Setelah sukses melewati tantangan pertama sebagai lomba resmi World Athletics, Borobudur Marathon membuka tangan untuk pelari sedunia. Ajang itu layak diikuti.
01 Des 2024 19:57 WIB · Olahraga
MAGELANG, KOMPAS — Esensi lomba maraton adalah mengalahkan diri sendiri menjadi lebih baik. Tak hanya menyelenggarakan, Borobudur Marathon meresapi dan menjalani itu. Mereka mengevaluasi banyak kekurangan dari edisi lalu dan sukses menemukan solusi pada tahun ini. Status lomba lari jalan raya berstandar dunia terbukti bukan pemanis belaka.
Pelari elite nasional Odekta Elvina Naibaho memasang kacamata hitam yang semula diletakkan di atas kepala. Menjelang garis finis, dia ingin terlihat keren. Odekta yang sempat ragu bisa menampilkan performa terbaik karena sedang pemulihan pasca-Pekan Olahraga Nasional pada dua bulan lalu, justru mampu mengejutkan.
Odekta menempati peringkat kedua kategori maraton putri terbuka dengan catatan waktu 2 jam 50 menit 5 detik. Posisi dan catatan waktu itu merupakan yang terbaik baginya sejak awal mengikuti Borobudur Marathon pada 2017. Waktunya bahkan lebih cepat hampir tiga menit dibandingkan tahun lalu.
Semakin baik kualitas lomba, semakin bisa menunjang performa pelari. Itu yang dirasakan Odekta dalam Bank Jateng Borobudur Marathon 2024 di Magelang, Jateng, Minggu (1/12/2024) siang WIB. Dengan status ”Label” dari World Athletic atau Federasi Atletik Dunia, lomba benar-benar naik level.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/01/c6e93231-bc70-4ab7-9f47-78a862561e59_jpg.jpg)
Kata Odekta, penyelenggara semakin profesional. Dia bisa mengatur strategi semalam menjelang lomba berkat rapat teknis yang sangat detail tentang rute. ”Sebagai atlet, kami jadi lebih fokus. Kami merasa, oh atlet yang sungguhan itu seperti ini, ya, ternyata. Diberi waktu untuk merencanakan sedemikian rupa," ujarnya.
Penyesuaian paling krusial adalah jadwal start. Lomba maraton dimulai pukul 04.30 WIB, lebih cepat setengah jam dari tahun lalu. Hasilnya, pelari terhindar dari panas. Lomba tidak perlu dihentikan lagi karena cuaca. Terima kasih juga kepada semesta. Cuaca bersahabat dengan langit mendung walaupun udara cukup lembab.
Perbaikan hal-hal teknis yang mendetail juga berpengaruh. Pemisahan meja botol antara atlet elite dan umum, misalnya. Meja atlet elite terletak lebih depan. Setiap botol sudah dinamai. Ada kru yang bersiaga melihat kedatangan atlet dan yang menyerahkan botol. Transisi pelari mengambil botol sangat mulus.
Irma Handayani, peraih juara kategori maraton putri nasional, merasakan banyak keuntungan dari perubahan tahun ini. ”Rute jauh lebih steril. Pelari elite juga sudah disediain marshall. Mau finis berapa jam sudah disesuaikan nanti. Start lebih awal juga bagus, sebelum matahari terbit dan bisa terhindar dari panas,” katanya.
Untuk level saat ini ("Label") sudah sangat baik. Terutama dari sisi pelayanan. Orang Indonesia sangat bersahabat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/01/b0772dc3-602c-4826-a9e7-aeb5606cc3c1_jpg.jpg)
Borobudur Marathon tahun ini diikuti 10.500 peserta dalam tiga kategori, yaitu maraton, separuh maraton, dan 10K. Status "Label" sukses mengangkat ketertarikan pelari internasional. Sebanyak 28 negara ikut serta. Adapun jumlah peserta yang menyelesaikan lomba berada di atas 90 persen.
Delegasi Teknis World Athletics, A Hakeem Mohd AM Al-Ameri, memberikan nilai 8 dari 10 untuk Borobudur Marathon. ”Untuk level saat ini ("Label") sudah sangat baik. Terutama dari sisi pelayanan. Orang Indonesia sangat bersahabat. Terutama warga desa yang menyambut pelari. Itu keunikan lomba ini. Perlu diingat, ini adalah olahraga, semua harus bahagia,” ujarnya.
Al-Ameri memberikan sedikit catatan untuk perbaikan ke depan. Dia berharap jumlah pelari elite internasional bisa lebih banyak untuk memacu kompetisi. Semakin banyak pelari hebat, lomba akan semakin bergengsi. Dia juga menilai, batas waktu maraton tujuh jam terlalu lama. Idealnya, lima jam agar cuaca tidak terlalu berubah drastis pada awal dan akhir lomba.
Kesiapan tim medis juga mendukung performa pelari. Sekitar lima kilometer jelang finis, pemenang ketiga maraton putri terbuka Pretty Sihite berteriak sambil melewati tenda medis, ”Mas, betisku (kram)!” Salah satu tenaga kesehatan langsung mengoper semprotan pereda rasa nyeri. Pretty tidak berhenti sama sekali.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/01/91ed9eff-f496-4b12-acf5-cf4f5e85c500_jpg.jpg)
Menjelang akhir lomba, banyak pelari yang mengalami cedera. Terutama setelah rute dengan elevasi tinggi di Kilometer 35 dan 37. Meskipun begitu, tenda medis tetap mampu menampung pelari yang butuh bantuan. Para tenaga kesehatan bahkan masih sempat memberi masukan soal teknik ke para pelari agar bisa finis.
Direktur Medis Borobudur Marathon 2024 Andi Kurniawan mengatakan, banyak belajar dari edisi lalu saat tenaga medis kewalahan akibat cuaca panas ekstrem. ”Tahun ini kami lebih siap dengan kapasitas dua kali lipat lebih banyak. Meskipun tidak panas, hari ini tetap banyak yang harus dirawat karena cuaca lembab,” jelas Andi.
Di titik cut off point terakhir, Kilometer 35, sempat terjadi perdebatan antara panitia dan peserta. Salah satu pelari putri dinyatakan gagal finis karena melewati batas waktu pukul 10.20 WIB di titik tersebut. Dia protes cukup keras, sebab masuk ke titik bersama peserta lain yang ternyata diloloskan.
Panitia menilai, pelari putri itu tertinggal beberapa langkah dari peserta yang lolos. Pemeriksaan decoder pencatat waktu balapan pun dilakukan untuk mengakhiri perdebatan. Setelah diperiksa, sang pelari akhirnya diloloskan karena ternyata sudah menginjak karpet pemicu waktu sebelum pukul 10.20 WIB.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/01/99c4f01c-8f77-4b7d-89f0-3f9495af6954_jpg.jpg)
Insiden tersebut memperlihatkan, tidak ada toleransi untuk pelari yang melewati cut off time walaupun hanya selisih satu detik. Panitia enggan mempertaruhkan keselamatan pelari. Batas waktu itu merupakan penanda kemampuan pelari untuk menyelesaikan lomba. Adapun nomor bib pelari akan dicoret jika terlambat mencapai cut off point.
Penulis:
Kelvin Hianusa, Nino Citra Anugrahanto, Kristi Dwi UtamiEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase