Kapal Terakhir GSF Ditangkap Militer Israel

Untuk ketiga kalinya, armada GSF gagal mencapai Gaza. Militer Israel mencegat GSF di perairan internasional.

03 Okt 2025 20:00 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

GAZA, JUMAT — Kapal terakhir dalam armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla atau GSF akhirnya dicegat oleh kapal militer Israel. Gara-gara kejadian itu, misi ketiga GSF mengantar bantuan sosial untuk warga Jalur Gaza di Palestina pun gagal.

Kabar pencegatan kapal bernama Marinette itu disebarkan oleh GSF melalui akun-akun media sosial mereka pada Jumat (3/10/2025) sore. ”Marinette dicegat pukul 10.29 waktu lokal pada jarak 42,5 mil laut dari pesisir Gaza,” demikian bunyi keterangan GSF.

Pekan lalu, sebanyak 46 kapal GSF berlayar menuju Gaza. Mereka membawa bantuan makanan, obat-obatan, dan alat kesehatan untuk warga sipil Gaza. Armada itu berusaha menembus zona perang yang jaraknya dimulai sejak 150 mil laut dari pesisir Gaza.

Pengunjuk rasa menyalakan suar saat protes mendukung misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla di Bologna, Italia, Kamis (2/10/2025).

Pada Rabu (1/10/2025), kapal-kapal militer Israel mencegat armada GSF itu. Akan tetapi, menurut GSF, hanya 13 kapal yang ditahan oleh Israel. Sisanya berhasil meloloskan diri dari barikade kapal Israel dan melanjutkan pelayaran menuju Gaza.

Sampai Kamis (2/10/2025), GSF masih mengabarkan bahwa kapal-kapal itu berlayar. Baru pada Jumat keluar pernyataan bahwa akhirnya kapal-kapal yang tersisa pun diintervensi oleh Israel.

”Kami tidak menyerah. Ini bukan misi terakhir kami. GSF akan terus berusaha menyalurkan bantuan untuk warga Palestina,” kata organisasi tersebut.

Belum ada tanggapan dari militer Israel mengenai penangkapan Marinette. Surat kabar Israel yang beraliran kiri, Haaretz, melaporkan, sebanyak 200 pegiat GSF yang ditangkap militer pada Rabu dibawa ke Penjata Ktzi’ot di Negev.

Di antara para pegiat itu ada Greta Thunberg, pejuang lingkungan. Ada pula Mandla Mandela, cucu dari tokoh kebebasan Afrika Selatan, Nelson Mandela. Menurut Haaretz, para pegiat itu akan diproses untuk dideportasi.

Ini berarti deportasi ketiga bagi Thunberg. Misinya bersama GSF pada Juni dan Juli juga gagal karena armada GSF dicegat oleh militer Israel.

Quote

Kami tidak menyerah. Ini bukan misi terakhir kami. GSF akan terus berusaha menyalurkan bantuan untuk warga Palestina.

Pelapor Khusus Palestina untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Fancesca Albanese, mengecam pencegatan GSF. PBB mengatakan, tindakan militer Israel melanggar hukum internasional. ”Armada GSF berlayar memasuki perairan Palestina, bukan perairan Israel. Israel tidak berhak menghalangi,” ujarnya dalam jumpa pers yang disiarkan di kanal resmi PBB. 

Cerita para pegiat

Yacine Haffaff, dokter dari Perancis yang berada di salah satu kapal GSF, menceritakan, kapal-kapal angkatan laut Israel menembaki mereka dengan meriam air. Militer Israel juga membunyikan sirene yang suaranya memekakkan telinga. 

Kejadian pencegatan kapal yang ditumpangi Haffaff adalah pada malam hari. Kapal Israel menyoroti mereka dengan lampu yang sangat menyilaukan. 

”Kami semua mengangkat tangan, menunjukkan bahwa kami warga sipil yang tidak bersenjata. Tentara kemudian memaksa kami mengubah tujuan mengikuti kapal Israel,” kata Haffaff kepada Radio France Internationale. Ia kini dalam proses akan dideportasi.

Sementara itu, di Sisilia, Italia, dua pegiat dari Indonesia, Wanda Hamidah dan Muhammad Fatur Rohman, masih mencari kapal untuk bisa ditumpangi ke Gaza. Sepuluh kapal armada GSF, termasuk yang awalnya dinaiki Wanda dan Fatur, terpaksa merapat di Sisilia karena ada persoalan teknis.

Pegiat dari Indonesia Wanda Hamidah (berjaket merah) bersama para pegiat lintas negara di atas kapal yang merupakan bagian Global Sumud Flotilla untuk mengantar bantuan ke Jalur Gaza, Palestina. Mereka kini bersandar di Sisilia, Italia, Kamis (2/10/2025).

Wanda ketika dihubungi dari Jakarta pada Kamis (2/10/2025) malam mengatakan, ada kemungkinan ia akan kembali ke Indonesia dalam waktu dekat. ”Saya akan mencari strategi baru untuk ikut GSF. Tampaknya, tim dari Indonesia nantinya memang harus mempunyai kapal sendiri supaya tidak serabutan menumpang kapal dari negara lain,” katanya.

Kecaman kepada pemerintah dan militer Israel diutarakan oleh berbagai negara, termasuk Indonesia. Pemerintah Turki berjanji melakukan penyelidikan internasional terhadap perbuatan Israel itu.

Kejaksaan Agung Turki mengatakan, ada 24 warga Turki yang ikut rombongan GSF dan ditahan oleh Israel. Ankara akan melakukan penyelidikan berbasis hukum laut internasional.

Warga lokal memancing

Sementara itu, di media sosial, beredar video sejumlah warga di pesisir Gaza memancing di pantai. Video itu lalu disebarkan oleh harian The Independent dari Inggris. Warga memanfaatkan celah di tengah kesibukan Angkatan Laut Israel mencegat armada GSF untuk memancing demi memperoleh makan tambahan.

Warga Gaza mengalami bencana kelaparan akut. PBB menuduh Israel secara sistematis menghalangi masuknya bantuan sosial ke Palestina. Tel Aviv menggunakan kelaparan sebagai senjata perang.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sebelumnya mengecam Israel karena melarang nelayan Gaza mencari ikan. Hukum perang tidak pernah melarang warga lokal mencari nafkah, terutama hal mendasar seperti mencari makan untuk diri sendiri dan keluarga.

Pada saat yang sama, di daratan Gaza, militer Israel kembali menggempur. Sebanyak 57 orang tewas akibatnya. Menurut Rumah Sakit Nasser di Gaza bagian selatan yang menangani jasad para korban, 14 orang yang tewas itu meregang nyawa di wilayah tempat pembagian bantuan sosial oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF).

Yayasan ini milik Israel yang dikelola bersama kontraktor dari Amerika Serikat. Cara mereka menyalurkan bantuan dikritik oleh PBB dan berbagai lembaga internasional karena malah membahayakan warga. Tentara Israel kerap menembaki warga yang berusaha mengakses bantuan dari GHF dengan dalih mencegah kerusuhan.

Infografik Rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri
perang di Jalur Gaza, 29 September 2025

Tidak hanya di Gaza yang menuai kekerasan, genosida tersebut turut berdampak di negara-negara lain. Tindakan Islamofobia ataupun antisemit meningkat, terutama di Barat. Baru-baru ini, di Inggris, terjadi penembakan di Sinagoga oleh seorang ekstremis pro-Palestina. 

Sementara itu, Hamas mengatakan mereka masih merundingkan proposal perdamaian dari Presiden AS Donald Trump. Salah satu isi dari 20 poin proposal itu ialah Hamas harus meletakkan senjata dan tidak terlibat dalam pemerintahan Palestina.

Qatar dan Mesir selaku mediator mendesak Hamas mematuhi proposal itu dan membebaskan 48 sandera yang mereka tawan. Semakin cepat hal itu terjadi, semakin cepat gencatan senjata bisa diwujudkan. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto