Indonesia membutuhkan vaksin TBC hingga 10 juta dosis untuk mencegah penularan TBC.
08 Mei 2025 19:21 WIB · Humaniora
JAKARTA, KOMPAS — Indonesia akan mendapatkan keuntungan ketika menjadi lokasi uji coba vaksin tuberkulosis yang diinisiasi oleh Gates Foundation. Sebagai negara uji coba, Indonesia akan memperoleh data kecocokan genetik, akses teknologi, hingga negosiasi produksi vaksin.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, Gates Foundation yang dipimpin Bill Gates saat ini membiayai pengembangan vaksin tuberkulosis (TBC) di sejumlah negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Pengembangan vaksin TBC bahkan sudah sampai uji klinis fase ketiga dan kini diuji coba di tujuh negara, salah satunya di Indonesia.
”Vaksinnya sudah ada dan sekarang diuji coba di tujuh negara untuk melihat efeksi dan keamanannya. Diharapkan nanti di akhir 2028 itu bisa keluar hasilnya,” ujarnya di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (8/5/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/02/14/3d5eaf7b-b830-4aff-bd0d-d9835648d51d.jpg)
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memuji komitmen Gates Foundation mengenai pengembangan vaksin untuk penyakit TBC dan malaria. Bahkan, untuk TBC, Indonesia menjadi salah satu negara yang akan jadi lokasi uji coba vaksin tersebut. Ini mengingat tingkat kematian akibat TBC mencapai lebih dari 100.000 orang per tahun.
”Kami sangat menantikan terobosan dalam penanganan malaria dan TBC, yang saya rasa tidak akan terlalu lama lagi tercapai,” kata Prabowo saat pertemuan dengan Bill Gates di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (7/5/2025).
Budi melanjutkan, ada tiga alasan Indonesia tertarik menjadi lokasi uji klinis fase ketiga vaksi TBC yang diinisiasi Gates Foundation. Pertama, pemerintah dapat mengetahui kecocokan vaksin tersebut dengan masyarakat Indonesia. Sebab, efikasi juga ditentukan oleh faktor genetik penerima vaksin.
Produksi vaksin minimal 10 kali lipat agar bisa memastikan orang-orang tidak tertular.
Kedua, Indonesia bisa mendapatkan akses terhadap teknologi vaksin TBC. Dalam uji coba ini, pengembangan vaksin TBC melibatkan ilmuwan dari Universitas Padjdjaran dan Universitas Indonesia.
Terakhir, ketika menjadi lokasi uji coba, Indonesia bisa bernegosiasi agar vaksin TBC diproduksi di Indonesia. Produksi vaksin bisa dilakukan lebih cepat di Bio Farma. Mengingat, kasus tuberkulosis di Indonesia diperkirakan mencapai 1 juta kasus sehingga membutuhkan vaksin lebih cepat dalam jumlah banyak.
”Produksi vaksin minimal 10 kali lipat agar bisa memastikan orang-orang tidak tertular,” kata Budi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/01/03/389c842e-8a90-48ab-a760-48cb1582cb81_jpg.jpg)
Adapun uji klinis fase ketiga merupakan tahap akhir untuk pengujian suatu vaksin. Sebelumnya sudah dilakukan serangkaian pengujian untuk memastikan keamanan, khasiat, dan manfaat dari vaksin yang dikembangkan. Pengujian antara lain sudah dilakukan pada skala laboratorium, pada hewan uji, dan pada manusia dengan jumlah terbatas.
Dari hasil uji klinis fase 2B sebelumnya, vaksin TBC M72/AS01E yang diinisiasi Gates Foundation menunjukkan hasil yang cukup baik dengan tingkat perlindungan dari infeksi bakteri penyebab TBC hingga 50 persen selama tiga tahun pada orang usia dewasa. Pada uji klinis fase ketiga ini diharapkan tingkat perlindungan yang dihasilkan bisa lebih tinggi.
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) sekaligus Direktur Pascasarjana Universitas Yarsi Tjandra Yoga Aditama mengatakan, vaksin tuberkulosis yang baru dibutuhkan karena vaksin tuberkulosis yang sudah ada sebelumnya hanya efektif untuk anak-anak. Vaksin tuberkulosis BCG ditemukan pada tahun 1921 sehingga penemuan untuk vaksin baru diperlukan.
”Vaksin BCG sebelumnya memiliki efektivitas utama hanya untuk anak-anak saja. Jadi, patut kalau sekarang dibuat vaksin baru yang jauh lebih efektif,” ujarnya.
Penulis:
Iqbal Basyari, Nina SusiloEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto