Lebaran di Era Soeharto, Shalat Id Pertama di Istiqlal hingga Menabuh Beduk Raksasa (2)

Setelah acap digelar di halaman Istana, pada 1970, Presiden Soeharto menjalankan shalat Idul Fitri di Masjid Istiqlal, Jakarta. Menandai tradisi baru.

30 Mar 2025 13:13 WIB · Politik & Hukum

Oleh Cyprianus Anto Saptowalyono, Nina Susilo, Nino Citra Anugrahanto

Berkuasa selama sekitar tiga dekade, dengan masa jabatan kepresidenan terentang dari 27 Maret 1968 hingga 21 Mei 1998, Soeharto memiliki pengalaman sebanyak 30 kali merayakan Lebaran saat berada dalam posisi sebagai presiden.

Melalui arsip pemberitaan dan foto di Kompas, kita dapat menyimak lagi momen aktivitas Soeharto saat merayakan Lebaran dari tahun ke tahun di masa kepresidenannya tersebut. Berikut petikannya, dicuplik dari pemberitaan saat Soeharto menduduki posisi pejabat presiden, periode awal menjadi presiden, dan tahun-tahun terakhir masa jabatannya.

Pada 3 Januari 1968, Harian Kompas memberitakan, pada Senin, 1 Januari 1968, di halaman Istana telah dilakukan shalat Id yang diikuti Penjabat Presiden Jenderal Soeharto, sejumlah menteri Kabinet Ampera, para panglima, dan para anggota perwakilan asing. Menteri Agama KHM Dachlan saat itu bertindak selaku Imam, sementara khatibnya Prof Dr Hamka.

Kala itu, selepas khatib menyampaikan khotbah, Soeharto memberikan sambutan singkat. Soeharto berpesan, antara lain, makna berpuasa adalah mempertebal dan melaksanakan iman kepada Allah serta membina disiplin, menahan hawa nafsu. Selanjutnya, Soeharto mengajak semua pemimpin dan rakyat memanfaatkan hikmah puasa tersebut untuk bekerja keras membangun bangsa dan negara.

Quote

Memberantas kemiskinan dan kemelaratan adalah tugas yang diwajibkan oleh Islam.

<p>Sungkem &#8212; Keluarga Presiden Soeharto, Jumat (30/1) seusai shalat Ied, di Mesjid Istiqlal, Jakarta, mengadakan sungkeman keluarga di kediaman Jalan Cendana, Jakarta. Prabowo Subianto serta isteri dan anaknya sungkem pada Presiden Soeharto pada Lebaran 1998 di Jalan Cendana Jakarta.<br /> *** Local Caption *** Sungkem &#8212; Keluarga Presiden Soeharto, Jumat (30/1) seusai shalat Ied, di Mesjid Istiqlal, Jakarta, mengadakan sungkeman keluarga di kediaman Jalan Cendana, Jakarta. Prabowo Subianto serta isteri dan anaknya sungkem pada Presiden Soeharto pada Lebaran 1998 di Jalan Cendana Jakarta.</p><p>Terkait berita Kompas, 01-02-1998, 1.<br />Judul Amplop: Sungkem</p>

Setelah satu tahun menjadi penjabat presiden, persisnya pada 27 Maret 1968, Soeharto secara resmi dilantik oleh MPR Sementara sebagai Presiden kedua Republik Indonesia. Pelantikan ini menandai awal masa jabatan lima tahun pertamanya sebagai Presiden Indonesia.

Di Lebaran pertamanya sebagai presiden, Presiden Soeharto dan Nyonya Tien Soeharto memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan ucapan selamat di rumahnya, di Jalan Cendana 8, Jakarta dengan pengaturan sebagai berikut.

Mulai tanggal 21 Desember pada pukul 10.00-12.00 WIB diberi kesempatan pada masyarakat, demikian juga pada hari berikutnya pada pukul 09.00-12.00 dan pukul 19.00-22.00.

Adapun tanggal 23 Desember, pukul 09.00-12.00, untuk para duta besar asing di Jakarta dan stafnya, sedangkan pada malam harinya, dari pukul 19.00-22.00 untuk masyarakat Indonesia.

Pada sembahyang Idul Fitri di halaman Istana pada Sabtu, 21 Desember 1968, Presiden Soeharto mengajak umat Islam dan seluruh umat beragama memerangi sumber kemiskinan dengan pembangunan. ”Memberantas kemiskinan dan kemelaratan adalah tugas yang diwajibkan oleh Islam,” demikian kata Soeharto kala itu.

Presiden dan Ibu Tien Soeharto Sungkem (sembah sujud) pada ibunda Sumohardjo di kediamannya Jalan Cendana seusai melakukan sembahyang Idul Fitri 1 Syawal 1403 H, hari Selasa.

Saat memberikan sambutan pada sembahyang Idul Fitri di halaman Istana Negara, 11 Desember 1969, Presiden Soeharto menegaskan, kemajuan Islam dan bangsa merupakan dua hal yang saling menguatkan. Sesuai dengan kebesaran jiwa Islam, kemajuan itu bukan hanya untuk kepentingan umat Islam saja, melainkan untuk kepentingan seluruh rakyat.

Ribuan hadirin

Selesai shalat Idul Fitri, Presiden Soeharto yang mengenakan peci, sarung, dan sandal menerima ucapan selamat Lebaran dari kaum Muslimin dan Muslimat yang hadir. Selama lebih kurang 1,5 jam, Presiden Soeharto berdiri di serambi halaman Istana Merdeka, bersalam-salaman dengan sekitar 4.000 hadirin.

Harian Kompas pun mencatat, untuk pertama kalinya Presiden Soeharto melakukan shalat Id di luar Istana pada 1970. Peristiwa ini tertulis di badan berita berjudul ”Atjara2 Chusus RRI Djakarta Menjambut Idul Fitri” yang terbit di Kompas, Sabtu 28 November 1970. Tertulis di paragraf awal berita tersebut bahwa pidato Presiden Soeharto menyambut hari raya Idul Fitri 1390 Hijriah akan disiarkan secara sentral oleh RRI, langsung dari tempat upacara sembahyang Idul Fitri (Masjid Istiqlal).

Disaksikan Presiden Soeharto. Ny. Tien Soeharto melakukan sembah sungkem kepada ibunda Presiden Soeharto untuk mohon maaf dan minta doa restu, pada Hari Raya Idul fitri 1 Syawal 1402 H&quot;, Jumat, 23 Juli 1982. Sembah sungkem ini berlangsung di rumah kediaman Presiden Seharto di Jalan Cendana, sebelum Kepala negara menerima ucapan &quot;Selamat dari para pejabat, perwakilan asing dan warga kota. terkait foto lepas oleh JB Suratno (rat) yang dimuat di Kompas, Sabtu, 24 Juli 1982 di halaman I. *** Local Caption *** Disaksikan Presiden Soeharto. Ny. Tien Soeharto melakukan sembah sungkem kepada ibunda Presiden Soeharto untuk mohon maaf dan minta doa restu, pada Hari Raya Idul fitri 1 Syawal 1402 H&quot;, Jumat, 23 Juli 1982. Sembah sungkem ini berlangsung di rumah kediaman Presiden Seharto di Jalan Cendana, sebelum Kepala negara menerima ucapan &quot;Selamat dari para pejabat, perwakilan asing dan warga kota. terkait foto lepas oleh JB Suratno (rat) yang dimuat di Kompas, Sabtu, 24 Juli 1982 di halaman I.

Beberapa dekade berikutnya, pada Selasa, 20 Februari 1996, Presiden Soeharto seusai shalat Idul Fitri di Masjid Istiqlal Jakarta juga memperingati ulang tahunnya yang ke-77 menurut perhitungan Jawa. Bertempat di kediaman Jalan Cendana, dengan didampingi Ny Tien Soeharto dan para cucu, Presiden Soeharto memotong tumpeng ulang tahun.

Presiden kemudian menerima sungkeman dari Ny Tien Soeharto yang diikuti putra-putri, para menantu, cucu, serta kerabat dekat. Wapres Try Soetrisno dan Ny Try Soetrisno serta para menteri Kabinet Pembangunan VI dan pejabat tinggi lain pun mengucapkan selamat Lebaran.

Beduk raksasa

Momen perayaan secara kolosal dialami Presiden Soeharto pada Lebaran tahun berikutnya.

Saat itu, pada 8 Februari 1997, Presiden Soeharto menabuh beduk raksasa asal Masjid Agung Bantul pada acara Gema Dzikir dan Takbir menyongsong 1 Syawal 1417 Hijriah di bawah Tugu Monas Jakarta. Kepala Negara mengumandangkan takbir dengan alunan suara khidmat, ”Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar, Laa ilaaha ilaallaahu Allaahu akbar, Allaahu akbar walillaahil hamd.”

Beberapa remaja, Senin (26 januari 1998) melakukan sentuhan terakhir pada panggung &quot;Gema Zikir dan Takbir&quot; berukuran 46 x 78 meter dengan pencahayaan berkekuatan 450.000 watt dan sound system 125.000 watt di Tugu Monas, Jakarta. Presiden Soeharto akan tampil di panggung ini untuk memukul bedug dan bertakbir di Malam Takbiran mendatang. Menurut Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Hasan Basri, acara ini akan diikuti oleh 2.500 anak yatim piatu. Terkait Berita Dimuat Selasa, Kompas (27 Januari 1998) hal 01 *** Local Caption *** Beberapa remaja, Senin (26 januari 1998) melakukan sentuhan terakhir pada panggung &quot;Gema Zikir dan Takbir&quot; berukuran 46 x 78 meter dengan pencahayaan berkekuatan 450.000 watt dan sound system 125.000 watt di Tugu Monas, Jakarta. Presiden Soeharto akan tampil di panggung ini untuk memukul bedug dan bertakbir di Malam Takbiran mendatang. Menurut Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Hasan Basri, acara ini akan diikuti oleh 2.500 anak yatim piatu. Terkait Berita Dimuat Selasa, Kompas (27 Januari 1998) hal 01 Judul Amplop: Beduk

Wartawan Kompas mencatat, alunan takbir Kepala Negara tersebut disambut suara gema takbir ribuan umat yang saat itu hadir di jantung Kota Jakarta. Setelah Presiden, gema takbir pun dikumandangkan bergantian oleh H Rhoma Irama, Emha Ainun Najib, KH Zainuddin MZ, dan Muammar ZA.

Setelah Presiden, Wapres dan Ny Tuti Try Sutrisno beserta para pejabat lainnya meninggalkan lapangan Monas, acara dilanjutkan pesta 4,2 ton kembang api yang dilontarkan dari tugu Monas untuk menghibur puluhan ribu warga Jakarta. Banyak warga menggelar koran bekas di pelataran bebatuan di kawasan Monas.

Petra (26), seorang turis wanita asal Austria, sempat menyatakan kekagumannya. ”It’s very beautiful,” kata turis yang sengaja datang untuk menyaksikan Gema Zikir dan Takbir di Monas itu. Sebuah rangkaian perayaan Lebaran yang memesona.


Kerabat Kerja

Penulis:

Cyprianus Anto Saptowalyono, Nina Susilo, Nino Citra Anugrahanto
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari