Saatnya warga Jakarta bijak mengelola sampah dengan mengurangi plastik sekali pakai, memilah limbah rumah tangga, dan tidak membakar sampah sembarangan.
21 Okt 2025 16:36 WIB · Metropolitan
JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah Provinsi Jakarta mendalami hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional yang menemukan mikroplastik berbahaya dalam air hujan di Jakarta. Meski demikian, upaya penanganan ke depan juga memerlukan dukungan warga dengan mengurangi plastik sekali pakai, memilah dan mendaur ulang sampah, serta tidak membakar sampah sembarangan.
Gubernur Jakarta Pramono Anung mengatakan, pihaknya telah menindaklanjuti temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menyebutkan hujan di Jakarta mengandung partikel mikroplastik berbahaya.
”Untuk hal yang berkaitan dengan hujan yang mengandung plastik yang ditemukan oleh BRIN, kami sudah melakukan pendalaman,” ujar Pramono, Selasa (21/10/2025).
Pramono mengatakan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta saat ini meneliti lebih lanjut untuk pastikan tingkat risiko dan dampak dari temuan tersebut. Hasilnya, kata Pramono, akan diumumkan kepada publik dalam waktu dekat.
”Nanti secara khusus Kepala Dinas Lingkungan Hidup akan saya minta untuk menyampaikan hasil penelitian mereka kepada publik. Dalam waktu dekat ini pasti akan diumumkan,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/16/9ebb058f7f15db92a09546308842dc32-FAK_3856.jpg)
Sebelumnya, BRIN menemukan adanya kandungan partikel mikroplastik berbahaya dalam air hujan di wilayah Jakarta. Partikel-partikel tersebut berasal dari beberapa aktivitas manusia di perkotaan, seperti serat sintetis dari pakaian, debu kendaraan dan gesekan ban, serta sisa pembakaran sampah plastik yang terbawa ke udara.
Selain mengandung partikel mikroplastik, air hujan juga mengandung beberapa polutan lainnya. Karena itu, BRIN mengingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi langsung air hujan tanpa filtrasi berlapis.
Kepala DLH Jakarta Asep Kuswanto mengatakan, temuan BRIN menjadi peringatan penting bahwa polusi plastik telah menjangkau atmosfer dan perlu ditangani secara lintas sektor.
”Kami memandang temuan BRIN ini sebagai alarm lingkungan yang perlu direspons cepat dan kolaboratif. Polusi plastik kini bukan hanya urusan laut atau sungai, tetapi sudah sampai di langit Jakarta,” ujar Asep.
DLH Jakarta memperkuat program pengendalian sampah plastik dari hulu ke hilir, termasuk pemantauan kualitas udara dan air hujan secara terpadu.
Polusi plastik kini bukan hanya urusan laut atau sungai, melainkan sudah sampai di langit Jakarta.
Selain itu, Pemprov Jakarta juga terus memperkuat kebijakan pengurangan sampah plastik, antara lain melalui Peraturan Gubernur Nomor 142 Tahun 2019 tentang kewajiban penggunaan kantong belanja ramah lingkungan, serta perluasan program Jakstrada Persampahan yang menargetkan pengurangan 30 persen sampah dari sumbernya.
”Upaya pengurangan plastik harus dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga, industri, dan sektor jasa. Setiap orang punya peran,” kata Asep.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/16/7e0f4cec3aa980376b1eda3114ef8095-FAK_3800.jpg)
Lebih lanjut, Pemprov Jakarta berencana memperkuat kampanye publik bertajuk ”Jakarta Tanpa Plastik di Langit dan Bumi” untuk mengajak masyarakat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, serta menghindari pembakaran limbah.
Asep menilai kampanye tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa perubahan perilaku masyarakat merupakan kunci dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.
Pemprov Jakarta juga berencana melibatkan dunia usaha, lembaga riset, dan komunitas lingkungan dalam memperkuat aksi nyata pengurangan plastik dan pengembangan inovasi daur ulang.
Asep menuturkan bahwa pemerintah daerah membuka ruang kolaborasi di berbagai bidang, mulai dari riset, teknologi filtrasi, hingga pengembangan produk ramah lingkungan, dengan tujuan menjaga langit Jakarta tetap bersih dari ancaman mikroplastik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/01/09/8dfbb5dc-065c-4d4a-ab55-428e1e2bdd4e_jpg.jpg)
Guru Besar IPB University dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Etty Riani, menjelaskan bahwa fenomena ”hujan plastik” secara ilmiah memang sangat mungkin terjadi. Mikroplastik, terutama yang berukuran sangat kecil, memiliki massa yang amat ringan sehingga mudah terangkat ke udara dan berpindah melalui arus angin.
”Partikel ini bisa berasal dari berbagai sumber di darat, seperti gesekan ban mobil, pelapukan sampah plastik yang kering dan terbawa angin, serta serat pakaian berbahan sintetis,” ujar Etty dalam keterangan resminya, Senin (20/10/2025).
Setelah melayang di udara, partikel mikroplastik akan terbawa arus angin dan akhirnya turun kembali ke bumi bersama air hujan.
Etty menjelaskan bahwa hujan berperan seperti ”pencuci udara” yang menangkap partikel halus di atmosfer, termasuk mikroplastik. Karena ukurannya sangat kecil, keberadaannya tidak kasatmata sehingga air hujan tampak bersih padahal mengandung polutan plastik.
Kondisi perkotaan, seperti Jakarta, merupakan tempat ideal bagi akumulasi mikroplastik di udara. Suhu tinggi, polusi udara, dan aktivitas manusia yang padat mempercepat proses pelapukan plastik serta meningkatkan peluang partikel halus itu terangkat ke atmosfer.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/15/bdadfeac618533912aa2a6915a101d65-20251015_094716.jpg)
Hampir semua aktivitas manusia kini bersentuhan dengan plastik. Dari kemasan makanan, pakaian sintetis, hingga perlengkapan rumah tangga, semuanya berpotensi menjadi sumber mikroplastik.
Etty menilai persoalan ini tidak bisa hanya disikapi secara akademis, tetapi juga harus diikuti langkah konkret. Ia mendorong perubahan gaya hidup menuju pola yang lebih ramah lingkungan alias back to nature, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah sejak dari rumah, serta menghindari produk perawatan tubuh yang mengandung mikroplastik, seperti scrub atau glitter sintetis.
Kita perlu hidup lebih sederhana dan kembali ke alam.
Etty juga menekankan pentingnya penerapan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) dan pemberian sanksi bagi pihak yang tidak mendukung kebijakan pengurangan plastik.
”Kita perlu hidup lebih sederhana dan kembali ke alam. Kurangi penggunaan plastik, hindari produk perawatan tubuh yang mengandung mikroplastik, dan biasakan memilah sampah sejak dari rumah,” ujar Etty.
Ia pun mengingatkan bahwa mikroplastik bukan hanya ancaman bagi lingkungan, melainkan juga berisiko bagi kesehatan manusia.
”Plastik bukan hanya masalah lingkungan, melainkan juga kesehatan. Di dalamnya ada bahan aditif berbahaya yang bisa memicu gangguan hormonal dan meningkatkan risiko kanker,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/14/cbf31dc2fcee8004c8c099f501e5e75e-BC55BC18_5056_9AE1_E7CAA97A44CC4ACD.jpg)
Di tengah ramainya perbincangan soal temuan mikroplastik dalam air hujan, sebagian warga Jakarta mulai menaruh perhatian lebih terhadap dampak plastik terhadap lingkungan.
Warga Jakarta Selatan, Nurhaliza (34), mengatakan, kesadaran untuk mengurangi plastik sudah ia terapkan sejak beberapa tahun terakhir. Ia selalu membawa tas belanja kain dan botol minum setiap bepergian.
”Kalau ke minimarket atau ke warung kecil, saya selalu bilang tanpa kantong karena saya sudah bawa,” ujarnya, Selasa (21/10/2025).
Nurhaliza mengatakan, ia mulai berubah sejak ikut kegiatan bank sampah di lingkungannya. Dari situ, ia sadar plastik yang dibuang sembarangan bisa bertahan puluhan tahun tanpa terurai.
Meski demikian, ia mengakui upaya mengurangi plastik di Jakarta tidaklah mudah. Banyak pelaku usaha, terutama pedagang makanan kecil, masih bergantung pada plastik karena murah dan praktis.
Sementara itu, warga Jakarta Barat, Tania (27), menilai perubahan perilaku butuh waktu dan dukungan sistem yang kuat. Ia mengatakan sudah terbiasa memilah sampah dan mengurangi penggunaan plastik. Namun, masih sering menerima plastik tanpa diminta, terutama saat memesan makanan secara daring.
Menurut Tania, kemudahan menjadi faktor utama yang membuat masyarakat sulit sepenuhnya beralih dari plastik. Ia menilai, meskipun banyak warga yang sudah mulai sadar, ketersediaan fasilitas pendukung, seperti tempat isi ulang produk rumah tangga atau toko tanpa kemasan, masih terbatas.
Meski demikian, Tania tetap optimistis bahwa perubahan bisa terjadi jika pemerintah dan masyarakat berjalan beriringan. Ia berharap pemerintah tidak berhenti pada kampanye seremonial, tetapi juga memperkuat sistem yang benar-benar memudahkan warga berperilaku ramah lingkungan.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al-HamasyEditor:
Irma TambunanPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari