Kegiatan berlari dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan target setiap pelari. Begitu juga pilihan untuk berlari sendiri atau bergabung dalam komunitas lari.
14 Des 2024 09:02 WIB · Olahraga
Olahraga lari semakin populer di kalangan masyarakat. Banyak lomba digelar hampir setiap pekan dan menarik lebih banyak orang berlari. Namun, bagi mereka yang suka dan tertarik berlari, sering kali muncul pertanyaan, berlari itu sebaiknya sendirian atau bergabung dengan komunitas?
Menurut Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga dari EKA Hospital, BSD, Ria Lestari, dalam wawancara, Minggu (8/12/2024), baik berlari sendirian atau bergabung dengan komunitas, semua kembali kepada si pelari. Tentu saja pilihan itu menyesuaikan dengan target atau tujuan lari dan kebutuhan si pelari.
Hal tersebut terungkap dari cerita Rudianto Pangaribuan (52), Public Relation PT Indofood Tbk Divisi Bogasari. Bagi Rudi, panggilan akrab Rudianto, berlari adalah tentang membangun gaya hidup sehat. Ia memiliki motivasi kuat menjaga badannya supaya tetap bugar di tengah diabetes yang dimilikinya, pernah menderita saraf terjepit, dan riwayat kanker pada keluarga.
”Kenapa saya pilih lari? Karena lari itu olahraga paling praktis, kapan pun, dan di mana pun saya bisa berlari, bahkan ketika saya sedang bertugas ke luar kota,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/24/0e6522ed-a1ae-4888-baec-6da4d5639cdd_jpg.jpg)
Selain itu, bagi Rudi, lari merupakan olahraga yang tidak memerlukan partner dan perlengkapan khusus layaknya badminton atau futsal. ”Kalau badminton dan futsal akan butuh teman dan lapangan, sementara lari tidak,” tutur Rudi.
Itu sebabnya ia menikmati berlari sendiri. Ia bisa menentukan sendiri waktu dan rute berlari.
”Saya ini tim lari perseorangan alias solo runner, bukan tim berlari bersama komunitas. Saya anti-mainstream, saya tidak mau lari justru memboroskan duit untuk sepatu sampai semua (perlengkapan),” tuturnya sambil menambahkan motivasi untuk hidup sehat menjadi alasan terkuatnya untuk terus berlari tanpa tergoda untuk bergabung bersama komunitas atau klub lari.
Tim single juga dipilih Nova S (50). Nova yang memulai lari sejak pandemi Covid-19 memilih berlari sendiri.
”Kecepatan saya masih lambat. Saya berlari dengan pace 8 menit per kilometer. Jadi, lebih baik saya berlari sendiri,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/11/ee6287a5-b8e4-4f8e-bcb0-be8a1367b92c_jpg.jpg)
Selain kecepatan lari masih lambat, Nova menginginkan fleksibilitas waktu untuk latihan berlari karena jam kerjanya. ”Mencari komunitas yang punya level sama itu sulit,” kata Nova yang baru menuntaskan nomor 5K dalam Standard Chartered Singapore Marathon 2024 pada November lalu.
Sementara Christoforus Deberland (34) memiliki ceritanya sendiri. Ia juga memulai lari pada pandemi Covid-19 karena mendapat teguran dokter terkait riwayat kesehatan di keluarganya.
Awalnya ia berjalan kaki dan berlanjut dengan berlari. Ia punya target pribadi bisa mengikuti lomba half marathon.
Targetnya tercapai saat ia mengikuti lomba maraton pada 2022. Saat itu, ia bertemu dengan teman-teman sekolah lama yang juga berlari dan membentuk komunitas. Akhirnya ia bergabung dengan komunitas lari itu.
”Di awal-awal saya berlari, ya saya berlari saja. Menurut saya, berlari itu bisa dilakukan sendiri tanpa perlu ada teman,” kata Berland, panggilan akrabnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/06/fe14c0c5-a1ea-4d59-aed6-d2b35e0d36c3_jpg.jpg)
Bergabung dengan komunitas lari membuat Berland bertemu dengan pelatih lari. Ia menjadi tahu, ternyata berlari itu ada tekniknya, ada urut-urutannya.
Ia jadi paham, mulai dari sebelum dan sesudah berlari ada pemanasan dan pendinginan. Kemudian untuk berlari maraton penuh ada persiapan panjang yang mesti dijalani.
”Full marathon itu lebih bahaya. Persiapannya harus detail banget. Kalau full marathon, minimal (persiapan) enam bulan,” kata Berland.
Berland menjadi lebih bersemangat untuk lari. Apalagi, ia juga mendapati bergabung bersama komunitas lari memberinya manfaat positif, seperti kegiatan lari yang beragam hingga persiapan bersama menjelang lomba.
Berangkat dari alasan yang beragam, dokter Spesialis Kedokteran Olahraga Andhika Raspati menggarisbawahi mau berlari sendiri atau bergabung dengan komunitas lari itu semua tergantung kepada tipe orangnya. ”Kalau dia enggak bisa mulai (lari) tanpa ada teman yang menemani, ya monggo (bergabung) komunitas daripada enggak mulai-mulai (lari),” kata Andhika.
Orang pengin terlihat paling keren, paling kuat. Karena sudah geser, orang enggak lagi pengin sehat, tapi pengin pamer, pengin dilihat keren. Itu yang harus hati-hati.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/07/22/dc816c1e-1c62-4609-b1b0-4f08cacd47d1_jpg.jpg)
Akan tetapi, lanjut Andhika, bergabung dengan komunitas lari sebaiknya tidak asal bergabung. Ia menganjurkan pelari untuk mencari dan bergabung dengan komunitas lari yang sehat. Komunitas sehat artinya komunitas yang merangkul anggota-anggotanya untuk bersama-sama sehat dan mencapai target.
Hal itu karena dari pengalamannya, Andhika mendapati ada komunitas lari yang sudah bergeser dari tujuan semula. Ada komunitas dengan orang-orang yang saling adu gengsi sehingga memunculkan toxic competition. Hasilnya seperti yang beberapa waktu lalu santer terdengar tentang adanya joki Strava.
”Orang pengin terlihat paling keren, paling kuat. Karena sudah geser, orang enggak lagi pengin sehat, tetapi pengin pamer, pengin dilihat keren. Itu yang harus hati-hati,” ujar Andhika.
Ria Lestari menambahkan, sering kali berlari bersama teman atau komunitas menjadi motivasi sosial bagi pelari untuk mencapai target. Alhasil lari menjadi lebih menyenangkan.
Sementara bagi solo runner, Ria menyarankan agar pelari mampu menjaga motivasi berlari. Tentu saja agar berlari tidak membosankan, pelari tidak malas, dan tetap mampu mencapai target.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/14/5637e1c9-0f9d-45d1-8873-bc7e797169d6_jpg.jpg)
Ia menyarankan seorang solo runner juga perlu sesekali berlari dengan teman yang menyukai lari atau untuk sesekali mengganti rute lari agar lebih menyenangkan. Selain itu, solo runner juga perlu merayakan pencapaian lari sekecil apa pun.
Ria menyatakan, mau berlari sendiri atau bergabung komunitas, semua kembali lagi ke pelari. ”Jangan sampai juga bergabung ke grup lari atau komunitas lari karena suatu paksaan. Kalau memang ingin menjadi solo runner dan memberikan manfaat untuk pelari, itu juga tidak apa-apa,” tutur Ria.
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra