Likuiditas 2025 Masih Menantang, Perbankan Bersiasat

Selama 2024, pertumbuhan kredit perbankan nasional sebesar 10,4 persen, sedangkan DPK hanya tumbuh 4,48 persen secara tahunan. Lantas, bagaimana pada 2025?

05 Feb 2025 15:48 WIB · Ekonomi

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS — Prospek industri perbankan masih dibayang-bayangi oleh tantangan likuiditas yang berpotensi menekan penyaluran kredit. Dalam menjawab tantangan tersebut, perbankan bersiap dengan fokus menjaga dana murah, mengoptimalkan kanal digital, dan menyalurkan kredit secara hati-hati.

Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Darmawan Junaidi mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 diperkirakan akan terakselerasi seiring dengan pemangkasan suku bunga acuan pada awal tahun. Kendati demikian, sebagian besar perbankan menghadapi tantangan terkait penghimpunan dana pihak ketiga (DPK).

”Pertumbuhan dana masyarakat secara nasional tertinggal dari pertumbuhan kredit dan menekan rasio kredit terhadap pendanaan perbankan. Namun, tantangan ini bukan penghambat bagi Bank Mandiri untuk dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara optimal,” katanya dalam konferensi pers Paparan Kinerja Bank Mandiri 2024, secara daring, Rabu (5/2/2025).

Selama 2024, pertumbuhan kredit industri perbankan nasional tercatat 10,4 persen secara tahunan, sedangkan DPK hanya tercatat tumbuh 4,48 persen secara tahunan. Artinya, terdapat selisih antara pertumbuhan kredit dan pertumbuhan DPK industri perbankan sekitar 6 persen.

Laporan Keuangan 2024 Bank Mandiri

Di tengah situasi tersebut, Bank Mandiri pada Desember 2024 tercatat telah menyalurkan kredit Rp 1.310 triliun atau tumbuh 20,7 persen secara tahunan. Adapun kualitas kredit yang tecermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) pada 2024 tetap terkendali sebesar 0,97 persen, turun 5 basis poin (bps) dari tahun lalu.

Pada periode yang sama, Bank Mandiri mencatatkan DPK sebesar Rp 1.619 triliun atau tumbuh 7,73 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh dana murah (current account savings account/CASA) yang mencapai Rp 1.217 triliun atau 80,3 persen dari total DPK.

Quote

Tantangan likuiditas masih terus terjadi di waktu-waktu mendatang, tetapi kami optimistis pertumbuhan dana pihak ketiga kami masih dapat menopang kebutuhan likuiditas untuk menunjang kebutuhan ekspansi bisnis.

Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Sigit Prastowo menambahkan, likuiditas yang masih ketat dan proyeksi penurunan suku bunga acuan menjadi tantangan bagi industri perbankan pada 2025. Kendati demikian, Bank Mandiri tetap optimistis mampu menghadapi tantangan tersebut dengan menjaga stabilitas tingkat profitabilitas perseroan.

”Tantangan likuiditas masih terus terjadi di waktu-waktu mendatang, tetapi kami optimistis pertumbuhan dana pihak ketiga kami masih dapat menopang kebutuhan likuiditas untuk menunjang kebutuhan ekspansi bisnis,” tuturnya.

Cuplikan kinerja Bank Mandiri selama 2024. Sumber: Bank Mandiri

Kendati demikian, Bank Mandiri akan terus memantau kondisi likuiditas dan menyesuaikan strategi pendanaan secara taktis. Terdapat beberapa opsi pendanaan non-DPK yang dapat dilakukan, seperti transaksi bilateral ataupun juga penerbitan surat utang.

Selain itu, Bank Mandiri juga akan mengoptimalkan dana murah transaksional dengan mendorong transaksi nasabah, baik wholesale maupun ritel. Ini dilakukan guna menjaga biaya dana (cost of fund) tetap rendah, baik melalui strategi pertumbuhan berbasis ekosistem maupun optimalisasi platform digital, seperti Livin’ by Mandiri dan Kopra by Mandiri.

Hingga akhir 2024, jumlah pengguna Livin’ by Mandiri telah menembus 29,3 juta dengan frekuensi transaksi mencapai 3,9 miliar transaksi atau tumbuh 38 persen secara tahunan. Sementara Kopra by Mandiri telah mengelola transaksi senilai Rp 22.700 triliun atau tumbuh 17 persen secara tahunan dengan frekuensi mencapai 1,3 miliar transaksi atau naik 21 persen secara tahunan.

Sementara itu, pertumbuhan kredit akan tetap didorong, baik segmen wholesale maupun ritel dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian. Beberapa sektor yang akan menjadi prioritas pertumbuhan kredit itu, antara lain industri makanan dan minuman, jasa kesehatan, telekomunikasi, serta energi.

Sejalan dengan optimalisasi ekosistem bisnis dan penguatan strategi digital, Bank Mandiri mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 55,8 triliun pada akhir 2024. Capaian ini meningkat 1,31 persen dibandingkan dengan tahun lalu yang sebesar Rp 55,1 triliun.

Petugas menyiapkan uang kertas di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Senin (9/12/2024). PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mengalokasikan uang tunai sebesar Rp 26 triliun untuk kebutuhan transaksi periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025. Alokasi ini naik 4,6 persen dari periode yang sama tahun lalu. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 9-12-2024

Bank digital

Di lain pihak, Presiden Direktur PT Krom Bank Indonesia Tbk Anton Hermawan menuturkan, pengetatan likuiditas akibat turunnya daya beli masyarakat pada 2024 turut menjadi tantangan bagi perbankan digital. Minimnya kenaikan upah dan harga barang yang tetap tinggi mengakibatkan nasabah menarik simpanan sehingga menyebabkan penurunan DPK dan perlambatan pertumbuhan kredit.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, perbankan digital perlu berinovasi, seperti menghadirkan produk pinjaman berbasis teknologi yang memudahkan akses kredit serta menawarkan deposito sesuai dengan kebutuhan nasabah. Lebih lanjut, kebijakan penurunan suku bunga acuan turut menjadi peluang bagi bank digital untuk meningkatkan permintaan kredit.

”Walaupun industri perbankan digital menunjukkan prospek cerah pada 2025, kami menyadari berbagai tantangan perlu diantisipasi. Berbekal resiliensi yang telah dibangun sepanjang 2024, kami optimistis dapat menjaga keberlanjutan dengan terus memperkuat diversifikasi produk dan inovasi layanan,” katanya dalam siaran pers.

Quote

Perlu diwaspadai risiko yang timbul akibat ketidakpastian global, seperti melambatnya penurunan suku bunga global seiring kecenderungan meningkatnya laju inflasi, meningkatnya volatilitas pasar keuangan dan fluktuasi perdagangan global dan harga komoditas yang disebabkan ’Trump Effect’, serta ketegangan geopolitik yang masih berlanjut.

Selain itu, persaingan suku bunga simpanan yang kompetitif juga menjadi tantangan bagi bank digital pada 2025. Meski suku bunga tinggi efektif dalam menarik nasabah, langkah tersebut dapat membebani struktur keuangan bank jika dilakukan tanpa strategi berkelanjutan.

Dalam menghadapi situasi tersebut, bank digital perlu mengombinasikan suku bunga menarik dengan inovasi produk dan layanan bernilai tambah. Adapun diversifikasi produk menjadi strategi utama untuk mempertahankan daya saing tanpa menimbulkan risiko likuiditas jangka panjang.

infografik Proyeksi Nilai Transaksi Bruto/ GMV Ekonomi Digital di Negara Asia Tenggara 2023

Anton menambahkan, penguatan likuiditas, penyaluran kredit yang prudent, dan pengembangan produk keuangan inovatif menjadi kunci dalam menjaga daya saing di tengah lanskap perbankan digital yang dinamis. Selain itu, manajemen risiko dan diversifikasi aset juga perlu dilakukan guna menjaga ketahanan finansial di tengah ketidakpastian global.

”Dengan strategi yang tepat, pengelolaan risiko yang disiplin dan inovasi yang berkelanjutan, Krom Bank dapat terus memberikan nilai tambah bagi nasabah sekaligus memperkuat posisi kami dalam industri perbankan digital pada 2025,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae menilai, pertumbuhan kredit perbankan pada 2025 masih akan berada pada tren yang positif. Hal ini sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih akan cukup baik sehingga dapat menarik minat investasi dan mendatangkan aliran dana ke domestik.

Selain itu, proyeksi penurunan suku bunga domestik pada 2025 juga diharapkan dapat berdampak positif pada penurunan biaya dana, tetapi tetap menarik bagi nasabah untuk menyimpan dananya di bank. Dengan demikian, DPK dapat meningkat dan likuiditas terjaga sehingga dapat menjadi sumber dana utama dalam melaksanakan penyaluran kredit perbankan.

”Meski demikian, perlu diwaspadai risiko yang timbul akibat ketidakpastian global, seperti melambatnya penurunan suku bunga global seiring kecenderungan meningkatnya laju inflasi, meningkatnya volatilitas pasar keuangan dan fluktuasi perdagangan global dan harga komoditas yang disebabkan ’Trump Effect’, serta ketegangan geopolitik yang masih berlanjut,” tutur Dian dalam keterangan tertulis, Jumat (24/1/2025).

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae memberikan keterangan setelah Peluncuran Peta Jalan Pengembangan dan Penguatan Industri Bank Perekonomian Rakyat-Bank Pembiayaan Rakyat Syariah atau BPR-BPRS pada 2024-2027, di Jakarta, Senin (20/5/2024).

Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

Aris Prasetyo