Bukan Maraton, Kategori Favorit Pelari Indonesia di 2024

Tren peserta maraton naik di beberapa ajang besar. Namun, pamor maraton masih kalah ketimbang kategori lain dengan jarak lebih pendek. Itu disebabkan banyak hal.

30 Des 2024 17:55 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Jika ditanya top of mind tentang lari jarak jauh, kata ”maraton” pasti menjadi hal yang paling pertama muncul di kepala. Meskipun sangat populer, kategori lari dengan jarak 42,195 kilometer itu ternyata bukan favorit para pelari Indonesia. Bahkan, masih tertinggal jauh dibandingkan dengan kategori lain.

Realitas di lapangan berbanding terbalik, setidaknya selama 2024. Kategori paling favorit justru jatuh ke jarak 10 km (10K). Itu bisa terlihat dari data enam lomba terbesar di Tanah Air. Semua lomba tersebut menggelar tiga kategori paling populer, yaitu 10K, separuh maraton, dan maraton.

Enam ajang itu adalah Bank Jateng Borobudur Marathon, BTN Jakarta International Marathon, Mandiri Jogja Marathon, Maybank Marathon (Bali), Pocari Sweat Run (Bandung), serta Wondr Jakarta Running Fest. Dalam empat dari enam lomba, peserta 10K tercatat paling banyak.

Quote

Artinya, pelari semakin ke sini semakin banyak. Kategori 5K dan 10K diminati karena banyak pelari pemula. Mereka masih secara rasional memikirkan sisi kenyamanan. Karena itu, jarak yang lebih dekat banyak peminat.

Data kategori pelari dalam enam maraton terbesar di Indonesia pada 2024.

Direktur dari race management IdeaRun Safrita Aryana tidak merasa heran. Kesimpulan itu sejalan dengan data statistik pelari yang dikumpulkan perusahaannya selama 2023 dan 2024. ”Jumlah persentase pelari dari generasi millenial dan gen Z bertambah besar,” ujarnya.

”Artinya, pelari semakin ke sini semakin banyak. Kategori 5K dan 10K diminati karena banyak pelari pemula. Mereka masih secara rasional memikirkan sisi kenyamanan. Karena itu, jarak yang lebih dekat banyak peminat,” ujar Safrita yang juga berprofesi sebagai direktur lomba.

Keikutsertaan pelari di 5K selalu bersaing ketat dengan 10K. Hanya saja, jarak 5K lebih sering diidentifikasi sebagai fun run dan bukan nomor lomba. Terbukti, hanya tiga dari enam ajang terbesar di Indonesia yang masih menyertakan kategori tersebut pada 2024.

Jika dilihat lebih dalam, peserta 10K mencapai 38,7 persen dari total 72.924 pelari yang mengikuti seluruh ajang tersebut. Persentase itu merupakan yang terbesar dibandingkan dengan kategori lain. Ajang Jakarta International Marathon menjadi penyumbang terbesar dengan 10.275 peserta di 10K.

Kilau separuh maraton

Perlawanan sengit hadir dari kategori separuh maraton (21,0975 km). Direktur dari race management Pandara Sports, Andreas Kansil, meyakini, kategori itu paling favorit saat ini. ”Bisa dilihat dari lomba yang ada HM (separuh maraton), angkanya bisa lebih tinggi dari 10K,” katanya.

Peserta separuh maraton mendominasi di Maybank Marathon (5.313 orang/49,5 persen) dan Pocari Sweat Run (4.594 orang/31,3 persen). Sementara itu, jumlah peserta separuh maraton di ajang-ajang lain mampu bersaing ketat dengan 10K.

Di Borobudur Marathon, misalnya. Peserta separuh maraton (3.792 orang) hanya kalah tipis dari 10K (4.044 orang). Menariknya, jumlah pendaftar yang tecermin dari ballot justru berkata lain. Pendaftar untuk separuh maraton mencapai sekitar 14.000 orang, saat 10K hanya sekitar 12.000 orang.

Atraksi tarian tradisional menyemarakkan dan sekaligus menyemangati para pelari yang berlomba dalam Bank Jateng Borobudur Marathon 2024 di Magelang, Jawa Tengah, Minggu (1/12/2024). Keberadaan cheering atau kelompok sorak menjadi daya tarik bagi pelari untuk mengikuti Borobudur Maratahon. KOMPAS/HERU SRI KUMORO 01-12-2024

”Jadi, dari (data beberapa tahun terakhir) memang terlihat para pelari banyak yang merangsek dari 10K ke HM. Ada juga yang berjuang ke maraton, tetapi kurva puncak di HM. Tidak semua kuat maraton, kalau HM masih mungkin dijangkau,” jelas Wakil Manajer Umum Event Kompas Budhi Sarwiadi selaku penyelenggara Borobudur Marathon.

Bagi pelari, mengikuti lomba separuh maraton jauh lebih ringan dibandingkan dengan maraton. Tidak hanya dari hitung-hitungan jarak yang berkurang setengah, tetapi juga waktu dan beban program latihan yang jauh berbeda. Adapun persiapan maraton memerlukan waktu sekitar 4-6 bulan.

Pelatih lari asal Bogor, Budiyanto Januar, saja hanya mengizinkan anak asuhnya untuk ikut satu sampai dua kali maraton per tahun. ”Kalau lebih dari itu, bahaya. Tubuh sudah capek. Tiap minggu bisa lari sampai 80 km. Ada juga program lari 21-25 km (setara HM). Jadi, ikut lomba 10K atau HM enggak problem banget. Maraton beda,” katanya.

Fakta maraton

Popularitas maraton tak sesuai dengan ekspektasi. Rerata jumlah peserta maraton di enam ajang terbesar hanya 1.597 orang atau sekitar 13 persen dari total. Maybank Marathon, lomba berstatus Elite Label dari World Athletic (WA) mencatat jumlah terbanyak dengan 2.948 peserta maraton (27,4 persen).

Di beberapa ajang lain, jumlah peserta maraton bahkan tidak menembus 1.000 pelari. Hanya ada 502 pelari maraton dari 7.528 peserta di Mandiri Jogja Marathon tahun ini. Di Jakarta International Marathon yang sudah berpredikat Label dari WA, hanya terdapat 873 peserta maraton (5,8 persen).

Safrita berkata, salah satu kendala terbesar dalam menggelar maraton di Indonesia adalah faktor suhu. Cuaca di negara tropis kurang bersahabat untuk lomba yang berlangsung hingga siang hari dengan jarak tersebut. Fakta itu menjadi pertimbangan lebih bagi pelari untuk turun di maraton.

Direktur dari race management IdeaRun, Safrita Aryana.

”Suhu Indonesia di negeri tropis itu rata-rata tidak kondusif untuk bikin maraton. Kalau idealnya itu 8-13 derajat celsius. Untuk di negara tropis 17-22 derajat celsius sudah bagus. Kita harus concern dengan suhu lebih dulu, sebelum bicara teknis,” kata Safrita yang bersertifikat race director dari Road Runners Club of America.

Berdasarkan data dari Runhood Magazine, suhu terendah dari enam lomba terbesar di Indonesia pada pukul 09.00 WIB adalah 23,8 derajat celsius (Pocari Sweat Run). Di ajang Wondr Jakarta Running Fest yang mencatat proporsi peserta terkecil dalam maraton (4,7 persen), suhu sempat mencapai 37,2 derajat celsius.

Menurut Andreas, jumlah peminat maraton di Indonesia terbilang masih sedikit. Pendaftar rerata untuk kategori itu berkisar 3.000-5.000 orang. Dengan keikutsertaan maksimal dua kali per tahun untuk setiap orang, jumlah pelari tidak akan ideal di banyak ajang maraton.

Meskipun tidak terlihat spesial dari kuantitas peserta, ada tren cukup positif di beberapa lomba, seperti Borobudur Marathon dan Maybank Marathon. Jumlah peserta maraton meningkat sekitar 500 orang di setiap ajang pada tahun ini jika dibandingkan dengan 2023.

Pelari mengguyur kepala dengan air saat berlomba dalam ajang PLN Electric Run 2024 di kawasan Gading Serpong, Tangerang, Banten, Minggu (6/10/2024). Mengusung tema "Power Up Togetherness", ajang lari ini diikuti sekitar 6.000 peserta. Para peserta PLN Electric Run 2024 berkompetisi dalam tiga kategori, yakni 21 kilometer (half marathon), 10 kilometer, dan 5 kilometer. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 06-10-2024

Pelari pemula semakin banyak. Begitu pun dengan pelari berpengalaman. Semuanya berkat industri lari yang memang semakin bertumbuh pada 2024. Itu garis besar yang dilihat oleh Andreas. ”Terlihat pelari semakin siap, terutama menghadapi nomor berat, seperti HM dan maraton,” ujarnya.

”Kita bisa lihat juga dari catatan waktu rata-rata pelari, sudah semakin baik ke sini. Di berbagai ajang yang kami selenggarakan pada 2024, peserta yang terkena cut off time semakin sedikit. Pelari lebih siap karena informasi lebih advance dan bidang kepelatihan yang berkembang,” tambah Direktur Lomba Borobudur Marathon tersebut.

Dari kisah lari di Indonesia selama 2024, terdapat pernyataan yang semakin bulat. Maraton itu merupakan lari jarak jauh. Akan tetapi, lari jarak jauh tidak sebatas maraton. Sebab, di ajang-ajang berlabel maraton saja, bukan kategori tersebut yang menjadi raja.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .