Karena longsor terjadi di satu lokasi, BNPB optimistis 20 korban hilang bisa ditemukan sebelum periode ”golden time” proses SAR atau 6 x 24 jam berakhir.
14 Nov 2025 20:25 WIB · Lingkungan
DOKUMENTASI BPBD CILACAP
JAKARTA, KOMPAS — Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB menargetkan 20 korban hilang akibat longsor Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, ditemukan selama periode emas atau golden time proses pencarian dan penyelamatan. Untuk itu, BNPB mengerahkan sejumlah logistik dan peralatan penunjang serta melakukan operasi modifikasi cuaca guna mengantisipasi longsor susulan.
”Golden time proses SAR (pencarian dan penyelamatan) itu 6 x 24 jam. Tapi, karena longsor ini berada di satu lokasi, kami yakin semua korban hilang bisa ditemukan sebelum golden time berakhir,” ujar Kepala BNPB Suharyanto kepada awak media di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Jumat (14/11/2025).
Berdasarkan data Kantor SAR Cilacap, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, dan BNPB, longsor menerjang Desa Cibeunying di Kecamatan Majenang, Kamis (13/11/2025) sekitar pukul 20.00. Ada dua dusun yang terdampak, yaitu Tarukahan dan Cibuyut.
Peristiwa itu menyebabkan tiga korban tewas per Jumat siang, yakni Maya Dwi Lestari (15), Julia Lestari (20), dan Yuni (45). Semuanya berasal dari Tarukahan. Selain itu, 20 orang belum ditemukan. Enam orang di Tarukahan dan 14 orang di Cibuyut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/14/0a281b91-6e6b-4a20-ac70-463c2f586611_jpg.jpg)
Ada pula tiga korban luka-luka atas nama Maya, Haryanto, dan Andi. Mereka telah dibawa ke RSUD Majenang untuk penanganan medis. Sebanyak 23 jiwa selamat dan telah mengungsi ke rumah kerabat terdekat.
Selain menimbulkan korban jiwa, longsor itu menyebabkan kerugian material. Ada 12 rumah rusak berat karena tertimbun material longsor serta 16 rumah di Tarukahan dan Cibuyut dalam status terancam longsor.
Longsor itu terjadi akibat hujan deras yang mengguyur sejak Kamis siang dan kondisi tanah yang tidak stabil. Material longsor bukan hanya menimbun permukiman, melainkan juga menyebabkan penurunan tanah sedalam lebih kurang 2 meter dan retakan dengan panjang mencapai 25 meter. Total luasan area terdampak sekitar 6,5 hektar.
Sejauh ini, cuaca yang tidak bersahabat dan tanah yang masih labil menjadi tantangan proses SAR. Adapun proses SAR melibatkan lebih kurang 200 personel gabungan, meliputi Badan SAR Nasional, BPBD Tagana, PMI, TNI, Polri, sukarelawan, dan masyarakat sekitar.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/14/a9cec545-3002-4c04-a9db-a6be2a480fb5_jpg.jpg)
Suharyanto mengatakan, sejumlah upaya sudah dilakukan agar proses SAR segera memberikan hasil optimal dan aman untuk para personel yang bertugas. Pihaknya telah menggeser sejumlah logistik dan peralatan penunjang proses SAR, antara lain alat penggali tanah manual, alat berat, dan pompa air.
”Secara bertahap, alat-alat yang diperlukan akan terus kita geser ke lokasi terdampak longsor. Karena longsor baru terjadi semalam, sejumlah peralatan tidak serta-merta langsung tersedia di lokasi terdampak,” katanya.
Di samping itu, Suharyanto menuturkan, operasi modifikasi cuaca (OMC) yang sedang dilakukan di kawasan Jawa Barat dan DKI Jakarta akan segera digeser ke Jawa Tengah, terutama di sekitar lokasi terdampak longsor. Tujuannya, menahan hujan agar tanah tetap stabil alias lebih minim risiko pemicu longsor susulan.
”Dengan OMC, kita bisa menahan hujan demi mencegah risiko longsor susulan. Ini sangat penting untuk memastikan keamanan tim SAR gabungan di lapangan dan masyarakat yang berada di sekitar lokasi terdampak,” tuturnya.
Menurut Suharyanto, potensi longsor susulan di lokasi terdampak longsor saat ini sangat besar. Alasannya, hujan ringan hingga sedang masih berpeluang terjadi di wilayah Majenang dalam beberapa hari ke depan.
Di sisi lain, kontur tanah di sejumlah tempat berstatus labil atau rawan longsor. ”Maka itu, kami turut mengimbau agar masyarakat diungsikan dari lokasi-lokasi kritis atau rawan longsor, khususnya dari sekitar lokasi yang baru terdampak longsor,” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/14/204d6840-053f-4b45-836b-ccfd6b8fed96_jpg.jpg)
Sementara itu, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi mengatakan, proses SAR terhadap korban hilang menjadi prioritas utama. Untuk itu, mereka akan memberikan perhatian dan dukungan penuh dalam proses tersebut.
”Logistik, peralatan, dan personel dari Pemprov Jateng sudah diturunkan ke lokasi terdampak longsor. Bersama jajaran Pemkab Cilacap, TNI, Polri, dan instansi terkait lainnya, kita bahu-membahu melakukan penanganan dan proses SAR terhadap korban hilang,” katanya.
Kepala BPBD Jateng Bergas Catursasi Penanggungan menuturkan, untuk mendukung proses SAR terhadap korban hilang, akses menuju lokasi terdampak longsor sudah dilebarkan. Tujuannya, mempermudah proses SAR, terutama keluar-masuk peralatan atau alat berat.
Selain itu, tim reaksi cepat terus disiagakan di lapangan untuk memantau perkembangan kondisi lapangan dan potensi cuaca ekstrem. Di sisi lain, dinas sosial setempat telah memberikan bantuan logistik, mendirikan dapur umum, menyediakan peralatan tidur, dan menyiapkan tempat pengungsian untuk warga yang terdampak.
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari