Jelang Parlemen AS Bahas Aturan Kripto, Bitcoin Nyaris Tembus Rp 2 Miliar

Harga Bitcoin dalam jangka pendek masih bergejolak mengikuti dinamika politik di Amerika Serikat serta perkembangan geopolitik global.

15 Jul 2025 14:36 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Harga mata uang kripto, Bitcoin, mencapai rekor tertinggi pada perdagangan Senin (14/7/2025), yakni di atas 120.000 dollar AS. Rekor baru ini didorong oleh optimisme pasar menjelang pembahasan perundangan tentang kripto pekan ini oleh legislatif AS, serta peningkatan adaptasi kripto oleh investor institusi.

Mengutip Investing.com, Bitcoin sebagai mata uang kripto dengan pasar terbesar di dunia mencapai rekor tertinggi di 122.562 dollar AS pada perdagangan Senin atau 31 persen dari awal 2025. Nilai itu nyaris Rp 2 miliar.

Quote

Kapitalisasi pasarnya mencapai 2.335 triliun dollar AS sehinga menempatkan kripto sebagai aset keenam terbesar di dunia setelah emas, saham NVIDIA, saham Microsoft, saham Apple, dan saham Amazon.

Pergerakan harga Bitcoin diikuti mata uang kripto lainnya. Etherium, misalnya, naik 1 persen. Ada pula Solana yang naik 2 persen.

Kenaikan harga ini dengan cepat terkoreksi pada Selasa (15/7/2025) ke harga 117.321 dollar AS. Kapitalisasi pasarnya mencapai 2.335 triliun dollar AS sehinga menempatkan kripto sebagai aset keenam terbesar di dunia setelah emas, saham NVIDIA, saham Microsoft, saham Apple, dan saham Amazon.

Sisa saldo kripto WinCash Coin dalam dompet digital milik Gatuk Indarto di Banten, Rabu (1/12/2021). Saldo itu tidak dapat ditarik sejak pertengahan 2020 hingga kini karena dompet digital yang telah nonaktif.

Bitcoin melonjak selama seminggu terakhir, terutama didorong agenda Kongres Amerika Serikat yang resmi memulai ”Crypto Week”, yaitu agenda untuk membahas tiga rancangan undang-undang (RUU) besar terkait aset digital kripto pada pekan ketiga Juli 2025.

RUU kripto yang dimaksud adalah Guiding and Establishing National Innovation for United States Stablecoins (Genius) Act, Clarity Act, dan Anti‑CBDC Surveillance State Act.

Quote

Bagi investor ritel ataupun proyek ’blockchain’, Crypto Week bukan sekadar agenda legislatif, melainkan momentum bersejarah yang bisa mengubah peta industri kripto dalam jangka panjang.

”Bagi investor ritel ataupun proyek blockchain, Crypto Week bukan sekadar agenda legislatif, melainkan momentum bersejarah yang bisa mengubah peta industri kripto dalam jangka panjang,” tulis platform penjualan kripto Indonesia, Indodax, dalam laman resminya.

Crypto Week tahun ini menjadi titik balik penting bagi masa depan kripto, tidak hanya di Amerika Serikat, tetapi juga di kancah global. Tiga RUU besar yang sedang dibahas, yaitu GENIUS Act, Clarity Act, dan Anti-CBDC Act, akan mewakili arah baru dalam pengaturan aset digital, seperti legalitas yang jelas, ruang inovasi yang sehat, serta perlindungan terhadap kebebasan finansial.

Grafik Bitcoin sebulan terakhir hingga memecahkan rekor di Senin (14/7/2025), ke level 123.000 dollar AS.

Jika seluruh RUU disahkan, pasar kripto global akan memasuki fase baru dengan regulasi yang lebih ramah. Situasi ini juga akan mendorong partisipasi investor institusi dan mempercepat adopsi teknologi kripto dalam kehidupan sehari-hari. 

Direktur riset di perusahaan keuangan Morningstar, Bryan Armour, dikutip dari ABC News, mengatakan bahwa kebijakan kilat di parlemen menandai perkembangan positif terbaru bagi kripto di AS. Sejak Presiden AS Donald Trump menang dalam pemilihan umum presiden pada November 2024, harga Bitcoin telah melonjak hampir 80 persen.

Kenaikan harga aset kripto selama beberapa bulan terakhir juga sebagian didorong oleh persetujuan AS pada pemanfaatan produk Exchange-Traded Funds (ETF) Bitcoin pada 2024. Produk ETF ini memungkinkan investor untuk membeli aset yang memanfaatkan pergerakan harga bitcoin, sekaligus untuk menghindari risiko pembelian koin kripto.

Meningkatnya permintaan produk ETF Bitcoin turut menaikkan harga Bitcoin. Menurut The Block, sebuah outlet yang meliput aset digital, investor telah menempatkan lebih dari 1 miliar dollar AS ke dalam ETF Bitcoin pada pekan lalu.

Kenaikan harga juga disebabkan oleh semakin dekatnya batas pasokan Bitcoin, yang berarti tingginya permintaan telah melampaui jumlah Bitcoin baru.

A photo illustration of Bitcoin is seen at consensus, the flagship event of Coindesk and the data platform for the global crypto economy, at the Convention and Exhibition Centre in Hong Kong on February 19, 2025, the first time consensus is being held outside of the US in five years. (Photo by Peter PARKS / AFP)

Potensi koreksi

Kenaikan harga Bitcoin tidak bertahan lama setelah Trump mengancam pengenaan tarif 100 persen terhadap Rusia jika konflik dengan Ukraina tidak segera diakhiri. Hal ini disampaikan Trump dalam konferensi pers bersama Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte.

Ia menegaskan bahwa Rusia akan dikenai sanksi tarif tambahan dalam waktu 50 hari jika tidak mencapai kesepakatan damai. Trump juga mengumumkan kesepakatan pengiriman senjata besar-besaran ke Ukraina yang akan didanai oleh negara-negara Eropa dan diproduksi oleh AS.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, dalam rilisnya mengatakan, pernyataan tersebut memicu kekhawatiran pasar dan mendorong aksi ambil untung oleh investor yang telah meraih cuan dari reli harga Bitcoin akhir pekan lalu.

<p>This photograph taken on April 26, 2021 in Paris shows a physical imitation of the Bitcoin crypto currency pictured with a US one dollar bank note. (Photo by Martin BUREAU / AFP)</p>

Dalam 24 jam terakhir saja, likuidasi posisi Bitcoin mencapai sekitar 301 juta dollar AS. Ini mencerminkan tekanan jual yang cukup besar. Fyqieh menganalis, jika tren penurunan berlanjut, Bitcoin bisa terus merosot ke level 115.000 dollar AS.

”Jika berhasil bertahan di atas level ini, Bitcoin mungkin akan mendapatkan kembali momentum dan bergerak menuju level yang lebih tinggi,” katanya.

Fyqieh memproyeksikan harga Bitcoin bisa mencapai 200.000 dollar AS atau sekitar Rp 3,25 miliar hingga akhir 2025. Ini dengan catatan pasokan terbatas dan akumulasi institusional berlanjut.

Namun, ia juga menekankan bahwa gejolak akan tetap tinggi. Hal ini terutama menjelang pengumuman data inflasi AS per Juni 2025 pada Selasa (15/7/2025) dan keputusan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve, berikutnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra