Meski berkali-kali menuai penolakan, Brasil tidak berhenti berharap pada Ancelotti. Di antara banyaknya pilihan calon pelatih, Ancelotti mendapat tempat istimewa.
27 Mar 2025 16:19 WIB · Olahraga
Sebagaimana gejala Stockholm syndrome, tim nasional Brasil terpikat pada Carlo Ancelotti yang telah menawan mereka sejak beberapa tahun belakangan. Kekalahan memalukan 1-4 dari Argentina menghidupkan kembali obsesi ”Seleccao” terhadap pelatih Real Madrid tersebut. Federasi Sepak Bola Brasil (CBF) dikabarkan kembali menjajaki kemungkinan merekrut Ancelotti. Hanya saja, jawaban terhadap penawaran itu masih tanda tanya.
Laporan The Athletic menyebutkan pengejaran Brasil terhadap Ancelotti masih terus berlanjut. Pemicunya adalah kekalahan telak dari musuh bebuyutan, Argentina, pada lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2026. Kekalahan itu memang tidak mengancam kans Brasil berlaga di Piala Dunia. Saat babak kualifikasi tinggal menyisakan empat laga, Brasil menempati peringkat keempat dengan koleksi 21 poin, unggul tujuh poin atas Bolivia di peringkat kedelapan.
Hanya enam dari 10 tim peserta kualifikasi zona Amerika Selatan yang berhak lolos langsung ke Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Adapun satu tim lagi berkesempatan meraih tiket lolos melalui babak playoff antarkonfederasi. Dengan begitu, peluang Brasil untuk lolos secara langsung relatif masih sangat aman.
Hal yang lebih mengkhawatirkan dari Brasil bukan pada peluang lolos ke Piala Dunia, melainkan masa depan tim saat masih ditangani Dorival Junior. Mantan pelatih Sao Paulo itu dinilai gagal mengangkat performa Brasil setahun jelang Piala Dunia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/27/a9ae183e-2954-4068-b0ca-fcf86d5663a5_jpg.jpg)
Dorival didapuk menggantikan Tite pada Januari 2024. Bersama Brasil, Dorival telah menjalani 16 laga. Dari 16 laga tersebut, dia membukukan 7 kemenangan, 6 hasil imbang, dan 3 kali kalah.
Sebelum dibantai Argentina, Brasil meraih kemenangan yang kurang meyakinkan kontra Kolombia. Mereka terselamatkan gol Vinicius Junior pada menit-menit akhir. Gol Vinicius sekaligus menutupi kelemahan Brasil sebagai tim. Mereka kini cenderung mengandalkan kemampuan individu alih-alih tampil bagus secara kolektif.
Tebersit pertanyaan mengenai kiprah Brasil di Piala Dunia jika terus mempertahankan Dorival. Brasil tidak mungkin selalu mengandalkan talenta individu. Maka dari itu, nama Ancelotti kembali menyeruak. Pelatih asal Italia itu sebelumnya sempat dikaitkan dengan kursi pelatih timnas Brasil pada 2022 dan 2023. Namun, Ancelotti pada akhirnya bertahan bersama Real Madrid.
”CBF telah menghubungi Ancelotti untuk menjadi pelatih mereka jelang turnamen musim panas (Piala Dunia) mendatang di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, menggantikan Dorival Junior yang sedang berada di bawah tekanan,” tulis The Athletic dalam laporannya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/10/3cbe5941381b15347a91188e0e95a154-AFP_36ZJ3B2.jpg)
Pihak Real mengklaim tidak mengetahui adanya kontak antara Brasil dan Ancelotti. Ketertarikan Brasil terhadap pria berjuluk Don Carlo tersebut seakan tidak lekang oleh zaman. Mereka menyadari telah tertawan dengan pesona Ancelotti hingga terjebak selamanya dalam dunianya.
Ini menyerupai gejala Stockholm syndrome di mana korban yang tertawan justru mengagumi penculiknya. Demikian pula hubungan Brasil dan Ancelotti. Brasil tahu telah terbius Ancelotti, tetapi enggan beralih dan lebih memilih terus mengaguminya.
Ancelotti masih terikat kontrak dengan Real hingga 2026. Namun, belakangan posisinya mulai diisukan tidak aman seiring pendekatan Real terhadap Pelatih Bayer Leverkusen Xabi Alonso. Tidak ada loyalitas sejati di Real, yang ada hanyalah ambisi akan gelar. Ancelotti sangat menyadari kultur Real itu, apalagi ia pernah dipecat semusim setelah mengantarkan Real merebut trofi Liga Champions Eropa pada 2015.
Real hingga saat ini masih berpeluang memenangkan tiga gelar dalam semusim. ”Los Blancos” berhasil menembus perempat final Liga Champions, semifinal Piala Raja Spanyol, dan bersaing ketat dengan Barcelona di puncak klasemen Liga Spanyol. Sejumlah rumor menyebutkan, tiada ampun bagi Ancelotti bila gagal memenangkan Liga Champions musim ini.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/26/8423be79-8945-408c-9118-c83fc36f1fba_jpg.jpg)
Jika itu terwujud, penantian panjang Brasil terhadap sentuhan tangan dingin Ancelotti akan berakhir. Hanya saja, negosiasi besar kemungkinan terjadi sebelum awal musim depan, lebih tepatnya saat Real berpartisipasi pada Piala Dunia Antarklub Juni 2025. Sebelum saat itu tiba, Brasil masih akan menjalani cinta jarak jauh dengan Ancelotti.
Selain Ancelotti, Brasil turut dikabarkan mempertimbangkan mantan bek Atletico Madrid, Filipe Luis, sebagai kandidat pengganti Dorival. Luis saat ini membesut tim lokal Brasil, Flamengo. Selama menangani Flamengo dalam 26 laga, dia menampilkan performa apik dengan membawa timnya meraih 19 kemenangan, enam hasil imbang, dan hanya sekali kalah.
Namun, Luis hanya akan menjadi opsi kesekian dari skema pergantian pelatih Brasil. Ke mana pun Brasil memandang, mereka hanya melihat Ancelotti seorang.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Emilius Caesar Alexey