Situasi ekonomi saat ini membuat masyarakat mencari alternatif yang bisa membantu mereka menjaga dan menumbuhkan nilai kekayaan.
05 Jul 2025 15:06 WIB · Ekonomi & Bisnis
Berinvestasi menjadi strategi masyarakat dalam mengelola uang dan harta kekayaan mereka. Di tengah tekanan ekonomi global, banyak individu yang mengubah cara mereka berinvestasi.
Kondisi ekonomi yang menekan menimbulkan kekhawatiran soal masa depan. Survei Konsumen Bank Indonesia terbaru pada Mei 2025 mencatat adanya penurunan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi.
Meskipun masih di level optimistis di atas 100, indeks penghasilan Mei lalu turun ke level 118,1 dari April 2025 di level 125,4. Indeks pembelian barang tahan lama juga turun drastis menjadi 104,1 dari 113,9 pada bulan sebelumnya. Sementara itu, indeks ketersediaan lapangan kerja pada Mei lalu anjlok ke level pesimistis di 95,7, pertama kali setidaknya dalam dua setengah tahun terakhir.
Dalam kondisi seperti ini, laporan terbaru YouGov yang menyurvei 2.067 responden dewasa di Indonesia secara daring mencatat, masyarakat semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial, lebih melek digital, dan mencari alternatif investasi yang lebih stabil.
Perusahaan survei global itu juga menyebutkan, emas masih mendominasi sebagai pilihan utama investasi. Aset safe haven ini memang terus mengalami kenaikan harga di tengah pelemahan daya beli dan pendapatan masyarakat. Sejak awal tahun hingga Sabtu (5/7/2025), harga emas dunia sudah naik 25 persen ke level 3.335 dollar AS per troy ons.
Kenaikan harga emas berkaitan dengan permintaan masyarakat yang tinggi. Perhiasan emas, misalnya, menurut Badan Pusat Statistik, menjadi kontributor dominan inflasi bulanan pada Juni 2025 yang naik 1,87 persen secara tahunan, selain beras dan tiket pesawat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/15/155e78769f2b989e9bac4dedb28804da-IMG_2404.JPG)
Pada bulan lalu, harga perhiasan emas menambahkan 0,02 persen terhadap inflasi bulanan dan 0,48 persen terhadap inflasi tahunan. Perhiasan emas menjadi kontributor paling konsisten sejak awal tahun dan menjadi pendorong inflasi teratas selama enam bulan berturut-turut.
Pengamat komoditas, Lukman Leong, menyebut, kenaikan harga emas lebih didorong permintaan institusi, seperti perusahaan investasi hingga bank sentral di berbagai belahan dunia, yang mulai meninggalkan aset seperti mata uang asing. Namun, permintaan emas dari masyarakat memang bisa mendukung secara sentimen.
”Masyarakat yang konservatif dan mampu umumnya membeli emas fisik, seperti emas batangan Antam atau emas digital. Namun, yang modern dan agresif memilih emas non-fisik, seperti aset berjangka ETF,” tuturnya saat dihubungi Kompas.
Masyarakat yang konservatif dan mampu umumnya membeli emas fisik, seperti emas batangan Antam atau emas digital. Namun, yang modern dan agresif memilih emas non-fisik, seperti aset berjangka ETF.
Permintaan emas juga semakin besar dengan beragamnya produk keuangan terkait emas yang didukung teknologi. Kehadiran aset berbasis emas di pasar derivatif makin beragam dengan hadirnya produk ETF atau semacam reksa dana, yang kini sudah mulai dikembangkan di banyak pasar modal, termasuk di Bursa Efek Indonesia.
”Dengan leverage seperti futures, tentunya produk berbasis emas akan lebih murah karena didukung margin. Contohnya, untuk membeli emas senilai Rp 1 miliar hanya dibutuhkan margin Rp 2 juta hingga Rp 10 juta. Namun, ada risiko apabila equity terlalu pas-pasan, posisi bisa terlikuidasi apabila harga turun banyak,” ujarnya.
Margin dalam derivatif keuangan adalah sejumlah dana yang disetorkan oleh investor kepada broker sebagai jaminan untuk membuka dan mempertahankan posisi dalam perdagangan derivatif, seperti kontrak berjangka (futures) atau opsi. Margin ini berfungsi sebagai agunan untuk melindungi broker dari potensi kerugian yang mungkin timbul akibat fluktuasi harga aset dasar yang mendasari kontrak derivatif tersebut.
Selain emas, aset berisiko, seperti kripto, juga disebut tetap menunjukkan pertumbuhan permintaan, menurut survei YouGov.
CEO Tokocrypto Calvin Kizana menilai, sebagian masyarakat tidak lagi hanya mengandalkan tabungan konvensional, tetapi juga mulai mencari alternatif yang dapat memberikan imbal hasil dan pertumbuhan nilai aset dalam jangka panjang.
”Situasi ekonomi saat ini membuat masyarakat mencari alternatif yang bisa membantu mereka menjaga dan menumbuhkan nilai kekayaan. Aset digital seperti kripto menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan karena bisa diakses lebih luas,” katanya dalam siaran pers.
Akses masyarakat pada mata uang kripto semakin tinggi, antara lain, karena naiknya keterbukaan dan kepercayaan masyarakat pada aset tersebut. Pernyataan tersebut sejalan dengan hasil survei Consensys dan YouGov pada 2024 terhadap 1.041 responden berusia 18-65 tahun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/05/8f028327-0fc9-4056-8230-e53a563d42b0.jpg)
Calvin juga berpendapat, pertumbuhan nilai dalam dunia kripto terjadi karena kontribusi kolektif dari para pengguna, pengembang, dan institusi yang terus membangun solusi berbasis teknologi blockchain. Ekosistem kripto memberikan peluang lebih luas, mulai dari pengembangan teknologi, adopsi DeFi (decentralized finance), hingga peningkatan literasi keuangan digital yang inklusif dan merata.
”Yang paling penting bukan hanya membeli kripto, tetapi juga memahami prinsipnya. Kripto adalah tools (alat). Kalau digunakan dengan benar dan bijak, ini bukan soal menang atau kalah, tapi soal menciptakan nilai baru,” kata Calvin.
Pasar kripto mengawali bulan Juli dengan lonjakan harga walaupun tetap dibayangi ketidakpastian geopolitik. Mata uang populer, seperti Bitcoin (BTC), mencetak harga tertinggi dalam tiga minggu terakhir dengan menyentuh 109.600 dollar AS atau sekitar Rp 1,77 miliar (kurs dolar AS Rp 16.213) pada Kamis (3/7/2025). Nilai itu ditembus sejak Bitcoin melewati harga 111.000 dollar AS pada Mei lalu.
Ini terjadi di tengah sentimen pasar yang beragam menjelang batas waktu penting dalam kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump telah menegaskan tidak akan memperpanjang tenggat negosiasi perdagangan pada 9 Juli dan berencana untuk menerapkan tarif tambahan jika tidak ada kesepakatan yang tercapai.
”Tekanan geopolitik terkait tarif, terutama menjelang batas waktu negosiasi pada 9 Juli, sempat menimbulkan turbulensi di pasar kripto. Di sisi lain, ketidakpastian makro justru memicu aksi beli spekulatif, khususnya pada altcoin, sebagai bentuk diversifikasi dan lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi,” kata analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/04/06/6a1ccf66-25a8-4275-9f90-57dd979a6956.jpg)
Juli yang secara historis positif bagi Bitcoin, dengan rata-rata kenaikan bulanan sekitar 8,09 persen, turut membuka jalan bagi reli lanjutan, termasuk untuk koin alternatif (altcoin) selain Bitcoin.
”Reli altcoin saat ini menunjukkan bahwa pasar mulai mencari peluang di luar dominasi Bitcoin, didorong oleh harapan terhadap pelonggaran suku bunga The Fed dan potensi arus modal institusi ke aset digital,” tambah Fyqieh.
Sementara itu, analis Stabdard Chartered Geoff Kendrick juga memperkirakan tren naik akan berlanjut. Bank tersebut memproyeksikan harga Bitcoin mencapai 135.000 dollar AS pada akhir triwulan III-2025 dan 200.000 dollar AS pada akhir 2025, seiring meningkatnya partisipasi institusi dan sentimen positif terhadap ETF kripto.
Meski demikian, investor tetap disarankan untuk mencermati risiko jangka pendek dari sisi geopolitik dan makroekonomi, termasuk ketegangan tarif AS dan ketidakpastian global yang sedang berlangsung.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto