Iran menggalang dukungan dari para sekutunya menghadapi AS. Rusia siap memastikan perdamaian di Timur Tengah tercapai secepat mungkin.
28 Apr 2026 08:42 WIB · Internasional
AFP/Dmitry LOVETSKY
SAINT PETERSBURG, SELASA — Di tengah buntunya negosiasi lanjutan dengan Amerika Serikat, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menemui Presiden Rusia Vladimir Putin di Saint Petersburg, Senin (27/4/2026) waktu setempat. Araghchi menyalahkan AS atas kegagalan perundingan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama dua bulan.
”Pendekatan AS menyebabkan putaran negosiasi sebelumnya, meskipun ada kemajuan, gagal mencapai tujuannya karena tuntutan yang berlebihan,” ujar Araghchi.
Negosiasi putaran pertama yang dimediasi Pakistan pada 11 April gagal mencapai kesepakatan. Salah satu pengganjal utamanya adalah tuntutan AS agar Iran tidak melanjutkan program nuklirnya. Blokade Selat Hormuz yang dilakukan oleh Iran sejak 28 Februari lalu pun terus berlanjut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/27/b8a019bd968a9ee9a4a2c50a241d201f-TOPSHOT_IRAN_US_ISRAEL_WAR_DAILY_LIFE_137767943.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/23/08e79f57-0a24-4b34-87fe-0268c7fd36c4.jpg)
Perundingan lanjutan dijadwalkan di Islamabad, Pakistan, akhir pekan lalu. Araghchi dan delegasi Iran lainnya telah tiba di Pakistan. Namun, AS batal mengirimkan delegasinya. Negosiasi untuk mengakhiri perang pun semakin tidak jelas.
Saat bertemu dengan Putin, Araghchi menyampaikan terima kasih atas dukungan Rusia di tengah perang yang dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel, 28 Februari 2026. Ia menggambarkan Rusia sebagai sekutu Iran yang hebat.
”Iran dan Rusia adalah mitra strategis. Kedua negara selalu saling mendukung. Kerja sama kita akan berlanjut,” ujarnya.
Dilansir dari kantor berita Iran, IRNA, Araghchi menekankan tentang kekuatan Iran dalam menghadapi AS dan Israel. Menurut dia, selama perang, pemerintahan Iran telah menunjukkan sistem yang stabil, tangguh, dan kuat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/28/609fbb8f46add7396352efb5c900108d-Russia_Iran.jpg)
”Rakyat Iran, melalui keberanian mereka, mampu melawan agresi Amerika dan akan terus melakukannya,” ujarnya.
Dalam pertemuan itu, Araghchi didampingi Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi dan Duta Besar Iran untuk Rusia Kazem Jalali. Sementara Putin ditemani Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan sejumlah pejabat Rusia lainnya.
Kantor berita Rusia, TASS, melaporkan, Putin menekankan rakyat Iran telah berjuang dengan berani dan heroik untuk kedaulatan mereka. Ia berharap rakyat Iran dapat melewati masa-masa sulit di tengah perang dan perdamaian segera terwujud.
”Rusia siap melakukan segala daya upaya untuk memastikan perdamaian di Timur Tengah tercapai secepat mungkin,” ujar Putin.
Araghchi menyampaikan terima kasih atas dukungan Rusia di tengah perang yang dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel dua bulan lalu. Ia menggambarkan Rusia sebagai sekutu Iran yang hebat.
Di Kirgistan, Menteri Pertahanan Rusia Andrei Belousov bertemu dengan Wakil Menteri Pertahanan Iran Reza Talaei-Nik. Belousov menilai, perang di Iran harus diselesaikan melalui jalur diplomatik. Ia mengatakan, Rusia dan Iran akan terus saling mendukung.
Talaei-Nik juga mengunjungi Belarus untuk bertemu dengan Menteri Pertahanan negara itu, Viktor Khrenin. Belarus merupakan salah satu sekutu terdekat Rusia. Kementerian Pertahanan Belarus menyatakan, pertemuan ini membahas situasi di Timur Tengah.
”Kedua pejabat tersebut sepakat bahwa satu-satunya cara untuk menyelesaikan konflik adalah kembali ke ranah penyelesaian politik-diplomatik dan intensifikasi proses negosiasi,” tulis pernyataan itu.
Salah satu dampak paling krusial dari perang di Iran adalah penutupan Selat Hormuz. Selat yang memisahkan daratan utama Iran dengan Jazirah Arab ini merupakan jalur vital energi global. Sekitar 20 persen minyak dunia dikirim melalui tanker yang melewati selat itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/22/164706d8a876d23341d33d64fdb01de0-20260422_ADI_Lalulintas_Selat_Hormuz_mumed.png)
Presiden AS Donald Trump telah berulang kali mendesak Iran membuka Selat Hormuz. Namun, Iran tetap bergeming dan menegaskan kendalinya atas selat tersebut. AS membalasnya dengan memblokade kapal dan pelabuhan Iran. Kedua pihak saling menyerang kapal-kapal yang melintas. Kondisi ini membuat eskalasi konflik di perairan sempit itu semakin memanas.
Iran dilaporkan menawarkan pembukaan Selat Hormuz jika AS mengakhiri blokadenya. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, tim keamanan nasional Trump mengadakan pertemuan, Senin (27/4/2026), untuk membahas tawaran itu. Namun, ia tidak merinci hasil pertemuan itu.
Seorang pejabat AS mengatakan, Trump tidak senang dengan proposal Iran karena tidak membahas program nuklir Iran. ”Dia tidak menyukai proposal itu,” katanya.
Blokade Selat Hormuz telah mengacaukan distribusi minyak dunia dari negara-negara Teluk. Harga minyak pun melambung. Sejumlah negara terpaksa menghemat penggunaan energi karena cadangan minyaknya semakin menipis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/04/e421f35a58fe9fc3d97db36328b8bd7f-wires_photo_5_.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/25/f83b810c38f3ea489bf04588a0ae70f5-20260325TAM_01.JPG)
Usulan untuk mengenakan biaya transit kapal di selat itu ditolak banyak pihak, termasuk oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. ”Mereka tidak bisa menormalisasi dan kita juga tidak bisa mentoleransi sebuah sistem di mana Iran memutuskan siapa yang berhak menggunakan jalur perairan internasional dan berapa banyak yang harus Anda bayarkan kepada mereka untuk menggunakannya,” ujarnya.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengatakan, di tengah kebuntuan negosiasi AS-Iran, Dewan Keamanan PBB harus mendukung kerangka kerja darurat sementara yang diajukan oleh Organisasi Maritim Internasional (IMO). Menurut dia, jika tidak segera diatasi, hal itu akan menyebabkan gangguan rantai pasok terburuk sejak pandemi Covid-19 dan perang di Ukraina.
”Tekanan ini menyebabkan tangki bahan bakar kosong, rak-rak kosong, dan piring-piring kosong. Korban kemanusiaan semakin meningkat,” ujarnya.
Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Noël Barrot mengatakan, krisis energi dan kemanusiaan yang disebabkan oleh penutupan Selat Hormuz dimulai setelah operasi militer yang diluncurkan oleh AS dan Israel. Ia menyebut operasi itu tanpa tujuan jelas dan dilakukan dengan melanggar hukum internasional.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/09/e8d6bb09-429b-4586-8f69-d9dd5bd6bb74.jpg)
Namun, ia menganggap saat ini Iran bertanggung jawab atas blokade di Selat Hormuz. ”Selat adalah arteri dunia. Selat bukanlah milik individu mana pun. Selat tidak untuk dijual. Oleh karena itu, selat tidak dapat dihalangi oleh rintangan, pungutan, atau suap apa pun, baik oleh Iran maupun oleh pihak lain mana pun, dan dengan dalih apa pun,” katanya.
Kanselir Jerman Friedrich Merz juga menilai langkah AS memulai perang di Iran tanpa strategi yang jelas. Saat ini, konflik yang telah berdampak luas itu semakin sulit untuk diakhiri.
”Masalah dengan konflik seperti ini selalu sama, bukan hanya tentang masuk, Anda juga harus keluar. Kita melihat itu dengan sangat menyakitkan di Afghanistan selama 20 tahun. Kita juga telah melihatnya di Irak,” ujarnya. (REUTERS/AP/AFP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan