Bersama Pemain Diaspora, Tanjung Verde Lolos Piala Dunia

Kisah inspiratif datang dari negara kecil, Tanjung Verde. Mereka lolos ke Piala Dunia dengan mengandalkan pemain diaspora dan tetap percaya kepada pelatih yang sama.

14 Okt 2025 07:19 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

PRAIA, SENIN — Negara kecil, Tanjung Verde, membuktikan, jumlah penduduk tidak berkorelasi dengan kesempatan tampil di Piala Dunia. Dibantu para pemain diaspora, negara kepulauan berpenduduk sekitar 550.000 jiwa itu membuat sejarah dengan lolos ke Piala Dunia 2026.

”Si Hiu Biru”, julukan Tanjung Verde, meraih tiket ke Piala Dunia usai menang atas tim tamu, Eswatini, 3-0, di Stadion Nasional, Praia, Selasa (14/10/2025) WIB. Mereka lolos untuk pertama kali ke ajang paling prestisius itu dengan status juara Grup D (23 poin) dalam babak kualifikasi zona Afrika.

Tim asuhan Pedro Brito itu mengungguli tim langganan Piala Dunia, Kamerun, yang datang bersama bintang Liga Inggris, seperti Carlos Baleba dan Bryan Mbeumo. Kamerun finis di peringkat kedua (19 poin). Adapun Tanjung Verde mengikuti jejak Mesir, Maroko, dan Ghana, yang sudah lolos lebih dulu.

”Memberikan kebahagiaan ini kepada rakyat kami sangat luar biasa. Ini adalah kemenangan untuk seluruh rakyat Tanjung Verde, dan yang terpenting, untuk mereka yang telah berjuang demi kemerdekaan kami. Ini momen spesial dalam perayaan 50 tahun kemerdekaan,” kata Bubista, panggilan sang pelatih.

Tanjung Verde, negara di lepas pantai Senegal, kini resmi menjadi negara dengan jumlah penduduk paling sedikit kedua yang berhasil lolos ke ajang empat tahunan tersebut. Mereka hanya sedikit lebih banyak dari Eslandia, 350.000 penduduk, yang mencatatkan rekor saat lolos ke Piala Dunia Rusia 2018.

Fans celebrate in the stands after Cape Verde defeated Eswatini in a World Cup qualifying soccer match at Estádio Nacional in Praia, Cape Verde, Monday, Oct. 13, 2025, to clinch their qualification for the 2026 World Cup. (AP Photo/Cristiano Barbosa)

Bagaimana caranya Tanjung Verde menciptakan tim level Piala Dunia dengan jumlah penduduk sedikit itu? Jawabannya adalah dengan memanfaatkan pemain diaspora. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka bergantung dengan pemain yang lahir di luar negeri dari orangtua atau kakek dan nenek dari Tanjung Verde. Kebanyakan lahir di Belanda dan Portugal.

Bergantung ke diaspora

Ketergantungan terhadap pemain diaspora sangat terlihat dalam laga penentu versus Eswatini. Gol pembuka Tanjung Verde dicetak oleh penyerang Dailon Livramento yang lahir di Rotterdam, Belanda. Lalu, gol kedua mereka dihasilkan pemain sayap Willy Semedo yang lahir di Bordeaux, Perancis.

Adapun sebelas pemain starter Tanjung Verde juga berstatus diaspora. Tiga pemain berasal dari Portugal, sementara masing-masing satu dari Amerika Serikat, Irlandia, Uni Emirat Arab, Romania, Rusia, Belanda, Turki, dan Siprus. Jaringan diaspora mereka sangat luas.

Saking gencar berburu pemain diaspora, Tanjung Verde sampai menggunakan situs jejaring profesional LinkedIn untuk melacak pemain potensial. Salah satu yang direkrut dari situs itu adalah bek Roberto Lopes yang lahir di Dublin, Irlandia.

”Ayah saya berasal dari Sao Nicolau (pulau di Tanjung Verde). Orang-orang cenderung mencari peluang dan bermain sepak bola di luar negeri. Tampaknya, ada migrasi besar-besaran dari negara ini. Kami tersebar di seluruh dunia. Sungguh luar biasa apa yang bisa kami capai saat kami bersatu,” ujar Lopes kepada BBC Sport.

Two men celebrate after Cape Verde defeated Eswatini in a World Cup qualifying soccer match at Estádio Nacional in Praia, Cape Verde, Monday, Oct. 13, 2025, to clinch their qualification for the 2026 World Cup. (AP Photo/Cristiano Barbosa)

Tanjung Verde tidak bisa banyak berharap dengan liga domestik. Kasta tertinggi liga mereka hanya diikuti 12 tim. Federasi sepak bola mereka mengatasi keterbatasan potensi dari dalam dengan mencari potensi dari luar. Proyek itu terbukti sukses total dengan kelolosan ke Piala Dunia.

Walaupun proyek terkesan instan, bukan dengan pembinaan pemain, Si Hiu Biru ternyata sangat menghargai proses. Kunci keberhasilan mereka diawali dengan sosok pelatih yang sudah membangun tim sejak Januari 2020. Bubista, mantan pemain timnas, membangun skuad perlahan dari tahun ke tahun.

Bubista tetap dipercaya oleh federasi walaupun timnya tidak lolos ke Piala Afrika 2025. Federasi melihat gambaran lebih besar soal potensi skuad ke depan. Tim mereka sudah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, termasuk memuncaki grup yang diisi Ghana dan Mesir di Piala Afrika 2023.

Alih-alih bereaksi gegabah dengan merekrut pelatih baru, federasi mereka mempertahankan Bubista untuk kualifikasi Piala Dunia. Hasilnya sempurna. Sang pelatih bisa menuntaskan sendiri pekerjaannya yang dimulai hampir enam tahun lalu. Kepercayaan federasi terbayar lunas.

Kisah Tanjung Verde bisa menjadi pelajaran untuk negara-negara lain. Selama mampu memanfaatkan celah peluang seperti perekrutan pemain diaspora, punya visi jelas, dan menghargai proses, negara kecil dengan penduduk sedikit sekalipun bisa menggapai Piala Dunia. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto