BNPT Waspadai Kemenangan HTS di Suriah Bangkitkan Sel Teroris di Indonesia

BNPT meningkatkan kesiapsiagaan nasional karena kelompok HTS yang menumbangkan Presiden Suriah Bashar al-Assad terafiliasi dengan kelompok teroris Al Qaeda.

12 Des 2024 17:51 WIB · Politik & Hukum

Oleh Norbertus Arya Dwiangga Martiar

JAKARTA, KOMPAS - Penggulingan Presiden Suriah Bashar al-Assad oleh kelompok Hayat Tahrir al-Sham yang merupakan sempalan jaringan teroris Al-Qaeda dapat memantik semangat sel teroris di dunia, tak terkecuali Indonesia. Bukan tidak mungkin akan ada warga negara Indonesia yang pergi ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok tersebut.

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irfan Idris mengatakan hal itu ketika dihubungi, Kamis (12/12/2024).

"Kalau bicara kemungkinan pasti selalu ada kemungkinan. Tapi, kewaspadaan terus ditingkatkan. Tugas BNPT adalah mencegah dengan meningkatkan kesiapsiagaan nasional kontraradikalisasi dan deradikalisasi," kata Irfan. 

Sebagaimana diberitakan, pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad tumbang setelah salah satu kubu oposisi Suriah mengklaim telah menguasai ibu kota negara itu, Damaskus. Kubu oposisi dimotori Hayat Tahrir al-Sham (HTS). HTS ditetapkan sebagai kelompok teroris oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa (UE). HTS dianggap kelompok teroris oleh Barat karena berakar pada cabang Al-Qaeda di Suriah. 

Deputi Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irfan Idris

Meski demikian, menurut Irfan, selain melihat situasi di luar, perlu diperhatikan juga perkembangan di dalam negeri, khususnya setelah pentolan Jamaah Islamiyah (JI) mendeklarasikan pembubaran diri beberapa waktu lalu. Dengan adanya deklarasi tersebut, Irfan berharap para pendukung maupun simpatisan JI juga ikut membubarkan diri, tidak malah membentuk kelompok dengan nama lain.

"HTS semoga tidak hadir menjadi wajah baru Al-Qaeda dan ISIS yang sudah menjadi jaringan teroris dunia," harap Irfan. 

The leader of Syria's Islamist Hayat Tahrir al-Sham (HTS) group that headed a lightning rebel offensive snatching Damascus from government control, Abu Mohammed al-Jolani, waves to the crowd before addressing them at the capital's landmark Umayyad Mosque on December 8, 2024. Jolani, now using his real name Ahmed al-Sharaa, gave a speech as the crowd chanted "Allahu akbar (God is greatest)," a video shared by the rebels on their Telegram channel showed. (Photo by Abdulaziz KETAZ / AFP)

Ekspor ideologi

Secara terpisah, pengamat terorisme yang juga visiting fellow di S Rajaratnam School of International Studies (RSIS), NTU, Noor Huda Ismail, mengatakan, jatuhnya Damaskus di tangan kelompok militan HTS telah membangkitkan gairah solidaritas umat Islam, termasuk di Indonesia.

Namun, tak sebatas itu, salah seorang mantan anggota senior JI, Mas'ud Izzul Mujahid, telah memanfaatkan peristiwa tersebut bukan hanya sebagai tonggak politik, tetapi juga sebagai pemenuhan ramalan apokaliptik dalam Islam.

Pengamat terorisme Noor Huda Ismail saat ditemui di rumahnya yang berada di Pasir Ris, Minggu (27/10/2024). Huda bekerja sebagai peneliti di S Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU).

"Persinggungan antara perkembangan politik, narasi agama, dan propaganda digital ini menciptakan alat yang ampuh untuk memobilisasi ideologi ekstremis," tutur Huda.

Setelah Damaskus jatuh, lanjut Huda, muncul sebuah video yang menampilkan seorang tokoh JI. Dalam video yang tersebar luas tersebut, dia menegaskan bahwa mujahidin atau pasukan itu berhasil menguasai Damaskus dan disambut dengan baik oleh masyarakat. Video itu menyampaikan narasi yang dapat mendorong warga dari Asia Tenggara untuk bergabung dengan negara yang dipimpin oleh tokoh-tokoh dari sisa-sisa Al-Qaeda dan ISIS.

Menurut Huda, perkembangan ini menunjukkan adanya potensi gerakan hijrah atau migrasi baru yang terjadi bukan di bawah ISIS, tetapi didorong oleh kelompok HTS. Dengan bingkai perang saudara di Suriah sebagai pemenuhan ramalan apokaliptik, terdapat tokoh yang JI yang kemudian menghubungkan keluhan lokal di Indonesia dengan perjuangan jihad global.

"Ekspor ideologis ini nyata karena dapat menggalang dukungan di dunia nyata, mulai dari sumbangan finansial hingga rekrutan yang bersedia mengorbankan nyawa untuk apa yang mereka anggap sebagai tujuan suci," kata Huda.

Para mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) di wilayah DI Yogyakarta, membacakan pernyataan dukungan terhadap pembubaran organisasi tersebut, di Yogyakarta, Sabtu (31/8/2024).

Pencegahan

Untuk mencegah agar warga Indonesia tidak berbondong-bondong pergi ke Suriah guna bergabung dengan HTS, kata Irfan, diperlukan kolaborasi antara BNPT dengan kementerian/lembaga terkait.

Beberapa instansi yang penting untuk melakukan pencegahan adalah Kementerian Informasi dan Digital, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Luar Negeri. 

Selain itu, perlu ada kerja sama dengan negara yang kemungkinan akan dijadikan persinggahan sebelum menuju Suriah. "Kerja sama dengan negara tetangga yang mungkin dijadikan persinggahan mutlak ditingkatkan," terang Irfan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Norbertus Arya Dwiangga Martiar
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .