Budi Arie Klaim Banyak Parpol Ingin Menampung Jokowi

Pengamat politik melihat Jokowi masih bakal mempunyai pengaruh besar di akar rumput yang bisa menjadi modal parpol menghadapi Pemilu 2029.

07 Des 2024 19:44 WIB · Politik & Hukum

Oleh Willy Medi Christian Nababan

JAKARTA, KOMPAS — Ketua Umum Pro-Jokowi atau Projo, Budi Arie Setiadi, mengklaim banyak partai politik yang ingin menampung Presiden ke-7 Joko Widodo setelah PDI Perjuangan menyatakan Jokowi tak lagi bagian dari partai tersebut. Bahkan, terbuka pula peluang Projo menampung Jokowi jika kelak kelompok sukarelawan Jokowi itu menjadi partai politik.

Sabtu (7/12/2024), Jokowi bersama dengan calon gubernur Jakarta nomor urut 1, Ridwan Kamil, menjadi saksi pernikahan putri Sekretaris Jenderal Galang Kemajuan (GK) Center Diddy Budiono, Mandy Ramadhanty Khaerunissa, dengan Shafia Fauzi Al-Jahmi di Bumi Harum Manis Garden, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Ayah dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka itu mengenakan kemeja putih dibalut jas biru laut lengkap dengan dasi biru muda dan peci hitam. Adapun Kamil mengenakan kemeja putih yang dibalut dengan jas dan celana berwarna abu-abu. Agenda tersebut menjadi kegiatan lanjutan Jokowi di Jakarta setelah sempat menemui Presiden Prabowo Subianto di kediamannya, di Jakarta, Jumat (6/12/2024) malam.

Budi Arie Setiadi yang turut menjadi tamu undangan mengatakan tidak ada obrolan politik di antara Jokowi dan Ridwan Kamil di sela acara pernikahan. Keduanya hadir sepenuhnya untuk menjadi saksi.

Meski demikian, Menteri Koperasi ini sempat mengomentari pertemuan Jokowi dan Prabowo sehari sebelumnya. Ia menilai baik pertemuan itu. ”Bagus aja, mantan presiden dan presiden saat ini diskusi, kangen-kangenan,” terangnya.

Saat ditanya perihal langkah setelah Jokowi tak lagi bagian dari PDI-P, Budi menyebut banyak partai politik (parpol) yang ingin menampung mantan presiden tersebut. Namun, ia tak menyebutkan parpol dimaksud. Selain itu, terbuka pula peluang Jokowi bergabung dalam Projo jika kelak kelompok sukarelawan pendukung Jokowi di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 dan 2019 tersebut menjadi parpol.

Quote

Ada persepsi di partai-partai ini bahwa pengaruh Pak Jokowi masih sangat kuat di basis masanya, di ”grassroot”-nya, di masyarakat yang sangat bisa dijadikan modal untuk nanti pemilihan legislatif di 2029. Jadi orang berharap Pak Jokowi jadi ”vote getter”.

”Banyak yang menampung. Semua partai siap menampung Pak Jokowi, terutama Projo, kalau jadi partai ha-ha-ha,” tambahnya.

Sejauh ini, sudah ada pernyataan dari elite Partai Gerindra, Partai Golkar, dan Partai Amanat Nasional (PAN), yang menyatakan partainya terbuka jika Jokowi beserta keluarganya ingin bergabung. Namun, belum ada jawaban dari Jokowi atas pernyataan dari para elite parpol itu.

Presiden Prabowo Subianto makan malam bersama dengan Presiden ketujuh RI Joko Widodo di rumah Prabowo di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Jumat (6/12/2024). *** Local Caption *** Presiden Prabowo Subianto makan malam bersama dengan Presiden ketujuh RI Joko Widodo di rumah Prabowo di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Jumat (6/12/2024).

Berpengaruh kuat

Menurut pengajar politik di Universitas Padjadjaran, Kunto Adi, respons berbagai parpol setelah Jokowi tak lagi bagian dari PDI-P menunjukkan figurnya masih dipertimbangkan dalam kancah politik elektoral. Setiap parpol melihat Jokowi masih bakal mempunyai pengaruh besar di akar rumput yang bisa menjadi modal Pemilu 2029.

”Ada persepsi di partai-partai ini bahwa pengaruh Pak Jokowi masih sangat kuat di basis massanya, di grassroot-nya, di masyarakat, yang sangat bisa dijadikan modal untuk nanti pemilihan legislatif atau presiden di 2029. Jadi, orang berharap Pak Jokowi jadi vote getter,” katanya.

Kekuatan elektoral Jokowi itu setidaknya terlihat di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Tengah (Jateng) dan Sumatera Utara (Sumut) 2024. Di Pilkada Jateng, calon yang dikampanyekan Jokowi, Ahmad Luthfi-Taj Yasin, memperoleh suara terbanyak. Adapun di Pilkada Sumut, menantu Jokowi, Bobby Nasution, memenangi kontestasi dengan mengalahkan petahana, Edy Rahmayadi.

”Itu menunjukkan bagaimana power-nya Pak Jokowi masih sangat kuat secara politik,” tambahnya.

Ahmad Luthfi melambaikan tangannya saat datang bersama tim pemenangan dan partai koalisi untuk menyambut keunggulan perolehan suara pada Pilkada Jateng di Posko Pemenangan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (27/11/2024).
Calon gubernur dan wakil gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution-Surya menyapa para pendukungnya di rumah pemenangannya di Jalan Balai Kota, Medan, Sumatera Utara, Rabu (27/11/2024) malam.
Putra Presiden ketujuh RI Joko Widodo, Kaesang Pangarep, saat dipilih sebagai Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Ballroom Djakarta Theater, Jakarta, Senin (25/9/2023).

Tak sebatas itu, posisi strategis yang dijabat oleh keluarga Jokowi serta orang dekatnya dinilai kian menguatkan posisi politik Jokowi, utamanya untuk Pemilu 2029. Selain Bobby dan Luthfi yang akan menjadi Gubernur Sumut dan Jateng, putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, telah menjabat wakil presiden, sedangkan putra bungsunya, Kaesang Pangarep, kini memimpin Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Namun, ia memprediksi Jokowi belum akan mengambil keputusan dalam waktu dekat. Dengan ”kekuatan” yang dimilikinya, ia akan menimbang keputusan yang akan memberikan keuntungan politik terbesar baginya.

”Politik itu manajemen harapan. Pak Jokowi mungkin akan terus memupuk harapan ke partai-partai agar mereka tetap berbaik hati kepada Pak Jokowi dan keluarganya. Pada akhirnya Pak Jokowi tentu akan menentukan pilihannya apabila ada partai yang memberi keuntungan politik lebih besar,” jelasnya.

Meskipun demikian, Kunto Adi melihat potensi maksimal muncul ketika Jokowi membentuk parpol sendiri. Sebab, parpol yang bersedia menampungnya cenderung memiliki banyak faksi yang berpotensi terpecah belah.


Kerabat Kerja

Penulis:

Willy Medi Christian Nababan
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari