iklim Swedia, Greta Thunberg.
Armada ini memang gagal mencapai Gaza. Tetapi, hanya dalam 10 hari, armada GSF muncul sebagai kelompok oposisi paling menonjol terhadap blokade Israel.
Misi ini mendapatkan perhatian dan dukungan yang besar berkat kampanye media sosial yang canggih, teknologi pelacakan kapal yang mutakhir, desain situs web yang cerdas, dan pengorganisasian akar rumput yang baik. Misi ini kemudian mendorong gerakan global untuk mencabut blokade.
Dampak budayanya mulai terlihat. Bukan hanya armada itu sendiri, melainkan mereka juga membuat perbedaan.
Sejak awal, GSF mendapat dukungan besar. Ketika mengirimkan undangan kepada masyarakat untuk berpartisipasi, mereka menerima 20.000 aplikasi.
Di seluruh Eropa, misi-misi kemanusiaan bersiap. Di Italia, misalnya, sebuah badan amal bernama Music 4 Peace mulai mengumpulkan sumbangan bantuan dengan target 40 ton. Dalam lima hari saja, mereka berhasil terkumpul sekitar 500 ton.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/05/12f05c17f1b2efcae9df6cfd36ecbec4-wires_photo_26.jpg)
Para organisator lokal Italia menjalin hubungan dengan serikat pekerja, yang mendukung GSF dengan melakukan pemogokan dan aksi di sejumlah pelabuhan. Kontingen Yunani mendatangkan 25 perahu dari seluruh Eropa. Ketika mereka meminta sumbangan, mereka menerima lebih dari yang dapat mereka angkut.
Koneksi akar rumput GSF membuahkan hasil pada hari Rabu. Beberapa jam setelah pencegatan Israel, orang-orang turun ke jalan untuk memprotes. Serikat pekerja menyerukan pemogokan umum pada 3 Oktober. Gerakan ini dipecah menjadi beberapa negara, masing-masing dengan juru bicara sendiri-sendiri.
Delegasi GSF dari Italia, Maria Elena Delia, menjelaskan, keberhasilan protes ini berawal dari fakta bahwa setiap wilayah bekerja dengan cermat di wilayah mereka. Struktur gerakan ini terbukti berhasil.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/02/c460cc0fda37b14f5a9dd3fff30c78e6-20251002_H01_KID_Armada_GSF_Gaza_mumed.jpg)
Guru Besar Perubahan Digital dan Sosial di St George, Universitas London, Dan Mercea, kepada kantor berita Reuters, menjelaskan, armada GSF diuntungkan dari pergeseran politik pada isu Gaza sejak Juni lalu.
Semakin banyak negara mengakui negara Palestina sebagai reaksi atas serangan Israel, termasuk Perancis dan Inggris. GSF punya andil besar. ”Dampak budayanya mulai terlihat. Bukan hanya armada itu sendiri, melainkan mereka juga membuat perbedaan,” ujarnya.
Meski gagal berlabuh di Gaza, misi GSF itu mencapai tujuan yang menjadi motivasi dan misi GSF itu sesungguhnya, yaitu mendobrak blokade Israel.
(Reuters)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Irene SarwindaningrumPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto