BRI Danareksa Sekuritas menilai sektor yang prospektif pada semester II-2025 seperti komoditas dan tambang, serta telekomunikasi.
03 Jul 2025 19:48 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Pasar saham Indonesia ataupun global telah mengalami tekanan besar pada semester I-2025. Akan tetapi, kinerja pasar pada paruh kedua tahun ini diperkirakan mulai membaik, meski berbagai risiko dari luar negeri masih perlu menjadi perhatian.
Head of Equity Research Division PT BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) Erindra Krisnawan, Kamis (3/7/2025), menuturkan, kinerja pasar saham selama semester I-2025 yang ditandai dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mengalami koreksi sekitar 2 persen. Bahkan, indeks saham populer, seperti LQ45, turun 6 persen.
Pada triwulan I-2025, IHSG sempat terkoreksi dalam hingga menyentuh level 5.900-an. Pasar saham kemudian mengalami rebound pada Juni. Kondisi tersebut menunjukkan volatilitas yang tinggi sepanjang separuh pertama 2025.
Sektor yang dinilai prospektif di semester II, antara lain, adalah komoditas dan tambang, serta telekomunikasi.
”Faktornya, kalau kita ingat, didominasi global yang penuh berita headline, terutama episode tarif (resiprokal) oleh Amerika Serikat, eskalasi konflik Iran-Israel yang menambah ketidakpastian, di samping prediksi lembaga dunia bahwa ekonomi global akan melambat,” tuturnya dalam acara diskusi Market Outlook 2nd Half 2025 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta.
Menurut dia, berbagai tekanan ke pasar saham pada semester I-2025 telah mereda. Hal itu diikuti stabilitas ekonomi dalam negeri yang masih baik, dari indikator nilai tukar rupiah yang stabil, inflasi rendah, dan neraca perdagangan yang masih berpotensi surplus.
”Proyeksi kinerja saham dari sisi stabilitas masih oke, tapi dari segi pertumbuhan masih melambat,” kata Erindra.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/23/226251b76e466cfdf2e68b53f4da4e65-20250623TOK12.jpg)
Pada akhir tahun, Erindra mengatakan, BRIDS memperkirakan IHSG akan mencapai level 7.300. Sektor yang dinilai prospektif di semester II antara lain komoditas dan tambang, serta telekomunikasi.
Pada semester II tahun ini, ia menilai pasar saham masih akan dipengaruhi faktor eksternal, khususnya dari perkembangan data pertumbuhan ekonomi global yang masih melambat di bawah 3 persen. Proyeksi ini didorong pelemahan pertumbuhan ekonomi AS dan China.
”Investor harus menyikapi data yang akan keluar karena akan menentukan suku bunga The Fed (bank sentral AS) dan global,” ujarnya.
Sepanjang separuh 2025, BRIDS baru membawa satu emiten untuk menawarkan saham perdana di bursa.
Risiko geopolitik terbaru menjadi isu yang perlu diperhatikan investor karena tidak hanya dapat mengancam ekonomi global, tetapi juga dalam negeri. Indikator ekonomi, seperti adanya segmen konsumen yang mulai khawatir pada ketersediaan lapangan kerja, juga bisa berimplikasi ke daya beli, pengeluaran rumah tangga, dan perlambatan penjualan ritel.
Direktur Utama BRIDS Laksono Widodo, saat ditemui di sela acara yang sama, menuturkan, situasi pasar saham yang volatil berpengaruh pada selera investasi nasabah mereka. Akibatnya, mereka juga sulit mendorong perusahaan matang untuk ”melantai” atau IPO di bursa. Laksono mengakui tantangan ini terjadi dalam satu setengah tahun lalu.
”Kalau IPO yang besar-besar, kan, biasanya nunggu market membaik dulu. Market-nya sangat volatil, terutama dari awal tahun, walaupun sekarang sudah mulai membaik. Harapannya di semester dua bisa semakin positif,” ungkapnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/08/b16f8d27-a8ba-4cf3-944b-d0621838a467_png.png)
Sepanjang separuh 2025, BRIDS baru membawa satu emiten untuk menawarkan saham perdana di bursa. Adapun pada pertengahan kedua tahun ini, terdapat tiga perusahaan beraset menengah dan besar yang tengah bersiap untuk IPO. Perusahaan itu bergerak di sektor logistik, manufaktur, dan kesehatan.
Selain menghambat aksi IPO, volatilitas di pasar saham juga diakui membuat investor institusi, dari lembaga dana pensiun hingga asuransi, mengurangi portofolio investasinya. ”Saat ini, banyak alternatif investasi lain yang tidak terlalu berisiko, seperti SRBI hingga SBN. Kalau suku bunga sudah mulai menurun, pasar ekuitas kembali membaik,” kata Laksono.
Di sisi lain, ia mengakui peran investor ritel atau individu dalam menjaga transaksi di pasar saham. Saat ini, BRIDS memiliki sekitar hampir 400.000 investor ritel dengan nilai transaksi rata-rata Rp 250 miliar per hari. Mereka menargetkan, sepanjang tahun ini, rata-rata transaksi investor ritel naik hingga Rp 300 miliar per hari.
Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik, ditemui pada kesempatan sama, juga mengakui andil investor ritel di pasar saham sejauh ini. Hal ini terlihat saat pasar saham mengalami tekanan akibat penerapan kebijakan tarif oleh AS.
”Ada fakta menarik, yaitu pada 28 Maret sampai 7 April, saat pasar kita tutup selama Idul Fitri, pasar saham global bergejolak karena kebijakan tarif AS. Tapi dalam kurun waktu libur itu terjadi pembukaan rekening saham baru oleh sekitar 38.000 investor ritel,” ungkap Jeffrey.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/23/11ecffa287bb81eabc6bdfdd3f8aeed3-20250623TOK5.jpg)
Secara umum, jumlah investor ritel mampu meningkat drastis sejak awal tahun hingga 2 Juli 2025 sebanyak 2,1 juta investor. Total investor di pasar modal pun menyentuh angka 17 juta investor. Investor ritel tercatat menyumbang lebih dari 42 persen dari rata-rata nilai transaksi harian sebesar Rp 13,2 triliun.
”Investor ritel berkontribusi pada penyerapan 90 persen saham yang dijual investor asing. Jadi, ritel kita yang besar dan kuat akan menjadi fondasi yang sangat baik bagi pertumbuhan pasar modal kita ke depan,” katanya.
Selain itu, Jeffrey menilai, pencapaian tersebut tidak terlepas dari kegiatan edukasi dan peran anggota bursa dalam menyediakan fasilitas teknologi yang semakin memudahkan masyarakat untuk berpartisipasi sebagai investor ritel di pasar modal.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase