Febriana/Meilysa, Rachel/Febi, dan Amallia/Fadia melaju perempat final Indonesia Terbuka 2026. Indonesia juga dipastikan punya satu wakil ganda putri di semifinal.
04 Jun 2026 17:09 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
JAKARTA, KOMPAS — Jika ganda putri Indonesia mencari waktu yang tepat untuk bisa ”bersemi” lagi, di Polytron Indonesia Terbuka 2026 momentum itu menghampiri. Kesempatan Indonesia untuk menunjukkan konsistensi performa atau melaju jauh telah terbuka lewat tiga pasangan yang lolos ke perempat final. Tuan rumah juga memastikan kembali ke semifinal ganda putri setelah menanti lima tahun.
Semua ganda putri Indonesia yang bermain pada babak kedua Indonesia Terbuka, Kamis (4/6/2026), mampu melanjutkan perjalanan ke perempat final. Bermain di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari mengawali rentetan kemenangan itu.
Febriana/Meilysa mengalahkan unggulan ketujuh turnamen, Hsieh Pei Shan/Hung En-Tzu (Taiwan), 21-13, 17-21, 21-15 dalam pertemuan pertama mereka. Dengan hasil ini, Febriana/Meilysa menyamai pencapaian terbaik di turnamen level Super 1000 lainnya, yakni mencapai perempat final di Malaysia Terbuka dan All England.
Kemenangan Febriana/Meilysa disusul Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum dalam waktu berdekatan. Rachel/Febi mengalahkan Francesca Corbett/Jennie Gai (Amerika Serikat), 21-18, 17-21, 21-13.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/04/941a99a4f5059b2cdd2d7375201093dd-MYE_4511.jpg)
Hasil positif itu memastikan Indonesia punya wakil ganda putri di semifinal karena Febriana/Meilysa akan bertemu Rachel/Febi pada babak delapan besar. Terakhir kali ganda putri meloloskan atlet ke semifinal adalah pada Indonesia Terbuka 2021 ketika Greysia Polii/Apriyani Rahayu bertemu sesama pasangan Indonesia, Fitriani/Yulia Yosephine Susanto.
Sementara satu ganda putri lainnya yang melaju ke perempat final Indonesia Terbuka 2026 adalah Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti yang mengalahkan Yeung Nga Ting/Yeung Pui Lam (Hong Kong), 21-19, 21-18.
”Senang rasanya ganda putri bisa ramai di Indonesia Terbuka, bisa bersaing secara sehat. Kami ingin membangkitkan ganda putri Indonesia di level atas,” kata Amallia.
Kelolosan Febriana/Meilysa, Rachel/Febi, dan Amallia/Fadia ke perempat final bak angin segar bagi ganda putri tuan rumah di Indonesia Terbuka. Dalam lima edisi terakhir, sektor ini selalu ”sepi”. Tidak pernah ada lebih dari satu ganda putri yang tampil di perempat final.
Pada Indonesia Terbuka 2025, hanya ada Febriana/Amallia yang bermain di babak delapan besar. Begitu juga pada 2023 dan 2022, yaitu ketika cuma ada Apriyani Rahayu/Fadia. Sementara pada 2024, semua ganda putri Indonesia rontok pada dua babak pertama.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/04/c85bb6f7-ed72-43dd-a580-9a529d4025f5.jpg)
Mulai pertengahan 2025, Indonesia merombak sektor ini demi bisa menembus persaingan level dunia dengan target utama adalah Olimpiade Los Angeles 2028. Amallia/Fadia dan Apriyani/Lanny Tri Mayasari menjadi ganda putri yang paling terbaru dipasangkan, yakni pada Januari 2026.
Dalam waktu yang belum memasuki setahun setelah perombakan, sektor ganda putri masih berada dalam tahap pematangan pasangan. Namun, keberhasilan Rachel/Febi menjuarai Australia Terbuka Super 500 pada 2025 setelah mengalahkan Febriana/Meilysa di final serta kesuksesan Fadia/Amallia menjuarai Thailand Masters Super 300, Januari 2026, menjadi pertanda awal bahwa mereka berada di jalur yang benar.
Pekerjaan rumahnya adalah konsistensi performa saat berhadapan dengan pasangan top dunia. Amallia/Fadia sudah mengawalinya dengan baik ketika mengalahkan peringkat ketiga dunia, Baek Ha Na/Lee So Hee (Korea Selatan), pada babak pertama. Konsistensi mereka akan diuji lagi ketika bertemu unggulan kelima turnamen, Yuki Fukushima/Mayu Matsumoto (Jepang), pada perempat final.
Selain itu, Fadia juga menyadari bahwa mereka masih perlu belajar bermain tidak terburu-buru. Sebab, dalam dua laga, pasangan peringkat ke-29 dunia ini kerap kehilangan poin karena bermain tidak tenang. Menghadapi Yeung Nga Ting/Yeung Pui Lam, misalnya, Amallia/Fadia membuang keunggulan 18-8 pada gim pertama menjadi hanya selisih dua angka.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/04/0cae585f6a0aa71883c013131ada130c-MYE_5419.jpg)
Sementara Rachel/Febi datang ke Indonesia Terbuka juga dengan bekal pengalaman pernah mengalahkan peringkat keempat dunia, Jia Yi Fan/Zhang Shu Xian (China), pada babak kedua Kejuaraan Asia. Namun, mereka juga kalah dari peringkat kelima dunia, Fukushima/Matsumoto, pada perempat final.
Terlepas dari itu, kesuksesan Rachel/Febi ke perempat final sudah melampaui pencapaian sendiri di turnamen level Super 1000. Selama berpasangan ataupun saat berpasangan dengan partner sebelumnya, Rachel dan Febi sama-sama belum pernah mencapai babak tersebut.
Rachel sudah menjalani debut di Indonesia Terbuka sejak 2023 bersama Meilysa, tetapi terhenti pada babak kedua. Febi debut pada edisi setelahnya bersama Jesita Putri Miantoro dan langsung tersingkir.
Rachel menilai permainannya telah berkembang selama enam tahun terakhir. Bersama Febi, dia menemukan pola permainan yang selama ini dia cari. Mereka pun bisa bermain dengan nyaman dengan karakteristik masing-masing.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/04/69a1eae9-29de-452c-abc9-328a726deb67.jpg)
Hal itu yang mendorong pencapaian baru di Indonesia Terbuka 2026. Ditambah lagi, Rachel/Febi punya cukup waktu persiapan setelah absen di sejumlah turnamen sejak Piala Uber 2026, 24 April-3 Mei.
”Sekarang kami bermain ke pola permainan yang kami suka dan kami mau. Itu justru lebih bisa berjalan. Lebih mudah bagi kami untuk menyatukannya. Kami juga belajar dari menang-kalah di pertandingan sebelumnya, termasuk ketika bisa mengalahkan unggulan. Itu membuat kepercayaan diri kami naik,” ujar Rachel.
Penulis:
Rebiyyah Salasah, Kelvin HianusaEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Retma Wati