Serangan efektif dan kontribusi gol merata disuguhkan enam tim yang bersaing ketat di zona atas Liga Super. Penguasaan bola dominan bukan jaminan ke posisi puncak.
04 Nov 2025 15:58 WIB · Olahraga
ANTARA FOTO
Memasuki pekan kesepuluh BRI Liga Super Indonesia 2025-2026, enam tim sudah mengekalkan diri untuk memanaskan persaingan di papan atas. Lima tim silih berganti mengisi pos kedua hingga keenam, tetapi Borneo FC terus kekal di puncak klasemen karena belum pernah kehilangan poin.
Berbeda dengan 16 tim lain, Borneo baru akan menjalani laga pekan ke-10, Rabu (5/11/2025) pukul 19.00 WIB, di Stadion Segiri, Samarinda, Kalimantan Timur. Mereka berlaga lebih telat akibat menyesuaikan agenda sang lawan, Dewa United, yang baru merampungkan tiga laga fase grup Liga Challenge Asia.
Terlepas belum menjalani gim pekan ini sehingga masih memainkan delapan gim, skuad berjuluk ”Pesut Etam” itu kunci utama untuk meraih delapan kemenangan beruntun. Bahkan, mereka bisa melanjutkan tren raihan tripoin ketika menjamu Dewa yang masih inkosisten dan tiga laga belum menang di Liga Super.
Kunci utama lini serang tim asuhan Fabio Lefundes itu adalah efektivitas memanfaatkan peluang. Borneo tim yang bisa dikatakan minimalis menciptakan tembakan per laga. Jumlah tembakan mereka ialah 115 tembakan.
Kuantitas tembakan itu amat jauh apabila dibandingkan dengan Persija Jakarta dan Persib Bandung. Kedua tim itu masing-masing sudah menghasilkan 166 tembakan dan 146 tembakan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/04/8bff137234e9edcb36f4bd3dcf65a9d6-antarafoto_borneo_fc_kalahkan_arema_1762246111.jpg)
Nilai akurasi tembakan pemain-pemain Borneo juga tidak terlalu istimewa dibandingkan dengan lima tim di bawahnya. Persentase akurasi tembakan Borneo mencapai 37 persen. Jumlah itu nyaris serupa dengan Persib dan PSIM Yogyakarta yang mencatatkan 36 persen akurasi tembakan.
Membahas soal akurasi tembakan, Borneo bahkan kalah dari Persija dengan 40 persen akurasi. Dua tim dengan tingkat tembakan mengarah ke gawang terbaik di Liga Super musim ini dipegang oleh Malut United dan Persita Tangerang yang mengoleksi 41 persen akurasi tembakan.
Namun, Pesut Etam adalah tim yang tidak butuh menciptakan banyak tembakan untuk membobol gawang lawan. Catatan 17 gol yang sudah mereka hasilkan tercipta dari hanya 2,5 tembakan mengarah ke gawang. Jika dibandingkan dengan total tembakan, sebuah gol Borneo diciptakan dari melakukan 6,76 tembakan.
Serangan yang efektif itu rata-rata dihasilkan melalui transisi positif dan bola mati. Pasalnya, Borneo tidak mengedepankan filosofi mengontrol permainan. Lefundes mempertahankan pendekatan permainan yang mementingkan hasil di Samarinda.
Borneo hanya mencatatkan rerata 41,8 persen penguasaan bola per gim. Dengan persentase penguasaan bola itu, Pesut Etam hanya lebih baik daripada Persebaya Surabaya, PSBS Biak, Persita, dan PSM Makassar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/04/a972f92bbfec9e1584f89d01b5a54f79-antarafoto_persija_jakarta_menang_atas_psbs_biak_1762246270.jpg)
Kami belum mampu sepenuhnya mengontrol permainan. Meski begitu, kami mampu mencatatkan rata-rata keberhasilan (serangan) lebih tinggi dibandingkan eror (kesalahan) yang masih kerap kami buat.
Di sisi lain, Persija dan PSIM adalah tim dengan rata-rata penguasaan bola tertinggi di Liga Super, musim ini. Persija menguasai bola 60,4 persen per gim, sedangkan PSIM mengontrol bola dengan persentase 57,4 persen per laga.
Namun, mereka membutuhkan lebih banyak tembakan untuk menghasilkan gol. Persija, misalnya, memerlukan 8,3 tembakan per laga untuk menggetarkan jala gawang lawan.
Adapun PSIM membutuhkan 10,4 tembakan per laga demi mencetak sebuah gol. Angka itu nyaris serupa dengan juara bertahan, Persib, yang memerlukan 10,4 tembakan guna mengubah angka di papan skor.
Sementara itu, Malut adalah tim dengan tingkat konversi peluang tertinggi. Sebuah gol yang dihasilkan skuad asuhan Hendri Susilo hanya berasal dari enam tembakan. Persita mencetak satu gol dari rata-rata tujuh percobaan tembakan.
Di tengah performa efektif anak asuhannya, Lefundes tetap menuntut Borneo bisa lebih baik ketika menguasai bola. Ia tidak ingin pemain-pemain Borneo mudah melakukan kesalahan sehingga mudah kehilangan bola.
”Kami belum mampu sepenuhnya mengontrol permainan. Meski begitu, kami mampu mencatatkan rata-rata keberhasilan (serangan) lebih tinggi dibandingkan eror (kesalahan) yang masih kerap kami buat,” tutur Lefundes.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/04/d3b231be68cd47a71ab09690a377d745-antarafoto_persijap_jepara_dikalahkan_malut_united_fc_1762246330.jpg)
Lefundes juga memiliki tujuh pemain yang sudah mencatatkan nama di papan skor. Mariano Peralta, pemain andalan Borneo asal Argentina sejak musim lalu, memimpin daftar pencetak gol timnya dengan lima gol.
Empat pemain asal Brasil menopang peran sumber gol Peralta dengan telah menghasilkan lebih dari sebuah gol. Mereka adalah Douglas Coutinho Gomes dan Joel Vinicius Silva dengan masing-masing tiga gol. Juan Felipe Villa dan Maicon De Souza sudah menyumbang dua gol.
Gelandang bertahan, Kei Hirose, tak kalah sudah menghasilkan satu gol. Kemudian, Muhammad Sihran merupakan satu-satunya pemain lokal Borneo yang sudah mencetak gol.
Pencetak gol Borneo sekaligus membuktikan satu resep tim untuk bisa tampil menyerang dengan baik di Liga Super, yaitu memiliki penyerang asal Brasil. Dalam daftar 11 pencetak gol terbanyak di Liga Super hingga pekan ke-10, hanya empat pemain yang tidak memegang paspor Brasil.
Daftar top scorer Liga Super dikuasai penyerang Arema FC, yakni Dalberto, dengan 10 gol. Ia disusul Emaxwell Souza dari Persija dengan 8 gol, lalu Uilliam Barros Pereira milik Persib berkat 6 gol, serta Peralta.
Kemudian, dari tujuh pemain yang sudah mencetak empat gol, sebanyak empat pemain berasal dari ”Negeri Samba”. Adapun tiga pemain non-Brasil yakni Kodai Tanaka (Jepang/Persis Solo), Nermin Haljeta (Slovenia/PSIM), dan Yakob Sayuri (Indonesia/Malut).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/04/beab9c45d11a4319adc9dc5ac476dee5-antarafoto_borneo_fc_kalahkan_arema_1762246086.jpg)
Pembagian kontribusi gol Borneo masih lebih baik daripada para pesaingnya. Persija, yang duduk di peringkat kedua, amat bergantung kepada duo Brasil, yakni Emaxwell Souza dan Allano Brendon, yang sudah menyumbang 12 gol.
”Sejak awal, saya menyadari Persija memiliki target besar. Saya datang untuk membantu meraih tujuan itu,” ujar Emaxwell.
Persib juga masih mencari cara untuk tidak bergantung pada Uilliam. Baru Andrew Jung yang sudah mencetak lebih dari satu gol selain Uilliam. Gol tunggal Jung ke gawang Bali United pada Sabtu (1/11/2025).
Di sisi lain, Malut mampu menjadi tim dengan serangan terbaik berkat kehadiran kuartet penyerang yang sudah terbukti di kompetisi Indonesia. Empat pemain sudah mencetak setidaknya tiga gol. Ciro dan Yakob sudah empat kali mencetak gol, lalu David Da Silva dan Tyronne Del Pino menyumbang tiga gol.
Tentu, kontribusi gol merata akan menentukan tim-tim yang bakal memperebutkan gelar Liga Super pada penghujung musim ini.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto