Akibat pertumbuhan pesat jumlah ajang lari di Indonesia, para pelari semakin sulit memilih ajang yang tepat. Faktanya, banyak ajang yang digelar di bawah standar.
04 Jan 2025 08:00 WIB · Olahraga
Jika dikumpulkan, cerita para pelari Indonesia tentang pengalaman ajang lari yang buruk selama 2024 mungkin bisa menjadi buku berseri. Selalu ada keluhan baru, nyaris di setiap pekan. Mulai dari problem manajemen keramaian, sterilisasi jalur, sampai jarak rute yang tidak sesuai dengan standar.
Wajar saja jika banyak kekecewaaan. Ajang lari semakin banyak pada 2024, baik berstatus lomba maupun fun run. Berdasarkan data situs Lariku.info, terdapat 229 ajang lari jalan raya sepanjang tahun lalu. Tidak termasuk ajang virtual dan trail. Artinya, rerata ada sekitar dua ajang dalam setiap tiga hari.
Banyak ajang yang diselenggarakan dengan serius, tetapi tak sedikit yang hanya sekadar aji mumpung. Pertumbuhan ajang tidak sejalan dengan ketersediaan race management yang berkualitas. Alhasil beberapa ajang dijalankan dengan penyelenggara yang tidak punya keahlian di bidang lari.
Banyak ’event organizer’ yang biasa mengerjakan aktivasi atau musik melirik dunia lari karena permintaan klien. Mereka belum tahu mulai dari mana. Banyak yang menjalankan sendiri tanpa referensi sehingga yang jadi korban dari sisi konsumen.
”Banyak event organizer yang biasa mengerjakan aktivasi atau musik melirik dunia lari karena permintaan klien. Mereka belum tahu mulai dari mana. Banyak yang menjalankan sendiri tanpa referensi sehingga yang jadi korban dari sisi konsumen,” kata Andreas Kansil, direktur dari race management Pandara Sports.
Salah satu ajang di Pulau Sulawesi, contohnya. Terdapat lomba pada akhir tahun lalu yang dibuat oleh penyelenggara acara spesialis pernikahan. Hasilnya seperti dugaan, berjalan kurang baik. Para pelari terpaksa menempuh jarak sekitar 1 kilometer lebih jauh dari seharusnya.
Saat bersamaan, tak semua pelari bisa mengidentifikasi dan memilih ajang yang tepat. Masalahnya, selain pengalaman dan cerita ”mulut ke mulut”, belum ada cara khusus melihat kualitas sebuah ajang. Terutama untuk ajang baru. Mereka pun sering kali hanya ”tebak-tebak buah manggis”.
Direktur dari race management IdeaRun, Safrita Aryana, sependapat. ”Pelari kita (di Indonesia) ada yang sudah bisa menentukan lomba sesuai dengan kebiasaan dan keinginan lari dia, tetapi hanya sekitar 30-40 persen. Sisanya pelari pemula dan ikut karena FOMO (takut ketinggalan tren),” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/30/14d5eb5269c1366f29eb917632c605e9-IMG_20241218_202813_1_1_.png)
Safrita, direktur lomba bersertifikat Road Runners Club of America, sudah menyelenggarakan banyak ajang lari, seperti Jakarta Half Marathon dan One Run 10K. Dia memberikan beberapa tips agar para pelari tidak salah untuk menentukan ajang pada 2025.
Baginya, faktor terpenting adalah kualitas lomba. Karena itu, para calon peserta juga mesti melihat fasilitas lari yang ditawarkan penyelenggara. Jangan sampai memilih ajang tertentu hanya karena berbagai gimik, seperti iming-iming paket lomba yang banyak isi.
”Di 2024 ada tren baru. Banyak lomba menawarkan isian goodie bag yang banyak. Daripada melihat itu, lebih baik kita fokus agar bisa aman saat berlari. Jadi, harus diperhatikan bagaimana kesiapan untuk water station, marshall, dan pengelolaan peserta,” kata Safrita.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/29/2408e35d-e5a8-45d3-88a9-8054071cdd92_jpg.jpg)
Penilaian paling mudah bisa dilakukan dari media sosial. Calon peserta hanya perlu melihat rekam jejak penyelenggaraan lewat akun media sosial ajang tersebut. Jika ajang baru pertama kali digelar, mereka bisa meninjau dari kualifikasi direktur lomba ataupun race management.
Menurut Safrita, semua bisa dipantau di media sosial. ”Kalau sudah ada komentar negatif atau komentar dibatasi, jangan diikutin. Pasti punya isu. Follower palsu juga bisa jadi penanda. Kan bisa diperiksa dengan mudah sekarang. Kalau banyak yang palsu, lebih baik jangan,” pungkasnya.
Tips lain diberikan dari Tim Event Kompas yang sudah menyelenggarakan berbagai ajang besar pada tahun lalu, antara lain Borobudur Marathon dan Semarang 10K. Wakil Manajer Umum Event Kompas Budhi Sarwiadi mengatakan, ”lampu hijau” dari federasi bisa menjadi tolak ukur.
Bank Jateng Borobudur Marathon 2024, misalnya. Lomba itu sudah mendapatkan predikat Label dari World Athletic (federasi atletik dunia). Artinya, lomba sudah berstandar dunia. Setiap tahun akan ada delegasi teknis dari federasi yang datang untuk memastikan standar lomba.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/30/8ac5a234bb039fba6a568b32a3faa69b-Grafis_Maraton.png)
Di Indonesia, ada dua ajang lain yang sudah masuk kalender World Athletic, yaitu Maybank Marathon dan BTN Jakarta International Marathon. Menurut Budhi, jika belum mendapatkan status itu, pengakuan dari Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) juga sudah cukup.
”Kalau lomba itu sudah ada kerja sama, minimal dengan PB PASI, bisa dikatakan akan berlangsung sesuai standar. Juga kalau ada pemecahan rekor, itu bisa diakui. (Jika sudah sesuai standar) sisanya semua tergantung pelari, ingin lari untuk apa dan mencari karakter lomba seperti apa,” kata Budhi.
Jika pelari ingin lebih serius, lomba adalah pilihan tepat. Aspek selanjutnya adalah target pribadi. Ajang-ajang di Indonesia memiliki ciri khas berbeda. Jika ingin tantangan lebih dengan rute yang memiliki kenaikan elevasi cukup tinggi, Borobudur Marathon dan Maybank Marathon bisa jadi opsi.
Seandainya menargetkan perbaikan catatan waktu, ajang-ajang dengan rute jalan perkotaan, seperti Jakarta Running Fest (JRF), sangat cocok. Hanya saja, pelari perlu memperhatikan lagi peraturan lomba. Di JRF, misalnya, waktu cut off time hanya 5 jam atau yang tercepat dibandingkan dengan ajang maraton lain.
Terakhir dan tidak kalah penting adalah soal fasilitas kesehatan. Andi Kurniawan, dokter spesialis kedokteran olahraga dari Sport Medicine Injury and Recovery Center (SMIRC) RS Pondok Indah-Bintaro Jaya, berharap para pelari peka dengan aspek tersebut saat memilih lomba.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/23/15d12c2c-80ec-449c-952c-c884cbd09840_jpg.jpg)
”Pengalaman saya sepanjang 2024, pelari kita sedang tidak baik-baik saja. Saya menjadi koordinator medis di beberapa ajang, banyak yang cedera dan heat stroke. Banyak sekali yang hanya asal-asalan ikut lari tanpa persiapan. Artinya, mereka belum sadar tentang tujuan lari dan pentingnya kesehatan,” kata Andi.
Risiko lari, menurut Andi, cukup besar. Tidak sedikit peserta yang meninggal saat sedang dalam perlombaan. Di ajang besar dengan standar medis terbaik saja masih bisa kecolongan. Apalagi dengan ajang-ajang yang tidak memenuhi standar tersebut. ”Lari itu untuk sehat,” tegas Andi.
Dengan industri lari yang terus bertumbuh, ajang lari pasti semakin menjamur pada tahun ini. Semakin banyak yang baik atau buruk? Tidak ada yang tahu. Namun, jika tidak ingin membuang uang, waktu, dan tenaga, bijaklah sebelum menentukan ajang.
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .