”Brain Drain” Alarm Migrasi Era Kini

Migrasi turut menggerakkan transformasi global. Namun, di sisi lain, migrasi sumber daya memicu hilangnya "keunggulan kompetitif" sebuah negara.

24 Feb 2025 07:28 WIB · Opini

Oleh Redaksi

”Kabur aja dulu” dan brain drain menjadi dua fenomena yang beberapa waktu terakhir menyita perhatian. Sejumlah negara segera bersikap atas fenomena tersebut.

Otoritas Selandia Baru, misalnya, berupaya meningkatkan kesempatan kerja bagi kaum muda. Sementara itu, Pemerintah Portugal memilih menawarkan keringanan pajak progresif untuk anak-anak muda. Bahkan, sejak tahun lalu, parlemen Portugal telah mengajukan proposal pemotongan pajak untuk pekerja di bawah usia 35 tahun.

Kebijakan itu diambil lantaran dari data yang mereka miliki, dalam tiga tahun terakhir—dengan alasan ekonomi, biaya hidup, dan minimnya kesempatan kerja— makin banyak warga negara mereka berpindah ke luar negeri. Selandia Baru dan Portugal sadar, tanpa anak muda yang kompetitif, persoalan demografi ini dapat memicu risiko besar.

Immigration officers check documents of passengers before boarding their Pakistan International Airlines (PIA) flight to Paris at the Islamabad International Airport on January 10, 2025, as EU authorities lift a four-year ban on the state airline. Pakistan's state-owned airline, plagued by a history of deadly crashes and a pilot license scandal, resumed flights to Europe after a four-year ban was lifted by EU regulators. (Photo by Farooq NAEEM / AFP)

Pakistan adalah contohnya. Merujuk data Perserikatan Bangsa-Bangsa, lebih dari 1 juta pekerja terampil asal Pakistan telah pergi meninggalkan negeri itu. Kepergian sumber daya unggul itu membuat rumah sakit, bank, dan banyak perusahaan di Pakistan kekurangan tenaga kerja ahli.

Berkelindan dengan beragam faktor lain, seperti politik dan keamanan, fenomena brain drain itu membuat kinerja ekonomi Pakistan tersendat. Negeri itu dihantui tingginya angka inflasi yang membuat harga beragam barang melambung.

Sejak era purba, secara naluriah, manusia akan mengikuti di mana sumber makanan berada. Setelah mampu memproduksinya, manusia kemudian memutuskan menetap. Manusia pun belajar beradaptasi dengan lingkungannya. Jika lingkungan tersebut tidak lagi mencukupi kebutuhan dasar dan tuntutan lain, termasuk rasa aman dan nyaman, manusia kembali bergerak.

Peta migrasi dan penyebaran penduduk di Asia Tenggara di masa lalu terjadi seiring dengan perubahan permukaan laut. Wilayah geografis yang dihuni oleh populasi leluhur djdasarkan lokasi keturunan mereka saat ini dan direpresentasikan sebagai arsiran berwarna di peta. Peta dasar diambil dari kumpulan data publik dengan akses terbuka. Perubahan penduduk dari waktu ke waktu direkonstruksi berdasarkan perkiraan sejarah demografis peneliti. Sumber: Hie Lim Kim, dkk. Communication Biology, 2023

Mobilitas umat manusia lewat perdagangan, penjelajahan, bahkan kolonialisasi secara timbal balik mengembangkan kapasitas manusia. Komunitas-komunitas baru tumbuh dan menjadi cikal bakal negara-negara modern. Meskipun migrasi adalah bagian dari hidup dan hak asasi manusia, dijamin undang-undang, serta menjadi bagian dari sejarah peradaban, perpindahan itu perlu dicermati.

Di satu sisi, migrasi memang turut menggerakkan transformasi global. Akan tetapi, migrasi juga menimbulkan beban dan hilangnya ”keunggulan kompetitif” sebuah negara.

Di era kini, di mana kompetisi antarnegara juga dibayangi persoalan demografi, perpindahan manusia berarti pula perpindahan sumber daya. Tidak mengherankan jika sejumlah pemerintah berupaya keras menjaga semua sumber daya yang dimiliki. Bonus demografi tidak akan banyak berpengaruh jika tidak terserap dan menjadi energi pertumbuhan.

Oleh karena itu, becermin pada Selandia Baru, Portugal, dan Pakistan, fenomena ”kabur aja dulu” dan brain drain adalah alarm bagi pemerintah untuk berbenah. Publik berharap pemerintah segera membenahi ”iklim” di negeri ini agar nyaman untuk berkembang dan berinvestasi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Haryo Damardono, Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari