Bagi mitra yang mendapatkan bantuan hari raya dengan nilai tinggi, harapan untuk mudik bisa terwujud. Yang dapat Rp 50.000 hanya bisa pasrah.
28 Mar 2025 18:52 WIB · Nusantara
M Ramli (43) senang bukan main. Bantuan hari raya atau BHR sebesar Rp 1,6 juta yang masuk ke nomor Gopay-nya memantapkan hatinya untuk mudik.
”Tadinya masih mikir-mikir, jadi mudik atau tidak. Bukan apa-apa, mudik berempat walau bawa kendaraan sendiri, tetap butuh biaya ekstra. Belum lagi buah tangan untuk orangtua di kampung. Tetapi, BHR masuk dan saya dapat kategori tertinggi, berarti saya sudah mantap untuk mudik,” katanya, Kamis (27/3/2025).
Dia berencana mudik pada Jumat (28/3/2025) malam. Tujuannya Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, ke rumah orangtuanya. Dari Soppeng dia juga berencana ke Bone, menemui mertuanya.
”Dengan BHR ini, lumayan sudah bisa menambah uang BBM dan membeli sekadar buah tangan untuk orangtua dan mertua. Kalau untuk keperluan istri dan anak-anak sudah ada, karena sudah lama disisihkan,” kata bapak dua anak ini.
Ramli memang pantas mendapatkan BHR dengan kategori nilai tertinggi. Saat ini, menjadi mitra Gojek untuk layanan Gocar menjadi pekerjaan utamannya dan satu-satunya. Dengan demikian, dia bisa bebas mengaktifkan aplikasi sepanjang hari, kapan pun dia mau.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/27/bb29c6b93badbcd0f55907e95e136a63-IMG_9469.jpeg)
Lain lagi dengan Akbar Ibrahim yang hanya menerima Rp 50.000 dari Grab. Uang ini masuk ke rekening OVO-nya beberapa hari lalu. Dia mengaku pasrah dan tak mau kecewa.
”Saya tidak kecewa karena memang belakangan ini kinerja saya kurang bagus. Kebetulan ada banyak urusan keluarga dan anak saya pun sakit. Jadi, saya tidak bisa memenuhi kriteria yang disyaratkan untuk dapat BHR dengan nilai besar,” katanya.
Akbar bermitra dengan Grab dan menjadi pengemudi ojek online. Ini bukan pekerjaan utama, melainkan dikerjakan di sela waktu kerjanya di sebuah perusahaan.
”Biasanya sebelum masuk kerja dan saat pulang, saya ambil penumpang atau melayani pembelian makanan ataupun pengiriman barang. Lumayan hasilnya untuk tambah pembeli susu anak,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/24/995d2ef0-6aab-4a0d-b08c-db6a35af089f.jpg)
Nasib serupa dialami Rizal (32), pengojek daring asal Semarang Tengah, Jawa Tengah, yang mendapatkan BHR Rp 50.000. Uang yang diperoleh itu lebih rendah dari ekspektasinya sebesar Rp 200.000.
”Uangnya langsung habis untuk membeli bensin,” ujarnya.
Sejak awal, Rizal mengaku pesimistis saat mengetahui besaran BHR akan disesuaikan dengan performa pengojek. Hal itu karena sebulan terakhir performanya menurun lantaran ada perubahan sistem.
Uangnya langsung habis untuk membeli bensin.
”Normalnya, orderan yang masuk adalah yang terdekat dengan driver. Tapi, setelah ada wacana BHR sesuai performa, orderannya tiba-tiba dapat yang jaraknya jauh-jauh terus, di atas 4 kilometer, bahkan 5 kilometer,” ujarnya.
Kebanyakan pengojek, menurut Rizal, dilematis menghadapi persoalan tersebut. Jika memilih untuk tetap mengambil oderan, mereka terancam merugi karena uang yang didapatkan tidak sebanding dengan jarak yang mereka tampuh. Jika tidak diambil, performa mereka akan dianggap turun.
”Daripada merugi, kebanyakan diver memilih untuk tidak ambil orderan itu dengan risiko performanya hancur. Saya berharap, ke depan, aplikator harus fair. Tidak boleh sengaja menghancurkan performa driver dengan cara seperti itu,” katanya.
Beda nasib dengan Purnomo (56), warga Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang. Pria yang telah mengojek daring sejak tahun 2017 itu mengaku tidak tahu alasan dirinya belum mendapatkan BHR dari pihak aplikator.
”Saya tanya ke teman-teman yang satu aplikator, memang katanya belum cair dari sananya. Yang sudah cair itu dari aplikator lain,” kata Purnomo saat ditemui, Selasa malam.
Padahal, setiap hari, Purnomo mengojek dari pukul 07.00 hingga pukul 21.00 WIB. Dari pekerjaannya tersebut, Purnomo menghasilkan sekitar Rp 100.000 per hari. Namun, uang yang bisa dibawa pulang hanya sekitar Rp 60.000 karena sisanya untuk membeli bensin dan makan.
Ia berharap bisa segera mendapatkan BHR seperti para pengojek daring dari aplikator lainnya. Uang BHR itu akan dipakai untuk membeli kebutuhan sehari-hari keluarganya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/24/96d97cff-0558-49f8-a324-f5e436fa1910_jpg.jpg)
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan, pihaknya akan mengkaji keluhan dari sejumlah pengojek daring. Sebagian memang mengeluhkan BHR yang diterima hanya Rp 50.000, bahkan ada yang mengaku belum menerima.
Menurut dia, penyedia aplikasi harus mengklarifikasi besaran BHR yang diterima tiap mitra. Apalagi, nilai yang diterima berbeda-beda. Masing-masing kategori harus dijelaskan agar pemberian BHR pertama untuk ojek daring lebih transparan.
”Jadi, memang dalam SE itu kita bicara kepada mereka yang dikategorikan berkinerja baik dan produktif, kalau kita lihat ada yang dapat Rp 900.000, ada yang berapa gitu, kan. Tantangannya adalah bagaimana perusahaan aplikator ini mengategorikan di luar itu dan besaran berapa,” kata Yassierli.
Penulis:
Reny Sri Ayu, Kristi Dwi UtamiEditor:
Iqbal BasyariPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto