Kontribusi Bill Gates dalam kesehatan dan pendidikan, termasuk di Indonesia, menjadi dasar penganugerahan tanda kehormatan Bintang Jasa Utama dari Pemerintah RI.
24 Sep 2025 10:26 WIB · Politik & Hukum
Presiden Prabowo Subianto memakaikan selempang Bintang Jasa Utama dari bahu kanan Bill Gates. Setelah itu, lencana tanda penghargaan disematkan di bagian kiri jas hitam Gates.
Penghargaan ini khusus disampaikan Presiden Prabowo saat bertemu dengan Gates di Landmark Room, Lantai 29, Hotel Millennium Hilton New York One UN Plaza, Selasa (23/9/2025), di sela rangkaian Sidang Ke-80 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
”Thank you for the humanitarian work not only in Indonesia but work for global citizenship, your service to human kind (Terima kasih atas kerja kemanusiaan, bukan hanya di Indonesia melainkan juga untuk masyarakat dunia, pelayanan untuk umat manusia),” tutur Presiden Prabowo seusai memberikan piagam penghargaan dan menyalami Bill Gates yang lahir dengan nama William Henry Gates III itu.
Hadir pula dalam pertemuan itu Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Pengelola Investasi Danantara Rosan Perkasa Roeslani, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
”Beautifull, thank you, fantastic,” ujar Gates mengomentari selempang dan bros bintang jasa yang bertengger di jasnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/24/0355b100080124ad31ef7275850f44f9-cropped_image.jpg)
Gates pun menegaskan komitmennya untuk Indonesia dan membantu dunia terutama di bidang kesehatan. Selain itu, dia juga mengapresiasi Pemerintah Indonesia yang memprioritaskan kesehatan dan agrikultural dalam pembangunan. Semua itu, katanya, adalah kunci yang akan mendorong kemakmuran.
Saat Gates tiba di lokasi pertemuan, Presiden Prabowo menyambut Gates dan berjabat tangan serta berfoto bersama. Dalam keterangannya seusai pertemuan, Presiden Prabowo mengatakan bahwa pertemuan dengan Bill Gates berlangsung sangat positif.
Menurut Presiden, Bill Gates memberikan perhatian dan bantuan luar biasa kepada Indonesia khususnya dalam bidang kesehatan. Peluang kerja sama pun dibahas. ”Bantuan riset, mencari benih-benih yang terbaik, obat-obatan, vaksin,” ujarnya.
Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Danantara, terus melakukan komunikasi bersama yayasan Bill Gates untuk proyek kemanusiaan. ”Proyek-proyek untuk membantu golongan yang paling lemah, bantu mengatasi kemiskinan, kelaparan, dan juga pendidikan, terutama pendidikan. Pendidikan kunci masa depan kita,” katanya.
Ihwal penghargaan Bintang Jasa Utama untuk Bill Gates sebenarnya sudah sempat disampaikan Prabowo saat menerimanya di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (7/5/2025). ”Saya akan menggelar rapat dewan tanda kehormatan. Sebab, saya ingin atas nama bangsa Indonesia memberi bintang tertinggi kita untuk salah seorang warga negara asing karena jasa-jasanya untuk membantu rakyat Indonesia dan rakyat dunia,” ujar Presiden Prabowo kala itu.
Saat itu, Presiden juga sempat mengajak Bill Gates meninjau pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Jati 03 Pulogadung, Jakarta Timur.
Presiden juga sempat menyebut bahwa Bill Gates memberikan bantuan senilai 9 miliar dollar AS setiap tahun. Khusus untuk Indonesia, Gates Foundation menyumbang senilai 159 juta dollar AS untuk Indonesia. Bantuan yang diberikan sejak tahun 2009 itu paling banyak mengalir untuk sektor kesehatan senilai 119 juta dollar AS. Sementara bantuan lainnya untuk sektor pertanian sebesar 5 juta dollar AS, teknologi senilai 5 juta dollar AS, serta bantuan lintas sektor lebih dari 28 juta dollar AS.
Sebaliknya, Gates pun menegaskan komitmennya untuk memperkuat gerakan filantropi di Indonesia. Bantuan pendanaan, terutama di bidang kesehatan, akan terus diberikan untuk pembangunan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Salah satunya, peran Gates Foundation dalam mendukung produksi vaksin polio melalui Bio Farma. Badan usaha milik negara itu kini menjadi salah satu produsen vaksin terbesar di dunia dengan kapasitas produksi hingga 2 miliar dosis per tahun. Bantuan aksi itu digunakan oleh 902 juta orang di 42 negara.
Kini, Indonesia ikut ambil bagian dalam uji klinis vaksin tuberkulosis (TBC) yang juga disponsori Gates Foundation. Uji klinis vaksin TBS M72/AS01E ini dimulai sejak Maret 2024 dengan setidaknya 2.000 partisipan di Indonesia. Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran Bandung juga ikut serta menjalankan uji klinis ini.
National Principal Investigator Vaccine M72 for Indonesia yang juga Guru Besar Bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Erlina Burhan, Kamis (8/5/2025), menjelaskan, uji klinis vaksin TB M72/AS01E tidak hanya dilakukan di Indonesia, tetapi ada empat negara lain yang juga terlibat, yakni Afrika Selatan, Kenya, Malawi, dan Zambia. Total partisipan yang terlibat dalam uji klinis fase ketiga ini berjumlah 20.000 orang dengan 2.000 orang di antaranya orang Indonesia.
Uji klinis fase ketiga ini, menurut Erlina, adalah tahap akhir untuk pengujian suatu vaksin. Sebelumnya sudah dilakukan serangkaian pengujian untuk memastikan keamanan, khasiat, dan manfaat dari vaksin yang dikembangkan. Pengujian, antara lain, sudah dilakukan pada skala laboratorium, pada hewan uji, dan pada manusia dengan jumlah terbatas. Karena itu, kata Erlina, uji klinis bukan uji coba seperti kelinci percobaan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/07/b665473a-96de-4e39-81e7-3a99faf53970_jpg.jpg)
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pun menjelaskan tiga alasan yang membuat Indonesia tertarik menjadi lokasi uji klinis fase ketiga vaksin M72/AS01E.
Pertama, pemerintah dapat mengetahui kecocokan vaksin tersebut dengan masyarakat Indonesia. Sebab, efikasi juga ditentukan oleh faktor genetik penerima vaksin. Kedua, Indonesia bisa mendapatkan akses terhadap teknologi vaksin TBC. Dalam uji coba ini, pengembangan vaksin TBC melibatkan ilmuwan dari Universitas Padjadjaran dan Universitas Indonesia.
Terakhir, ketika menjadi lokasi uji coba, Indonesia bisa bernegosiasi agar vaksin TBC diproduksi di Indonesia. Produksi vaksin bisa dilakukan lebih cepat di Bio Farma mengingat kasus tuberkulosis di Indonesia diperkirakan mencapai 1 juta kasus sehingga membutuhkan vaksin lebih cepat dalam jumlah banyak.
Penulis:
Nina SusiloEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan