Berkali-kali, pemerintah menyatakan pentingnya penguasaan kecerdasan buatan, atau ”artificial intelligence”. Apakah itu kemauan serius atau sekadar ”omon-omon”?
05 Mar 2025 10:09 WIB · Politik & Hukum
Semasa kampanye Pemilihan Presiden atau Pilpres 2024, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menekankan pentingnya penguasaan kecerdasan buatan pada era disrupsi teknologi. Untuk itu, ia ingin menyiapkan anak-anak muda yang unggul dalam bidang tersebut. Sejauh mana realisasinya setelah Gibran menjabat Wakil Presiden selama empat bulan?
Sejumlah anak muda pegiat kecerdasan buatan, atau artificial intelligence (AI) menemui Wapres Gibran, di Kantor Wapres, Jakarta, Jumat (28/2/2025). Anak-anak muda itu berasal dari komunitas bernama AICO. Dari laman profil Instagram, yakni @aico.community, mereka mengaku sebagai salah satu komunitas AI terbesar di Indonesia.
Kepada Wapres, salah satu perwakilan AICO, Tommy Suteja, semula meragukan antusiasme masyarakat terhadap perkembangan AI. Tak dinyana, minat publik untuk mengetahui seluk-beluk teknologi anyar itu meningkat seiring berjalannya waktu. Lebih-lebih kalangan generasi muda.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/04/b7da0270a00b4059458e604bf3d34468-IMG_20250304_WA0158.jpg)
Tren itu mendorong Tommy dan rekan-rekan sekomunitasnya untuk turut berkontribusi. Itu seiring dengan visi pemerintah terkait pemanfaatan AI. Pihaknya menawarkan berbagai program pelatihan pada anak-anak sekolah.
”Kami ada program namanya ’Giving Back’. Jadi, ini seperti program nasional di mana kita ngajarin anak-anak Indonesia ke sekolah-sekolah buat belajar AI,” kata Tommy.
Dalam perjumpaan itu, Wapres dan para anggota AICO berbincang pula mengenai pemanfaatan AI di masa kini, utamanya membahas pentingnya penguasaan teknologi itu bagi generasi sekarang.
Wapres Gibran meyakini talenta digital Indonesia mampu bersaing di tingkat global. Pihaknya memotivasi agar anak-anak muda tidak sekadar menjadi konsumen teknologi. Hendaknya mereka juga mampu menjadi inovator dan pencipta solusi berbasis AI yang berdampak luas bagi masyarakat. Oleh karena itu, ia berjanji pemerintah akan terus mendukung pengembangan talenta digital melalui kebijakan pro-inovasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/04/9eb31a1f27dad1122c7bcbb5f7dbb007-IMG_20250304_WA0157.jpg)
Ditilik lebih jauh, Gibran juga menyinggung ihwal pentingnya AI sejak masih berstatus calon wapres. Gagasan itu disampaikannya saat gelaran debat calon wapres di Jakarta pada 22 Desember 2023. Ia menilai teknologi anyar itu bagian penting menuju era ”Indonesia Emas”.
”Untuk menuju Indonesia Emas, dibutuhkan generasi emas. Kita harus mampu mengubah future talents menjadi future opportunity. Kita harus punya future talents yang dilengkapi future skills. Untuk itu, hilirisasi digital akan kami genjot. Kami akan siapkan anak-anak muda yang ahli artificial intelligence, block chain, robotik, perbankan syariah, kripto, dan lain-lain,” janji Gibran kala itu.
Sebenarnya, ketertarikan Gibran dalam sektor teknologi sudah tampak sejak menduduki jabatan Wali Kota Surakarta.
Pada masa kepemimpinannya, ia menggaet sejumlah perusahaan berbasis teknologi untuk bekerja sama dengan unit layanan daerah yang bergerak dalam sektor inovasi dan kewirausahaan, yakni Solo Technopark.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/20/99d894a7-22af-40d1-8cc9-13a54bbc54dd_jpg.jpg)
Beberapa perusahaan yang sudah menjalin kerja sama dengan Solo Technopark adalah GoTo, Shopee, Garena, Indosat, Huawei, dan lain sebagainya. Jenis pelatihan yang tersedia juga bermacam-macam, mulai dari inkubasi bisnis digital, keamanan siber, hingga produksi gim.
Penjajakan kerja sama juga diupayakan Gibran sebelum ia menanggalkan jabatan wali kotanya. Kerja sama itu coba dilakukannya bersama NVIDIA. Bentuknya berupa pendirian pusat pelatihan AI di Solo Technopark. Menurut rencana, pusat pelatihan itu akan dibangun mulai 2025.
Sederet aktivitas itu boleh jadi menunjukkan keseriusan Gibran terhadap sektor pengembangan AI. Minat itu juga terawat ketika jabatannya berganti menjadi wapres. Itu tampak dari perjumpaannya bersama komunitas pegiat AI di tengah rutinitasnya mengecek ”Makan Bergizi Gratis” dan ”Cek Kesehatan Gratis”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/02/413642aee71848ba645416a376939a78-AFP_36WH8HJ.jpg)
Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menyatakan, ada kesadaran pemerintah mengenai AI sebagai teknologi penentu di masa kini hingga masa depan. Wacana pengembangan teknologi baru itu juga sudah beberapa kali disampaikan sedari Prabowo Subianto-Gibran berkampanye. Hendaknya momen pertemuan antara Gibran dan komunitas pegiat AI menjadi langkah awal dari gebrakan yang lebih besar pada sektor teknologi di kemudian hari.
”Semoga ini (pertemuan) ditindaklanjuti dengan langkah-langkah strategis. Jadi masyarakat bisa mendukung apa yang dilakukan pemerintah terkait rencana-rencana pembangunan teknologinya,” kata Heru.
Ia melihat masih banyak pekerjaan rumah yang mesti dirampungkan pemerintah. Jauh sebelum bicara AI, soal infrastruktur teknologi dan sistem pendukungnya mesti dijamin pemerataannya. Celakanya, jaringan internet belum menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Sedikitnya ada 20 persen wilayah yang belum tersambung koneksi internet.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/02/22/cec09b2d-b1e3-456d-9d57-3257a4db3a45_jpg.jpg)
Lebih dari itu, lanjut Heru, kecepatan internet juga masih menjadi persoalan di negeri ini. Dari 10 negara di Asia Tenggara, Indonesia menduduki peringkat ke-9 soal kecepatan internet. Padahal, internet termasuk bagian penting yang mendukung percepatan pengembangan teknologi.
”Harus ada solusi komprehensif agar infrastruktur teknologi diperkuat. Jadi, pengembangan teknologi digital bisa dimanfaatkan seluruh mengembangkan masyarakat,” kata Heru.
Heru menjelaskan, komitmen pemerintah mesti ditunjukkan dengan mendidik sumber daya manusia yang unggul. Dengan begitu, terlahir kreator teknologi bernilai ekonomi tinggi. Anak bangsa juga tak melulu dijadikan sasaran pasar karena sekadar berstatus pengguna teknologi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/28/fa78375edabe963ab1dafb05ccb1416c-AFP_36WA6QH.jpg)
Soal penganggaran juga menjadi komitmen lain yang tak kalah penting. Kebijakan itu akan menunjukkan keseriusan pemerintah. Kalangan swasta tidak bisa terus-menerus dijadikan sandaran.
”Kalau semuanya diserahkan kepada pihak swasta, mereka pasti maunya yang komersial saja. Tidak mau mereka mendidik talenta Indonesia sampai ke tempat-tempat terjauh,” kata Heru.
Era AI sudah di depan mata. Kesungguhan pemerintah menghadapinya patut dinanti. Semoga segala perjumpaan pemerintah sehubungan dengan teknologi anyar itu bukan sekadar ”omon-omon”, tetapi langkah nyata guna menyambut hadirnya generasi emas Indonesia.
Penulis:
Nino Citra AnugrahantoEditor:
Anita YossiharaPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari