Bodo/Glimt mencatatkan kejutan terbesar di Liga Champions musim ini. Klub dari kota kecil dekat Lingkaran Arktik ini menyingkirkan raksasa Eropa, Inter Milan.
26 Feb 2026 14:30 WIB · Olahraga
AP
Di atas kertas, Bodo/Glimt seharusnya tidak memiliki peluang itu. Tetapi, sepak bola dimainkan di atas lapangan hijau, bukan di selembar kertas.
Bodo/Glimt, klub kecil dari Norwegia membuktikan bahwa keajaiban itu bisa datang. Mereka berhasil menciptakan salah satu kejutan terbesar dalam sejarah sepak bola Eropa setelah menyingkirkan Inter Milan dari Liga Champions.
Apa yang terjadi di San Siro, Rabu (25/2/2026) dini hari WIB, adalah sebuah anomali yang mengingatkan kita semua, mengapa kita bisa jatuh cinta pada olahraga ini sejak awalnya.
Secara logika, klub dari kota Bodo ini mustahil mengalahkan Inter. Inter adalah pemuncak klasemen Serie A musim ini yang menurut Transfermarkt memiliki skuad senilai 787 juta dolar AS. Jika dibandingkan dengan skuad Bodo/Glimt yang hanya bernilai 67 juta dolar AS, itu artinya lebih dari 11 kali lipatnya.
Uang memang bisa menentukan dalam banyak hal, tetapi tidak semuanya. Terkadang, kisah David dan Goliath bisa kita saksikan di dunia modern ini, seperti Bodo/Glimt yang menyingkirkan Inter dengan agregat 5-2.
Perbedaan kedua tim bak bumi dan langit. Bodo/Glimt berasal dari kota kecil Norwegia, Bodo, yang terletak di dekat Lingkaran Arktik, rumah bagi sekitar 40.000 orang. Seluruh penduduk kota itu hanya bisa mengisi separuh lebih Stadion San Siro, kandang Inter Milan. Adapun markas Bodo/Glimt adalah stadion kecil bernama Aspmyra yang hanya berkapasitas 8.270 penonton.
Inter adalah kekuatan raksasa Eropa dengan 20 gelar Serie A dan tiga kali juara Eropa, sedangkan Bodo/Glimt masih berada di divisi kedua Norwegia 10 tahun lalu. Ketika Inter terakhir memenangi Liga Champions, ketika mereka meraih treble musim 2009-2010, Bodo/Glimt hanya mampu finis keenam di divisi kedua Liga Norwegia.
Kemenangan Bodo/Glimt juga bukan cuma untung-untungan atau menghadapi tim yang tengah terpuruk. Nyatanya, Inter tengah memimpin klasemen Serie A dengan keunggulan 10 poin dari rival terdekatnya. Inter juga dua kali mencapai final Liga Champions dalam tiga musim terakhir.
Ini adalah musim pertama Bodo di Liga Champions setelah masuk fase liga melalui kualifikasi. Sepertinya mereka akan langsung tersingkir setelah gagal mencatatkan kemenangan dalam enam laga sehingga terpuruk di posisi ke-32 klasemen.
Pasukan Knutsen harus mengalahkan Manchester City dan Atletico Madrid untuk membuka peluang lolos ke partai playoff. Entah bagaimana, mereka ternyata mampu mengalahkan dua raksasa Eropa itu berturut-turut untuk lolos ke playoff menghadapi Inter. Apakah mungkin mereka kembali melakukan kejutan untuk ketiga kalinya?
Ternyata tak ada yang tak mungkin di sepak bola. Di luar dugaan banyak orang, Bodo/Glimt mampu menyingkirkan Inter dengan relatif mudah. Mereka menghancurkan Inter pada leg pertama di Bodo dengan skor 3-1 dilanjutkan dengan kemenangan 2-1 pada leg kedua di Milan.
”Lihatlah kelompok yang luar biasa itu. Rasanya seperti mimpi dan luar biasa, saya tidak tahu harus berkata apa,” kata salah satu pencetak gol, Hakon Evjen, seusai laga di Milan. Kapten tim Patrick Berg menyebut itu adalah ”hal terbesar yang pernah saya alami sepanjang karier saya”.
Knutsen sulit percaya dengan apa yang telah mereka lakukan. ”Bisakah kalian percaya?” ucapnya. ”Saya benar-benar tidak percaya. Para pemain sungguh luar biasa.”
Perlu digarisbawahi bahwa kesuksesan Bodo bukan karena bantuan dari pemilik kaya yang menggelontorkan uangnya untuk membeli pemain-pemain bintang. Kesuksesan mereka terasa lebih berisi, yang dimulai dari taktik dan kepatuhan Knutsen pada filosofi sepak bola berintensitas tinggi.
Strategi perekrutan pemain tidak hanya mencari pemain yang sesuai dengan pendekatan itu, tetapi juga mengidentifikasi pemain dengan bakat dan faktor tertentu yang diinginkan pelatih. ”Setiap pemain yang kami rekrut memiliki faktor X, apakah pemain ini memiliki faktor X spesifik yang kami cari,” ujar mantan asisten pelatih mereka, Morten Kalvenes, kepada The Athletic.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/26/6983400ea2c33be69fa8faf9a9bbbe9f-Italy_Champions_League_Soccer_136408694.jpg)
Mereka juga mempekerjakan seorang mantan pilot pesawat tempur, Bjorn Mannsverk, sebagai pelatih mental, yang menggunakan pengalamannya untuk melatih otak para pemain. Menurut The Athletic, salah satu konsep yang ia terapkan disebut the ring, yakni pemain akan berkumpul membentuk lingkaran di lapangan setelah kebobolan untuk mendiskusikan apa yang salah.
”Ini adalah sebuah perjalanan. Ada banyak dari kita yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini. Ada begitu banyak orang di balik proyek ini yang memiliki keyakinan sangat kuat,” tutur Knutsen.
Pada babak 16 besar yang akan berlangsung pertengahan Maret, Bodo/Glimt akan menghadapi Manchester City atau Sporting Lisbon. Apakah mereka kembali mampu melakukan kejutan? (AP/REUTERS)
Penulis:
Prasetyo Eko PrihanantoEditor:
Billy KhaerudinPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul