BJ Habibie, Intens Anjangsana Saat Lebaran (3)

Menjalani masa kepresidenan di tengah krisis pasca-Reformasi 1998, Presiden ketiga RI BJ Habibie intens silaturahmi ke berbagai kalangan saat Lebaran.

30 Mar 2025 14:34 WIB · Politik & Hukum

Oleh Cyprianus Anto Saptowalyono, Nina Susilo, Nino Citra Anugrahanto

Presiden BJ Habibie sejauh ini adalah presiden Republik Indonesia dengan masa jabatan paling singkat, yakni hanya beberapa bulan, terhitung dari 21 Mei 1998 hingga 20 Oktober 1999. Meski demikian, masa pemerintahannya di tengah era Reformasi itu melintasi pula momen perayaan Lebaran. Seperti apa suasananya?

Merujuk arsip pemberitaan Kompas, pada Lebaran hari pertama, 19 Januari 1999, Presiden BJ Habibie beserta Nyonya Ainun Habibie berkunjung ke kediaman Jenderal Besar (Purn) Abdul Haris Nasution di Jalan Teuku Umar Nomor 43, Jakarta. Pertemuan akrab serta hangat antara Presiden Habibie dan AH Nasution yang didampingi istrinya, Ny Yohana Nasution, berlangsung sekitar 30 menit.

”Saya bicara seperti ayah kepada anaknya,” ucap AH Nasution yang juga mengungkapkan kegembiraannya atas pertemuan dengan Presiden BJ Habibie di momen Idul Fitri tersebut.

Menurut Nasution, dalam pertemuan dengan Presiden BJ Habibie ini tidak dibicarakan persoalan politik. Namun, saat itu, Nasution mengatakan, masyarakat selayaknya tahu bahwa pemerintahan BJ Habibie memiliki program yang dijalankan. Salah satunya adalah pemilu yang akan digelar pada Juni 1999 untuk memilih DPR.

Quote

Kita menyepakati untuk meletakkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok maupun pribadi.

Presiden dan Ny Hasri Ainun Habibie, Kamis (8/4) mendaftarkan diri menjadi peserta pemilu di Panitia Pemungutan Suara dan Panitia Pendaftaran Pemilih RW 04 Kelurahan Kuningan Timur, Jakarta Selatan. Terkait berita Kompas, 09-04-1999, 6. Judul Amplop : Habibie Daftar Pemilu *** Local Caption *** Presiden dan Ny Hasri Ainun Habibie, Kamis (8/4) mendaftarkan diri menjadi peserta pemilu di Panitia Pemungutan Suara dan Panitia Pendaftaran Pemilih RW 04 Kelurahan Kuningan Timur, Jakarta Selatan. Terkait berita Kompas, 09-04-1999, 6. Judul Amplop : Habibie Daftar Pemilu

Sebelumnya, menurut Antara, Presiden BJ Habibie juga bersilaturahmi ke sejumlah tokoh. Presiden berkunjung ke rumah mantan Direktur Utama Pertamina Mayor Jenderal TNI (Purn) Ibnu Sutowo. Berikutnya, bertandang ke rumah mantan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn) Surono, mantan Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah dan Sudharmono, serta kerabatnya, yakni Kol (CPM-Purn) Roesli.

Adapun pada Lebaran hari kedua, 20 Januari 1999, Presiden BJ Habibie bersilaturahmi ke ibu mertuanya, S Moh Besari, di Jalan Ranggamalela 21, Bandung, Jawa Barat. Presiden didampingi Ny dr Hasri Ainun Besari serta kedua anaknya, Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie. Kunjungan tersebut bersifat pribadi, bukan dinas, sehingga tertutup bagi pers.

Dua hari sebelumnya, pada Senin (18/1/1999) malam, Presiden BJ Habibie memberikan sambutan Malam Takbir di Masjid Istiqlal, Jakarta.

”Kita sebagai bangsa, pada saat ini, sedang mengalami suasana keprihatinan nasional. Krisis yang sedang kita upayakan pemecahannya sungguh merupakan musibah dan ujian yang tidak ringan bagi bangsa Indonesia,” ujar Habibie.

Foto saat Presiden BJ Habibie memukul beduk di Masjid Istiqlal, Jakarta. Foto ini dipasang di buku BJ Habibie yang berjudul "Detik-Detik yang Menentukan".

Sehubungan dengan hal tersebut, pada hari Idul Fitri 1419 Hijriah, Kepala Negara mengajak semua pihak sabar menghadapi musibah. Ajaran Islam menekankan, kesabaran bukanlah bersikap pasif atau pasrah. Kesabaran adalah suatu sikap yang istikomah atau konsisten di jalan Allah, optimistis, dan bersangka baik terhadap kehendak Allah.

Presiden Habibie kala itu juga mengajak semua pihak meningkatkan upaya pengendalian diri dari tindakan-tindakan yang merugikan masyarakat, melawan hukum, dan menggoyahkan sendi persatuan serta kesatuan bangsa. Warga diajak menghadapi segenap persoalan dengan jernih dan rasional, tidak membawa emosi atau terdorong kepentingan pribadi serta kelompok.

”Kita menyepakati untuk meletakkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok maupun pribadi,” ujar Presiden Habibie.

Meski tidak ringan, Habibie menuturkan keyakinannya bahwa dengan pertolongan Allah SWT, bangsa Indonesia dapat keluar dari keadaan keprihatinan dan melanjutkan langkah reformasi menuju masyarakat madani.

Foto relasi antara Presiden ke 3 Republik Indonesia Habibie dengan wartawan yang dipajang di Kantor Presiden, Jakarta.

Berikutnya, pada Jumat (22/1/1999), bertempat di Istana Negara, Presiden BJ Habibie bersilaturahmi dengan karyawan Sekretariat Negara (Setneg). Selain itu, dalam rangka Lebaran, Kepala Negara pun bersilaturahmi dengan Wartawan Kelompok Setneg (WKS).

Acara silaturahmi dengan Presiden pada Lebaran tahun 1999 ini merupakan hal rutin karena juga dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Hal yang membedakan, silaturahmi kali ini dilakukan di ruang kerja Presiden Habibie.

Di ruangan yang dilengkapi komputer dan berbagai peralatan kerja tersebut, Presiden Habibie menyalami para wartawan yang sehari-hari meliput aktivitas presiden. Kepala Negara pun bersalaman dengan puluhan karyawan Setneg, terutama yang bertugas di Istana Merdeka dan Istana Negara.

Mantan Presiden BJ Habibie bersama istri, 2009.

Presiden BJ Habibie dikenal sebagai sosok negarawan. Hal ini pun terabadikan dalam Tajuk Rencana Kompas, Kamis (21/10/1999), yang memilih judul ”Presiden Habibie Mundur secara Terhormat”.

Tertulis di paragraf-paragraf awal tajuk tersebut ketika Presiden BJ Habibie menarik diri dari pencalonan presiden. Hal ini diputuskan Habibie setelah pertanggungjawabannya ditolak oleh MPR dengan selisih tipis, yakni 355 menolak, 322 menerima.

Langkah Presiden ketiga RI tersebut, tulis Kompas, bukan saja mundur dengan santun—graciously—dan terhormat. Langkah itu menempatkannya sebagai negarawan yang meninggalkan warisan bersejarah.

Ilham Habibie menaburkan tanah ke makam bapaknya, almarhum Presiden ke-3 Indonesia BJ Habibie di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Kamis (12/9/2019). Kompas/Heru Sri Kumoro12-09-2019

Meski era pemerintahannya singkat, Presiden Habibie telah menorehkan kinerja dan pengabdiannya bagi Tanah Air. Sejarah yang mencatat jejak kepemimpinannya di negeri ini.

”Alhamdulillah, semua dapat saya lewati dalam 17 bulan pemerintahan saya. Singkat, memang. Tetapi semua itu bagi saya dan keluarga sudah cukup dan cukup,” kata Presiden Habibie dalam bukunya yang berjudul Habibie & Ainun” terbitan PT THC Mandiri.


Kerabat Kerja

Penulis:

Cyprianus Anto Saptowalyono, Nina Susilo, Nino Citra Anugrahanto
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro