Gejolak pasar modal membuat harga saham bank pelat merah itu turun hingga puluhan persen setahun terakhir.
06 Feb 2025 18:26 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Emiten perbankan berencana melakukan pembelian kembali saham yang dimiliki publik pada 2025. Strategi ini dilakukan untuk merespons penurunan harga saham perseroan serta kondisi pasar modal yang lesu dalam setahun terakhir.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI, Selasa (4/2/2025), mengeluarkan keterangan kepada publik melalui Bursa Efek Indonesia mengenai rencana buyback saham dengan perkiraan dana Rp 905 miliar, dari arus kas bebas perusahaan. Rencana ini selanjutnya akan diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham pada 13 Maret 2025.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengungkapkan bahwa aksi tersebut bertujuan mengurangi tekanan jual di pasar akibat fluktuasi harga saham BBNI. Kemudian, sekaligus memberi indikasi kepada investor bahwa perusahaan memandang harga saham saat ini tidak mencerminkan fundamental perusahaan.
”Tekanan pada saham BBNI mulai terasa sebagai dampak concern investor atas kondisi ketidakstabilan geopolitik dan kondisi makroekonomi Indonesia seputar kondisi likuiditas dan pelemahan kurs,” kata Okki, dikutip Kamis (6/2/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/23/a4fd3c48-3d7e-4ca1-8e75-3d8f2689b48c_jpg.jpg)
Saham BNI pada penutupan perdagangan Kamis (6/2/2025) ditutup di harga Rp 4.290 per lembar. Dibandingkan harga pada awal 2025 sebesar Rp 4.590 per lembar, sudah terjadi koreksi sebesar 1,6 persen. Harga saat ini juga turun jauh dari harga tertinggi di 2024 sebesar Rp 6.250.
Penurunan harga saham BNI semakin terlihat menjelang akhir 2024, terutama akibat sentimen negatif setelah hasil pemilu di Amerika Serikat pada November 2024. Kemudian, ada arah kebijakan Bank Sentral AS, The Fed, yang memberikan sinyal pemangkasan suku bunga menjadi hanya 25-50 basis poin (bps) di 2025, dibandingkan perkiraan tahun lalu di 100-125 bps, diikuti dinamika geopolitik yang masih tinggi yang memberikan tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Okki memastikan bahwa aksi BNI tidak akan berdampak signifikan terhadap biaya operasional perseroan sehingga laba rugi diperkirakan tetap sesuai dengan target perusahaan. Laba bersih BNI sepanjang 2024 mencapai Rp 21,5 triliun, naik 2,7 persen dibandingkan capaian tahun 2023 sebesar Rp 21,11 triliun.
”Perseroan memiliki modal dan cash flow yang cukup untuk melaksanakan pembiayaan transaksi bersamaan dengan kegiatan usaha perseroan,” katanya.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) belum lama ini juga mengumumkan rencana buyback seusai saham berkode BBRI itu tercatat turun 38 persen dalam setahun terakhir menjadi Rp 3.970 per lembar saham pada Kamis (6/2/2025).
Sekretaris Perusahaan BRI Agustya Hendy Bernadi, dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Jumat (31/1/2025) mengatakan, perseroan menyiapkan dana untuk buyback saham sebesar Rp 3 triliun. Ini akan diputuskan dalam kegiatan RUPS pada 11 Maret 2025.
”Buyback 2025 dilakukan melalui PT BEI ataupun di luar bursa efek, baik secara bertahap maupun sekaligus dan diselesaikan 12 bulan setelah RUPS yang menyetujui buyback 2025,” kata Agustya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/02/1649d1d7-cf00-4d88-bf2f-b4d531b0400c.jpg)
Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi, kepada Kompas, berpendapat, aksi buyback oleh emiten didorong kepercayaan nilai intrinsik yang terdiskon dari harga pasar. Seperti diyakini emiten atau perusahaan tercatat di bursa tersebut, hal ini juga dapat mendorong perspektif pasar yang positif pada harga saham tersebut.
”Meski demikian, strategi ini juga akan kurang efektif jika sentimen eksternal, seperti ketidakpastian ekonomi yang meningkat, sehingga belum dapat mendorong harga saham di pasar,” ujarnya.
Saat ini, pasar masih didominasi oleh sentimen negatif, seperti ketidakpastian ekonomi akibat potensi perang dagang antara AS dan negara-negara lain, kecenderungan suku bunga dijaga tinggi dalam waktu lama yang berpotensi menekan daya beli sehingga menekan pertumbuhan ekonomi. Terakhir, ada juga potensi realisasi kinerja emitem yang di bawah ekspektasi pasar yang perlu menjadi perhatian investor.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Muhammad Fajar Marta