Berubah Sikap, Trump Dukung Pengungkapan Berkas Epstein ke Publik

Setelah awalnya menghindar dan mengata-ngatai Partai Demokrat, Trump berubah sikap dan menyetujui Kongres AS membuka semua dokumen kasus pedofil Jeffrey Epstein.

17 Nov 2025 15:30 WIB · Internasional

AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

WASHINGTON DC, SENIN — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dukungan terhadap Kongres AS untuk membuka berkas kasus pedofil Jeffrey Epstein. Perubahan sikap Trump ini mengagetkan karena sejak ia dilantik, Trump selalu menghindar untuk membahas kedekatannya dengan Epstein. Trump bahkan menghalang-halangi pihak-pihak yang ingin menguak perkara tersebut.

”Saya tidak menyembunyikan apa pun. Sudah saatnya kita hentikan hoaks dari Partai Demokrat dan orang-orang gila dari kiri radikal. Saya tidak peduli. Saya cuma peduli Partai Republik kembali fokus,” cuit Trump terkait berkas kasus Epstein itu pada media Truth Social, Minggu (16/11/2025), di Washington DC atau Senin (17/11/2025) waktu Jakarta.

Pernyataan itu diutarakan Trump di tengah sidang Kongres AS. Apabila semua anggota kongres setuju, Departemen Kehakiman AS akan menerbitkan semua berkas terkait Epstein. Berkas-berkas itu, antara lain, berupa surat-menyurat yang dilakukan oleh Epstein, data penangkapannya, sampai dengan laporan pascakematian.

Dalam foto yang diambil pada 8 Juli 2019 ini, sebuah kelompok protes yang disebut "Hot Mess" mengangkat foto Jeffrey Epstein di depan gedung pengadilan Federal pada 8 Juli 2019 di New York City, Amerika Serikat. Miliarder Jeffrey Epstein, didakwa atas tuduhan memperdagangkan seks dengan perempuan di bawah umur. Epstein, yang telah bergaul dengan para politisi dan selebriti selama bertahun-tahun, diduga meninggal akibat gantung diri di Metropolitan Correctional Center.

Epstein adalah pengusaha asal New York. AS. Semasa hidup, ia ternyata juga seorang muncikari dan pedofil. Ia melacurkan gadis-gadis di bawah umur ke klien-klien yang umumnya orang kaya dan terkena. Andrew, adik Raja Inggris Charles III, dituding sebagai salah satu klien Epstein.

Sebagai hukuman atas keterlibatan Andrew dengan Epstein, ia dicopot dari semua gelar kerajaan dan militer Inggris. Adapun Epstein ditangkap pada 2019 dan tidak lama kemudian ditemukan meninggal di dalam sel. Polisi tidak mengumumkan penyebab kematian Epstein. Dugaan yang beredar adalah ia bunuh diri.

Pekan lalu, Kongres menerbitkan 23.000 lembar berkas Epstein. Jumlah itu hanya sebagian kecil dari keseluruhan berkas mengenai Epstein dan klien-kliennya. Nama Trump disebut berkali-kali dalam surat-menyurat Epstein dengan orang lain. Akan tetapi, Epstein mengatakan Trump tidak terlibat di dalam pelacuran gadis-gadis belia.

”Meskipun begitu, Donald (Trump) tahu tentang yang saya lakukan terhadap gadis-gadis itu,” tulis Epstein dalam salah satu korespondensinya. Ia menulis, Trump beberapa kali menghabiskan waktu berjam-jam di rumah Epstein, nongkrong bersama gadis-gadis di bawah umur yang dilacurkan Epstein.

Jika hal itu benar, walaupun tidak terlibat dengan tindakan pidana perdagangan orang, Trump tetap bisa digugat secara hukum. Ia bisa dijerat pasal pidana mengabaikan tindak pidana pedofilia dan perdagangan anak di bawah umur.

Epstein bersama pacarnya, Ghislaine Maxwell, merekrut gadis-gadis belia. Mereka diiming-iming bekerja di spa yang terletak di sanggraloka Epstein di New York, Florida, dan Karibia. Ternyata, tanpa sepengetahuan korban, para klien spa diizinkan melakukan perbuatan seksual terhadap mereka.

Salah satu penyintas, Virginia Giuffre, pada 2015 akhirnya angkat bicara dan melaporkan kekerasan yang dialaminya semasa remaja. Laporan Giuffre inilah yang berujung pada pencopotan gelar kebangsawanan Andrew.

Giuffre sendiri meninggal pada pertengahan 2025 karena bunuh diri akibat depresi. Adapun Ghislaine Maxwell menjalani hukuman 20 tahun penjara.

Kaitan dengan Trump

Nama Trump mencuat dalam kasus Epstein sejak kantor kejaksaan di New York menerbitkan isi buku alamat Epstein pada 2021. Buku itu berisi daftar nama orang-orang yang memiliki hubungan pribadi dengan Epstein.

Namun, tidak berarti semua nama yang disebut dalam buku alamat itu terlibat kejahatan seksual bersama Epstein. Nama teknokrat Bill Gates, sutradara film Star Wars George Lucas, model Naomi Campbell, dan ikon televisi Oprah Winfrey ada dalam buku alamat Epstein.

Mereka semua telah memberi pernyataan dan terbukti hanya berhubungan dengan Epstein dalam kapasitas profesional.

(FILES) Britain's Prince Andrew, Duke of York reacts as he arrives at St. George's Chapel, Windsor Castle, to attend the Easter Mattins Service, on March 31, 2024. UK's scandal-hit Prince Andrew said on October 17, 2025, he is giving up his royal title. (Photo by JUSTIN TALLIS / AFP)

Dalam buku itu juga ada nama Trump dan Presiden AS 1993-2001 Bill Clinton. Clinton melalui kuasa hukumnya juga mengatakan hanya mengenal Epstein secara profesional. Adapun Trump mengaku sempat berteman dengan Epstein, tetapi tidak tahu apa-apa tentang kehidupan pribadinya.

Dalam berkas 23.000 halaman yang terbaru, Epstein mengatakan bahwa ia tidak dekat dengan Clinton. Mereka hanya bertemu di beberapa acara formal. Akan tetapi, terkait Trump, Epstein mengkritiknya.

Selain mengatakan Trump tahu selera pedofil Epstein, ia juga menulis bahwa Trump adalah seorang pengusaha yang kotor dan licik. Epstein menulis, ia mengetahui banyak rahasia praktik ilegal Trump dalam menjalankan usaha properti.

Berubah sikap

Sejak Trump dilantik untuk masa jabatan kedua pada Januari lalu, publik mendesak supaya Kongres menerbitkan seluruh berkas Epstein. Rakyat meminta diadakan penyelidikan terbuka agar duduk persoalan hubungan Epstein dengan tokoh-tokoh masyarakat, termasuk kepala negara, bisa dilihat dengan jelas.

Trump menolak dan menekan Partai Republik untuk tidak mengegolkan dorongan rakyat. Para anggota Partai Republik yang setia terhadap Trump, termasuk Ketua DPR Mike Johnson, menuduh gugatan untuk menerbitkan berkas Epstein hanyalah trik Partai Demokrat mencari-cari kesalahan Trump.

TOPSHOT - Republican Representative from Georgia Marjorie Taylor Greene shouts at US President Joe Biden as he delivers his third State of the Union address in the House Chamber of the US Capitol in Washington, DC, on March 7, 2024. (Photo by SHAWN THEW / POOL / AFP)

Namun, semakin banyak anggota Partai Republik yang berubah pikiran, salah satunya ialah Marjorie Taylor Greene yang awalnya pendukung Trump garis keras. ”Kita harus berbuat yang benar. Biar masalah ini jernih di mata rakyat,” ucap Greene.

Trump cepat mencerca Greene dan menuduhnya sebagai pengkhianat. Selain Greene, muncul tokoh-tokoh senior Partai Republik yang kemudian mendesak agar berkas-berkas itu dibuka supaya bisa ditelaah dengan benar dan mendalam. Trump juga menuduh mereka berkhianat.

Ketika berkas 23.000 halaman akhirnya diterbitkan pekan lalu, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, tidak ada bukti bahwa Trump berbuat kesalahan. Sejak itu, Trump berubah sikap dan kini setuju berkas yang mayoritas pun dibuka ke publik.

(AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar