Informasi bohong lebih cepat menyebar kepada mereka yang mengalami kerusakan fungsi otak atau ”brain rot”. Situasi ini menyulitkan seseorang mencari kebenaran.
28 Jun 2025 07:05 WIB · Kesehatan
Seminggu setelah Lebaran, Farah Meutia Putri (37) matanya sakit dan perih luar biasa. Ia mengira kondisi itu terjadi karena ia lupa memakai lensa kontak harian. Rasa tak nyaman semakin meningkat.
”Aku raba, aku tarik. Ternyata ada dua lensa kontak menempel di mataku. Aku lupa kalau sudah pakai lensa, bahkan dua hari tidak ganti,” cerita perempuan yang berdomisili di Jakarta Selatan ini kepada Kompas, Selasa (15/4/2025).
Insiden ini jadi alarm bagi Farah bahwa tubuh dan pikirannya terlalu lelah. Rutinitas dasar pun bisa terlupakan. Kalau sudah begini, Farah biasanya melakukan detoks media sosial selama seminggu. Interaksi digital yang intens dianggapnya akan mengganggu fisik dan psikis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/13/e1277d5c0484f274f6c0d9c6b23f9d42-Farah_Coach_1.jpeg)
Awal April 2025, aktivitas Farah begitu padat, mulai dari mengelola komunitas, melayani klien luar negeri, dan menjaga interaksi dengan puluhan ribu pengikut. Waktu layarnya bisa sembilan jam per hari.
”Aku lebih khawatir melukai diri sendiri. Sudah terlalu lelah sampai lupa hal-hal dasar, seperti mengganti lensa kontak,” ujarnya.
Saat ini, Farah memiliki sekitar 24.000 pengikut di X (Twitter) dan 18.000 di Threads. Ia harus rajin melayani komentar di medsosnya. ”Melayani komentar yang tidak setuju itu bikin energi lebih terkuras,” tambahnya.
Farah sudah empat kali melakukan detoks. Pertama, saat berlibur di Pulau Sumba tahun 2018, ketika jaringan internet tak stabil. Ia melepas semua aplikasi media sosial dari ponsel. ”Ternyata bisa juga hidup tanpa medsos,” kenangnya.
Enam tahun berselang, jumlah pengikutnya melonjak tajam. Ia kewalahan. ”Rasanya seperti kepala diikat, dan bahu terasa berat. Saat itu, aku merasa perlu detoks lagi,” katanya. Detoks terakhir pada Oktober 2024, seusai memandu sebuah pelatihan daring.
”Media sosial tetap penting, tapi hidup bisa tetap berjalan tanpa itu,” ujarnya.
Setelah detoks, ia merasa lebih menikmati dunia nyata. Ia lebih sering menghubungi teman-teman yang sudah lama tidak saling kontak. Yang pasti, ia merasa bisa hidup tanpa media sosial. Selain itu, tekanan yang muncul karena harus memenuhi ekspektasi terus aktif di media sosial perlahan memudar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/06/15d98567-75b6-43b7-a6aa-e9f9a12232bb_jpg.jpg)
”Beban untuk selalu hadir dan tampil akhirnya memudar. Aku bisa kembali menjalani hidup dengan tenang, tanpa terus merasa dinilai,” ujar Farah.
Ia menyarankan detoks bagi siapa pun yang mulai merasa mudah marah, mengalami insomnia atau overthinking, dan suka membandingkan diri. ”Biasanya itu tanda paparan media sosial sudah berlebihan,” katanya.
Apa yang dialami Farah bukan kasus tunggal. Psikiater dari RS Jiwa Dr H Marzoeki Mahdi, Bogor, Lahargo Kembaren, menyebut overstimulasi konten digital bisa memicu cognitive fatigue (kelelahan kognitif), bahkan cognitive decline (penurunan kognitif).
Namun, kelelahan semacam ini bukan sekadar soal fisik atau emosi. Dalam jangka panjang, kelelahan otak bisa merusak kemampuan membedakan informasi yang benar dan memperbesar peluang terjebak hoaks. Fenomena ini berkaitan erat dengan cara kerja otak yang membutuhkan energi dan waktu dalam melakukan pemusatan perhatian dan konsentrasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/12/a0886d720d4177d4b80cd6c2a2dadcf9-WhatsApp_Image_2025_05_08_at_7.16.42_PM.jpeg)
”Otak itu butuh durasi untuk bisa benar-benar fokus. Kalau terus-menerus disodori informasi baru, proses fokus alami terganggu,” kata Lahargo.
Akibatnya, otak kehilangan kesempatan untuk memproses informasi secara utuh. Bahkan, sebelum satu informasi selesai dicerna, sudah muncul rangsangan baru yang belum tentu relevan.
”Otak jadi keteteran. Belum sempat fokus, amygdala, atau bagian otak yang memproses emosi, sudah lebih dulu bereaksi. Akhirnya perasaan yang mengambil alih, bukan lagi bagian otak rasional, seperti prefrontal cortex,” ujar Lahargo.
Kondisi ini dikenal sebagai cognitive fatigue atau kelelahan kognitif. Jika dibiarkan, kondisi itu bisa berkembang menjadi penurunan fungsi otak dan memicu gangguan mental.
”Kalau sudah sampai tahap itu, dampaknya bisa ke mana-mana. Performa kerja menurun, prestasi belajar anjlok, bahkan bisa kehilangan pekerjaan. Itu semua bisa jadi stresor baru,” lanjutnya.
Konsensus para ahli juga menunjukkan betapa serius fenomena ini. Tim Jurnalisme Data Kompas mewawancarai 17 pakar lintas bidang, yakni psikiater, psikolog, sosiolog, pengembang media sosial, pengajar filsafat, guru, antropolog, dan konten kreator, untuk menguji seberapa dalam dampak brain rot pada kehidupan masyarakat.
Ketika ditanya apakah brain rot memengaruhi kemampuan publik dalam menilai dan memilah informasi di media sosial, termasuk membedakan fakta dari hoaks, sebanyak 94,12 persen menjawab ”ya”.
Mayoritas menilai bahwa paparan konten digital yang dangkal dan berulang-ulang membuat daya kritis melemah dan publik menjadi lebih mudah terpapar disinformasi.
Bahkan, semua responden sepakat bahwa brain rot berdampak negatif terhadap cara berpikir dan kemampuan kognitif masyarakat secara keseluruhan, baik dalam hal konsentrasi, ketajaman berpikir, maupun pengambilan keputusan.
Seperti yang dilakukan Farah, langkah awal yang tepat untuk menghadapi tanda-tanda kelelahan kognitif, menurut Lahargo, adalah detoks digital. Durasi dan bentuknya bisa disesuaikan, yakni tak membuka media sosial, mematikan notifikasi, atau tak membawa gawai saat bersama keluarga. ”Yang penting beri ruang bagi otak untuk bernapas,” ujarnya.
Namun, detoks saja tidak cukup. Karena penggunaan media sosial dapat menaikkan kadar hormon dopamin yang memicu rasa senang, otak tetap butuh pengganti agar tidak merasa ”sakau” setelah berhenti mengakses media sosial.
Jika tidak ada aktivitas pengganti, adiksi bisa kembali muncul. Oleh karena itu, ia menyarankan aktivitas fisik seperti berkebun, memasak, membaca buku fisik, mengikuti komunitas, atau bermain permainan tradisional.
”Intinya bukan sekadar berhenti dari media sosial, tapi membangun alternatif yang sehat dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Masalah ini tak berhenti pada aspek medis. Dalam perspektif komunikasi, konten digital juga membentuk pola pikir masyarakat. Sosiolog media dari Universitas Diponegoro, Nurul Hasfi, menyebut brain rot di Indonesia dipicu konsumsi konten pendek yang dangkal.
”Berita di media sosial sering kali tidak lengkap, tidak akurat, atau kehilangan konteks penting. Cara berpikir kita jadi terpotong-potong,” ujar Nurul.
Akibatnya, masyarakat jadi mudah emosional, cepat menyimpulkan, dan kehilangan kemampuan berpikir kritis. Ketika brain rot terjadi, hoaks dan informasi palsu lebih mudah dipercaya.
Fenomena ini, menurut Nurul, telah nyata terlihat dalam polarisasi politik. Ia mencontohkan manipulasi video yang menyusun potongan-potongan gambar seolah membentuk narasi utuh.
”Saya meneliti komunikasi politik dan melihat betul bagaimana masyarakat mudah terpecah hanya karena potongan informasi yang dipelintir,” katanya.
Ia mengatakan, melawan brain rot adalah tugas kolektif dari konsumen, pembuat konten, media, dan pemerintah. Konsumen perlu sadar bahwa mereka ikut membentuk algoritma. Semakin sering memilih konten bermutu, semakin kecil peluang konten dangkal tampil. Produsen konten pun perlu lebih etis.
”Sayangnya, banyak kreator hanya mengejar cuan. Tapi, kalau masyarakat makin kritis, pasar akan bergeser,” katanya.
Pemerintah juga punya peran penting. Meski ada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, pengawasan terhadap video viral di platform digital masih terbatas. Sementara itu, media arus utama harus tetap jadi jangkar literasi dan memegang teguh idealisme jurnalisme dengan menghadirkan informasi yang tajam, akurat, dan berimbang.
”Clickbait adalah bentuk awal brain rot, bahkan sebelum medsos populer. Sayangnya, masih ada media yang justru menyuburkan pola itu,” ucap Nurul.
Dalam dunia yang tak pernah berhenti memberi notifikasi, kadang pilihan terbaik adalah diam, meletakkan gawai, menarik napas, dan mengingat siapa yang memegang kendali. Sebab, melalui ujung jari kita memang hoaks bisa disebarkan, tetapi literasi juga bisa ditegakkan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/07/13/93390f32-f491-4916-9d27-c7ced9f9928c_jpg.jpg)
Penulis:
Satrio Pangarso Wisanggeni, Ratna Sri Widyastuti, Sri RejekiEditor:
Sri RejekiPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti