PERANG

Cekikan Energi Dunia di Selat Hormuz

Iran yang menentukan siapa yang boleh lewat Selat Hormuz. Sekutu AS dan Israel tak akan boleh lewat. Masalahnya, Asia paling terdampak jika kondisi terus begitu.

15 Mar 2026 13:00 WIB · Internasional

AP/Rafiq Maqbool

Oleh Luki Aulia

Jenderal Dan Caine dan pejabat lain di Amerika Serikat telah mengingatkan, Iran akan menutup Selat Hormuz bila diserang. Kini, selat yang menjadi urat nadi logistik global dan satu-satunya pintu dari dan ke Teluk Persia itu praktis tertutup.

Setidaknya 320 kapal, menurut The Economist, terperangkap di Teluk Persia karena tak bisa melayari Selat Hormuz. Butuh bertahun-tahun pengawalan ketat untuk mengeluarkan semua kapal itu.

”Ada banyak tanker dan kapal yang melewati Selat Hormuz, dan saya dapat mengatakan bahwa selat itu tidak tertutup. Akan tetapi, hanya ditutup untuk kapal dan tanker Amerika dan Israel, dan bukan untuk yang lain,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam wawancara dengan media AS, MS Now, yang disiarkan pada Sabtu (14/3/2026) siang waktu Washington DC atau Minggu dini hari WIB.

Data pemantau lalu lintas kapal menunjukkan, masih ada kapal melewati Selat Hormuz. Kapal-kapal itu mengangkut barang ke China.

Araghchi mengatakan, Selat Hormuz hanya tertutup bagi AS-Israel dan sekutu mereka. Ia tak menyebut siapa saja sekutu AS-Israel. Dalam wawancara itu, ia, antara lain, menyebut serangan AS ke Iran dilancarkan dari negara-negara Timur Tengah.

Negara-negara Teluk adalah sumber pokok energi sampai pupuk global. Mayoritas komoditas itu dikirim lewat Selat Hormuz.

Infografik Jalur Penting Pengiriman Minyak dan Gas

Penutupan Selat Hormuz merupakan guncangan paling mendadak terhadap pasokan global dalam sejarah perminyakan. Tahun lalu, sekitar 14 juta barel per hari minyak mentah, setara dengan 14 persen dari produksi dunia, ditambah 4 juta barel produk minyak olahan, melayari selat itu.

Selama 14 bulan terakhir, volume minyak mentah dan gas yang mengalir lewat Selat Hormuz dari Arab Saudi mencapai 2,4 miliar barel. Dari Irak dan Uni Emirat Arab masing-masing 1,4 miliar barel, Kuwait 0,6 miliar barel, Qatar dan Iran masing-masing 0,3 miliar barel, serta Bahrain 0,1 miliar barel.

Arab Saudi mengekspor paling banyak ke China, Jepang, dan Korsel. Irak paling banyak mengirim ke China dan India. UEA ke negara lain di Asia, antara lain Jepang, China, dan India. Kuwait, Qatar, dan Iran juga mengekspor ke negara-negara lain di Asia.

Lantaran Selat Hormuz macet, produsen minyak utama di Timur Tengah mengurangi produksi di ladang minyak mereka. Mereka harus memompa minyak ke penyimpanan jika tidak bisa memuatnya ke tanker minyak. Fasilitas penyimpanan minyak akan penuh setelah 10 hari tanpa pengiriman.

Arab Saudi memiliki jalur pipa dengan kapasitas sekitar 7 juta barel minyak mentah per hari dari ladang minyak ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Arab Saudi biasanya mengekspor sekitar 6 juta barel per hari melalui Selat Hormuz.

UEA juga punya jalur pipa dengan kapasitas sekitar 1,5 juta barel per hari ke ladang minyak Abu Dhabi ke Pelabuhan Fujairah di Teluk Oman. Pada Sabtu, dilaporkan ada ledakan besar di Fujairah. ”Ini hanya setetes air di lautan. Selat Hormuz tetap yang utama,” kata Amin Nasser, CEO Aramco, kepada harian Al Arabiya, Jumat (13/3/2026).

Infografik Selat Hormuz adalah Salah Satu Jalur Terpenting untuk
Pengiriman Minyak dan LNG.

Produksi turun

Lembaga konsultansi bisnis Rystad memperkirakan, jika infrastruktur Qatar mengalami sedikit atau tanpa kerusakan dan ekspor dilanjutkan setelah 15 hari, produksi LNG global tahunan akan menurun sebesar 4,3 persen tahun ini. Jika ini berlanjut hingga satu bulan, kerugiannya lebih dari 14 persen.

Oxford Institute for Energy Studies memodelkan blokade Hormuz selama 12 bulan dan menemukan bahwa produksi tahunan akan turun 15 persen. Ini terjadi saat permintaan LNG diperkirakan meningkat hampir 8 persen pada 2026.

Tak seperti minyak, kata Gavin Thompson dari Wood Mackenzie, tak ada cadangan strategis untuk LNG. Beberapa tempat, seperti Uni Eropa, menetapkan tingkat penyimpanan minimum. Namun, bahkan Eropa sekalipun tidak aman. Persediaannya lebih rendah dari biasanya setelah musim dingin.

Menurut Unit Analisis Keuangan Al-Eatisadiah, jika aliran minyak melalui selat itu berhenti sepenuhnya, konsumsi energi global tidak akan langsung berhenti. Ini karena negara-negara besar mempertahankan cadangan minyak komersial dan strategis untuk keadaan darurat.

Harian Arab News mengutip Badan Energi Internasional yang menyebutkan, cadangan minyak 38 negara Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) sebanyak 2,83 miliar barel pada akhir Oktober 2025. Dalam laporan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), berdasarkan konsumsi negara-negara ini, stok ini dapat mencukupi kebutuhan selama lebih kurang 61,8 hari.

Cadangan ini terkonsentrasi di sejumlah negara secara terbatas. AS memiliki minyak komersial dan strategis sebanyak 1,68 miliar barel. Cadangan itu dapat bertahan hingga 53 hari.

China punya cadangan sekitar 1,2 miliar barel. Ini cukup untuk sekitar tiga bulan. Sementara Jepang menyimpan cadangan impor minyaknya sampai 200 hari.

Kapasitas cadangan di tempat lain di dunia tidak cukup untuk menutupi kekurangan pasokan dari Timur Tengah. Jika Selat Hormuz terus ditutup, lama-lama pasar akan tertekan dan harga minyak melonjak tajam.

Hingga 90 persen minyak dan gas yang melewati selat itu ditujukan untuk pasar Asia. Filipina adalah negara yang paling bergantung dengan kebutuhan impor minyak mentah, yakni 97 persen. Filipina diikuti Jepang (94 persen) dan Pakistan (92 persen).

Sementara untuk impor gas, Pakistan yang paling bergantung pada impor dari kawasan itu (100 persen). Setelah Pakistan, ada India dan Bangladesh.

Pemerintah sejumlah negara di Asia berupaya mengatasi gangguan ini. China sudah meminta kilang minyak untuk menghentikan ekspor BBM, Korea Selatan membatasi harga BBM untuk pertama kalinya dalam 30 tahun, sedangkan Bangladesh menutup kampus-kampus untuk menghemat listrik dan BBM.

Indonesia juga terimbas. Institute for Essential Services Reform (IESR) mencatat, selama ini 38 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Arab Saudi. Nilainya lebih dari 1,2 miliar dolar AS per tahun. Sisanya dipasok dari Irak, UEA, dan Kuwait. Pada 2024, impor minyak mentah dan produk turunannya bahkan mencapai 53,74 juta ton, naik 19 persen dibandingkan 2023.

Sementara sekitar separuh kebutuhan elpiji Indonesia diimpor dari UEA, Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait. Separuh lainnya dari AS. Nilainya lebih dari 714 juta dolar AS per tahun. Elpiji ini digunakan oleh lebih dari 70 juta rumah tangga, terutama dalam bentuk tabung 3 kilogram bersubsidi.

Arus minyak mentah dari negara asal menuju negara tujuan melalui Selat Hormuz

Untuk mengatasi blokade Selat Hormuz, AS mengajukan sejumlah alternatif. Pada 6 Maret, International Development Finance Corporation (DFC) AS mengalokasikan 20 miliar dolar AS untuk mengasuransikan kapal-kapal yang mencoba keluar dari Teluk. Janjinya, akan ada dana tambahan kalau alokasi itu habis.

Masalahnya, perusahaan AS kurang memiliki keahlian dalam polis semacam itu. Skema AS juga tidak mencakup kewajiban pencemaran minyak, yang dibutuhkan agar tanker dapat memasuki sebagian besar pelabuhan.

Selama ini, asuransi maritim dikuasai lembaga-lembaga di Inggris. Pada awal perang di Iran, London telah mengumumkan pembatalan perlindungan risiko perang dan kejadian terkait pada asuransi maritim.

Dampaknya, kapal-kapal berhenti berlayar dari dan ke Teluk Persia. Tak ada yang mau mengambil risiko.

Infografik Produksi Minyak Kawasan Timur Tengah dan Dunia

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan, keamanan Selat Hormuz sangat penting bagi Iran karena keamanan Iran terkait dengan keamanan kawasan. Menurut Iran, AS dan Israel yang membuat kawasan tersebut menjadi tidak aman dan memengaruhi pergerakan kapal.

”Dengan garis pantai terpanjang di Teluk Persia dan Laut Oman, Iran selalu menanggung biaya untuk melindungi jalur air strategis ini. Kami tak mau selat ini menjadi tidak aman sehingga kapal-kapal harus berkoordinasi dulu agar aman,” kata Baghaei.

Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent masih yakin Selat Hormuz aman dilewati karena sampai sekarang ada saja tanker yang bisa lewat. Beberapa di antaranya tanker berbendera China. Dari situ terbukti Iran belum memasang ranjau di perairan itu.

Hanya Selat Malaka antara Malaysia dan Indonesia yang memiliki lalu lintas tanker minyak lebih banyak daripada Selat Hormuz.

(Reuters/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti