Paparan konten receh dan media sosial memicu fenomena ”brain rot”. Benarkah kesehatan mental dan fungsi kognitif warganet terancam?
27 Jun 2025 17:05 WIB · Kesehatan
Dalam keseharian yang semakin lekat dengan gawai dan algoritma media sosial, istilah brain rot kian akrab terdengar di ruang digital. Istilah ini bukan lagi sekadar bahan perbincangan, melainkan juga menjadi candaan di kalangan generasi Z dan alfa.
Generasi ini memopulerkan istilah brain rot sebagai candaan untuk menggambarkan mereka yang mudah terhibur saat terpapar berbagai konten receh semacam meme hingga video singkat seperti ”skibidi toilet” dan ”tung tung tung sahur”.
Istilah brain rot kemudian tidak lagi dianggap sekadar guyonan warganet. Para pakar dari berbagai bidang, mulai dari psikologi hingga sosiologi, kemudian mengkaji fenomena penurunan fungsi kognitif akibat paparan media sosial yang berlebih ini.
Platform media sosial pun mulai disorot terkait pengaruhnya terhadap kesehatan mental. Beberapa negara bahkan berencana membatasi penggunaan media sosial atau gawai, khususnya bagi anak muda, seperti yang dilakukan Australia dan Korea Selatan.
Pertanyaannya, benarkah algoritma media sosial yang mengalirkan konten singkat receh memang membawa bahaya tertentu? Apa sebetulnya brain rot itu? Adakah definisi medisnya? Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah kita terkena brain rot dan apa yang dilakukan pemerintah soal ini?
Lebih dari 90 persen pakar sepakat brain rot memengaruhi kemampuan masyarakat dalam menilai dan memilah informasi di media sosial, termasuk membedakan fakta dari hoaks.
Untuk mendalami persoalan ini, Harian Kompas mewawancarai 17 pakar lintas disiplin, mulai dari psikiatri, psikologi, budaya digital, sosiologi, antropologi, pendidikan, hingga filsafat. Para pelaku industri, seperti pengembang platform dan kreator konten, juga dimintai pendapatnya dalam liputan ini.
Temuan awal memperkuat dugaan adanya dampak buruk paparan konten receh yang berlebih. Misal, lebih dari 90 persen pakar sepakat brain rot memengaruhi kemampuan masyarakat dalam menilai dan memilah informasi di media sosial, termasuk membedakan fakta dari hoaks.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/09/47b0c161-e23c-472b-a120-f460aaaaf727_jpg.jpg)
Selain mengulas gejala, risiko, dan dampak brain rot, liputan ini juga mengangkat upaya pencegahan yang mulai dirumuskan pemerintah serta regulasi yang tengah disiapkan.
Hasil jajak pendapat Litbang Kompas terkait brain rot pun tersedia dalam rangkaian liputan ini.
Artikel wawancara khusus dengan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid dan para pakar juga disertakan guna menghadirkan perspektif yang beragam tentang tantangan dalam menghadapi brain rot.
Laporan lengkap mengenai fenomena brain rot dapat disimak dalam Harian Kompas dan Kompas.id pada Sabtu, 28 Juni 2025.
Penulis:
Satrio Pangarso Wisanggeni, Sri Rejeki, Ratna Sri WidyastutiEditor:
Sri RejekiPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar