BI: Masih Terbuka Ruang Pemangkasan Suku Bunga Lebih Lanjut

Masih ada ruang bagi BI untuk memangkas suku bunga acuannya lebih lanjut. Namun, keputusan ini hanya diambil pada waktu yang tepat mempertimbangkan dinamika global.

19 Feb 2025 19:12 WIB · Ekonomi

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS — Bank Indonesia masih melihat ada ruang pemangkasan suku bunga acuan lebih lanjut dengan mempertimbangkan tingkat inflasi yang terjaga dan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, transmisi penurunan suku bunga acuan beberapa waktu lalu masih belum tampak dalam industri perbankan.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan, kondisi ekonomi global masih dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed hanya diperkirakan sekali sebesar 25 basis poin (bps) pada semester II-2025.

”Kami katakan, ada ruang penurunan BI Rate (suku bunga acuan) karena kami melihat inflasinya rendah dan kami terus mendukung pertumbuhan ekonomi. Tapi, untuk timing-nya kami harus pertimbangkan dinamika global,” katanya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Februari 2025, di Jakarta, Rabu (19/2/2025).

Berdasarkan hasil asesmen dalam RDG tersebut, BI memutuskan tetap mempertahankan suku bunga acuannya sebesar 5,75 persen. Keputusan ini ditempuh guna menjaga perkiraan inflasi pada 2025 dan 2026 tetap berada dalam sasaran 1,5-3,5 persen, stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental, serta mendorong pertumbuhan ekonomi. 

RDG BI Februari 2025

Perry menambahkan, pelebaran defisit fiskal Pemerintah AS membuat imbal hasil obligasi Pemerintah AS meningkat sehingga memicu ketidakpastian pasar keuangan global. Perkembangan tersebut menyebabkan preferensi investor global beralih untuk menempatkan portofolionya ke AS sehingga indeks mata uang dollar AS tetap tinggi dan menekan sejumlah mata uang dunia, termasuk rupiah.

Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (19/2/2025) ditutup sebesar Rp 16.357 per dollar AS. Dengan demikian, rupiah terdepresiasi 1,23 persen dibandingkan dengan penutupan pada akhir Desember 2024.             

”BI selalu berada di pasar dan hampir setiap hari kami intervensi, baik di pasar spot maupun DNDF (domestic non-deliverable forward), agar rupiah tetap stabil. Jadi, kami betul-betul intervensi (pasar) agar rupiah stabil,” ujar Perry.

Quote

BI selalu berada di pasar dan hampir setiap hari kami intervensi, baik di pasar spot maupun DNDF (domestic non-deliverable forward), agar rupiah tetap stabil. Jadi, kami betul-betul intervensi (pasar) agar rupiah stabil.

Menurut Perry, stabilitas merupakan unsur paling penting bagi suatu negara untuk dapat menggerakkan perekonomian, termasuk stabilitas nilai tukar. Dalam hal ini, mata uang suatu negara dikatakan stabil jika bergerak sejalan dengan mata uang negara kawasan (peers group).

Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti menambahkan, BI turut memperkuat dan memperkaya instrumen moneter dalam menjaga stabilitas rupiah. Selain dengan intervensi pasar, BI menerbitkan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUKBI).

Infografik Potensi Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA)

Keduanya sekaligus menjadi instrumen pelengkap dalam kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA) yang wajib ditempatkan 100 persen selama setahun. Dengan SVBI dan SVBI, para eksportir berpotensi memperoleh keuntungan (capital gain) sesuai dengan mekanisme pasar.

”Kebijakan DHE SDA 100 persen selama setahun, dengan lebih fleksibel, saya rasa akan memberikan dampak yang positif kepada pasar valas kita,” kata Destry.

Sebagai gambaran, saat penempatan retensi DHE SDA berlaku sebesar 30 persen selama tiga bulan, rerata nilai term deposit DHE yang ditempatkan di BI berkisar 2,5-3 miliar dollar AS. Adapun hal itu menjadi salah satu komponen dalam pembentukan cadangan devisa.

Transmisi suku bunga

Sebelumnya, BI memutuskan untuk memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen, tepatnya dalam RDG Januari 2025. Meski demikian, dampak pemangkasan tersebut dalam sebulan terakhir baru tertransmisikan ke pasar uang.

Deputi Gubernur BI Juda Agung menyampaikan, implikasi pemangkasan suku bunga kebijakan pada Januari 2025 lalu mulai tampak di pasar uang, seperti dalam suku bunga rata-rata pinjaman rupiah tanpa agunan antarbank (Indonesia Overnight Index Average/IndONIA), pasar repurchase agreement (repo), serta pasar uang antarbank (PUAB).

”Akan tetapi, untuk suku bunga dana dan suku bunga kredit memang perlu waktu, antara 3-6 bulan. Memang belum terlihat karena penurunan suku bunga baru bulan lalu. Jadi, belum terlihat di suku bunga dana dan kredit. Nanti kita tunggu, mudah-mudahan segera menyusul,” ujarnya.

Tren Harga Emas Indonesia dan Suku Bunga 2024

BI mencatat, pertumbuhan kredit perbankan pada Januari 2025 sebesar 10,27 persen secara tahunan ditopang oleh sisi penawaran dan permintaan. Dari sisi permintaan, pertumbuhan kredit didukung oleh kinerja penjualan korporasi yang masih tumbuh positif di tengah konsumsi rumah tangga yang terbatas.

Berdasarkan kelompok penggunaannya, pertumbuhan kredit modal kerja tumbuh 8,4 persen, kredit investasi 13,22 persen, dan kredit konsumsi 10,37 persen secara tahunan. Sementara itu, likuiditas perbankan memadai, tecermin dari rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) pada Januari 2025 yang sebesar 26,03 persen.

Quote

Kami masih diharapkan untuk memberikan kontribusi pertumbuhan kredit di atas 7-10 persen, tetapi tentu dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas dari setiap bank.

Dihubungi terpisah, Ekonom Senior dan Associate Faculty LPPI Ryan Kiryanto mengatakan, keputusan BI mempertahankan suku bunga acuannya terbilang tepat, terukur, dan terarah. Bauran kebijakan yang mendukung stabilitas sekaligus pertumbuhan diharapkan dapat memberikan pijakan bagi para pelaku ekonomi.

”Dengan demikian, pelaku ekonomi dan pelaku sektor keuangan perbankan tetap optimistis, namun tetap waspada dalam melakukan ekspansi kredit serta bisnisnya, guna menopang target pertumbuhan ekonomi 2025 berkisar 4,9-5,2 persen,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.

Infografis Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Indonesia

Tantangan likuiditas

Di sisi lain, Direktur Utama SMBC Indonesia Henoch Munandar mengatakan, industri perbankan dan dunia usaha berharap akan ada penyesuaian dari BI sehingga dapat membantu nasabah. Kendati demikian, ia yakin BI memiliki pertimbangan yang komprehensif dengan melihat pemangkasan suku bunga yang lebih lambat dibandingkan ekspektasi sebelumnya.

”Kami masih diharapkan untuk memberikan kontribusi pertumbuhan kredit di atas 7-10 persen, tetapi tentu dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas dari setiap bank,” katanya saat ditemui di Jakarta seusai acara SMBC Indonesia Economic Outlook 2025, Selasa (18/2/2025).

Dalam hal ini, Henoch melanjutkan, salah satu indikator bank yang mampu menjalankan fungsi intermediasi terlihat dari rasio kredit dibandingkan simpanannya atau loan to deposit ratio (LDR). Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, LDR industri perbankan per Desember 2024 mencapai 88,57 persen, lebih tinggi dibandingkan Desember 2023 yang sebesar 83,83 persen.

SMBC Indonesia

Henoch menyebutkan, SMBC Indonesia mengupayakan pertumbuhan kredit dalam rentang 7-9 persen pada 2025 dengan tetap mempertimbangkan kondisi likuiditas. Sebab, pengetatan likuiditas yang tecermin dari meningkatnya LDR membuat ruang ekspansi kredit perbankan kian terbatas.

”Memang tahun ini cukup menantang, terutama karena berbagai faktor eksternal, seperti kebijakan dagang dari AS yang akan berpengaruh ke negara kita. Namun, masih ada optimisme pertumbuhan ekonomi kita sedikitnya mencapai 5 persen,” ujarnya.

Di sisi lain, Direktur Keuangan PT Bank Danamon Tbk Muljono Tjandra menuturkan, industri perbankan mengharapkan adanya pemangkasan suku bunga acuan dari BI sebanyak satu kali lagi. Kebijakan tersebut akan berdampak positif bagi industri perbankan nasional.

”Kami berharap bahwa pemangkasan ini terjadi pada paruh pertama 2025 ini. Tentu saja, kami berharap, misalkan ada penurunan suku bunga, itu akan memberikan dampak yang positif untuk Bank Danamon maupun juga perbankan nasional,” katanya saat konferensi pers Laporan Kinerja Bank Danamon 2024 secara daring, Selasa (18/2/2025).


Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

Aris Prasetyo