Ketidakpastian internal dan eksternal berdampak langsung pada Indeks Harga Saham Gabungan.
06 Feb 2025 15:35 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Berbagai kebijakan dalam dan luar negeri yang menimbulkan banyak ketidakpastian ekonomi menurunkan kepercayaan investor di pasar modal. Pergerakan harga saham dalam Indeks Harga Saham Gabungan pun masih di zona merah dalam sebulan terakhir.
Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengakui, saat ini, ketidakpastian sedang melanda pasar global. Situasi ini membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis (6/2/2025) menyentuh 6.870 atau turun lebih dari 2 persen dibandingkan posisi pembukaan perdagangan sehari sebelumnya di 7.024.
Posisi pembukaan per Kamis ini membawa IHSG pada titik terendah sejak awal 2025. Terhitung sejak penutupan pada hari pertama bursa tahun ini di posisi 7.163, IHSG sudah mengalami pelemahan lebih dari 3 persen.
Faktor utama yang memicu kondisi ini, menurut Jeffrey, adalah kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat (AS) terhadap China, serta dinamika ekonomi AS dengan negara lain, seperti Kanada dan Meksiko. Kebijakan yang telah diumumkan tapi kemudian ditunda menciptakan ketidakpastian yang semakin besar bagi pasar global.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/06/fe9408925b0e99688ce1909aee0cccae-Screenshot_20250206_140926_Ajaib.jpg)
Ketidakpastian di pasar global turut berdampak pada nilai tukar mata uang, kebijakan perdagangan, dan rantai pasok global. Dinamika konstelasi ekonomi ini memberikan tantangan tersendiri bagi pelaku bisnis di Indonesia.
”Dengan adanya ketidakpastian ini, investor harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi, terutama dalam menghadapi kemungkinan fluktuasi yang lebih besar di pasar keuangan domestik,” tuturnya.
Ketidakpastian di pasar global turut berdampak pada nilai tukar mata uang, kebijakan perdagangan, dan rantai pasok global.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyatakan, ketegangan dagang AS dengan mitra utama, seperti China, masih menjadi faktor besar yang memengaruhi pasar keuangan dan prospek pertumbuhan ekonomi domestik. Tertekannya sektor manufaktur dan ekspor AS karena perang dagang berimbas pada bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang semakin sulit menentukan kebijakan suku bunga acuan.
Kegamangan The Fed melanjutkan kebijakan pengetatan suku bunga guna menekan inflasi yang masih tinggi atau justru menurunkan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan, menurut Andry, akan menentukan keputusan investor asing. Ketidakpastian itu bisa membuat investor asing menahan uangnya untuk masuk ke Indonesia.
Apalagi, dari sisi domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2024 hanya tumbuh 5,03 persen atau melambat dari 5,05 persen pada 2023 dan 5,31 persen pada 2022 secara tahunan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/23/28067ac0-284d-4986-b023-da5d381aafdd_png.png)
Pilarmas Investindo Sekuritas, dalam rilis perdagangan bursa siang ini menyampaikan, selain faktor ekonomi global, pasar khawatir pada pertumbuhan ekonomi Indonesia 2024 sebagaimana diumumkan BPS di beberapa haru lalu.
Faktor lainnya adalah pemangkasan anggaran kementerian, lembaga negara, dan pemerintah daerah sebagaimana amanat Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi belanja dan pelaksanaan APBN dan APBN.
Kebijakan pemotongan dengan target akumulasi mencapai Rp 306 triliun dikhawatirkan berdampak negatif terhadap perekonomian nasional. Misalnya adalah mengurangi investasi publik, penciptaan lapangan kerja, dan produktivitas tenaga kerja, serta menurunkan daya beli masyarakat.
”Sehingga pasar khawatir ini akan berdampak pada PDB tahun ini, di mana konsumsi pemerintah memberikan kontribusi PDB,” kata mereka.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/19/35b8a011-92b2-4e78-94bd-954884a3e2c1_png.png)
Jeffrey mengingatkan investor untuk mengantisipasi dampak ketidakpastian global dengan belajar dari periode ketidakpastian sebelumnya. Meskipun sulit untuk memperkirakan bagaimana kondisi ini akan berkembang, analisis terhadap kebijakan pemerintah, reaksi negara lain, serta tren historis dapat menjadi panduan dalam mengambil keputusan investasi yang lebih matang.
Guna membantu investor menghadapi kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, BEI berencana meluncurkan beberapa instrumen keuangan baru. Salah satu produk yang akan segera diperkenalkan adalah short selling dan intraday short selling.
Short selling adalah transaksi penjualan efek yang dipinjam dari anggota bursa terdaftar oleh trader atau pedagang. Pedagang menjual saat harga suatu efek tinggi dan membeli kembali saat harga efek turun pada akhir hari yang sama guna mendapatkan keuntungan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/03/0d945f8f-d65f-4db2-810f-118dbd93ee2e_jpg.jpg)
Aturan perdagangan terbaru ini diresmikan dengan penerbitan persetujuan atas Perubahan Peraturan Bursa Efek Indonesia (BEI) Nomor III-I tentang Keanggotaan Margin dan/atau Short Selling. Kemudian, Peraturan Nomor II-H tentang Persyaratan dan Perdagangan Efek Dalam Transaksi Margin dan Transaksi Short Selling.
”Produk ini diharapkan dapat memberikan lebih banyak opsi strategi bagi investor, terutama saat pasar mengalami fluktuasi tinggi dalam waktu singkat,” kata Jeffrey.
BEI menargetkan peluncuran instrumen ini dalam waktu dekat, sekitar Maret atau awal triwulan II-2025. Saat ini, mereka masih memproses finalisasi izin bagi anggota bursa yang akan menyediakan layanan short selling.
”Dengan adanya strategi baru ini, investor diharapkan dapat lebih optimal dalam mengelola portofolio mereka di tengah kondisi pasar yang dinamis dan penuh tantangan,” katanya.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari