RAMADHAN

Buka Puasa Ramadhan di Pengungsian Gaza

Di bawah temaram nyala lampu, di antara puing bangunan yang hancur, warga Palestina korban perang menikmati buka puasa Ramadhan pertama secara sederhana.

19 Feb 2026 12:34 WIB · Internasional

AP/Abdel Kareem Hana

Oleh Priyombodo .

Waleed al Zamli mengenang dengan penuh kerinduan tradisi hari pertama Ramadhan yang diwarnai kegembiraan anak-anak bermain lentera, manisan, dan hidangan istimewa.

 ”Sebelum perang, kami menyambutnya dengan gembira,” kata ayah dari 11 anak itu, berbicara dari Muwasi, sebuah daerah yang dipenuhi tenda-tenda yang menampung warga Palestina yang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat serangan militer Israel.

Ia sedih karena tidak mampu menghidupi keluarganya dengan layak, karena kini hidup di pengungsian. Al Zamli kehilangan pekerjaannya setelah toko tempat ia bekerja hancur.

Israel Palestinians Gaza Ramadan

Jadi, untuk ”iftar” atau berbuka puasa Ramadhan pertama, istrinya mengambil makanan pada hari Rabu (18/2/2026), dari dapur amal yang sangat diandalkan keluarganya. Ia membuat sup untuk disantap bersama makanan tersebut. ”Tahun ini tidak ada kebahagiaan,” kata Al Zamli.

Kesulitan dan kehilangan akibat pecahnya perang antara Israel dan Hamas menghilangkan semangat Ramadhan bagi banyak orang. Ramadhan di Gaza berlangsung di bawah kesepakatan gencatan senjata yang rapuh. Banyak warga Palestina di sana mengatakan kemeriahan Ramadhan tidak terasa karena mereka bergumul dengan kesedihan, kesulitan kehidupan sehari-hari, serta kehilangan akibat perang.

APTOPIX Israel Palestinians Gaza Ramadan

Kesulitan ini terlihat cukup jelas di dapur amal. Di sana, puluhan orang berkerumun, berdesak-desakan mengulurkan tangan dengan panci kosong. Di antara mereka ada perempuan dan anak-anak.

Selama Ramadhan, umat Islam berpuasa setiap hari dari subuh hingga matahari terbenam. Ini adalah waktu untuk meningkatkan ibadah, refleksi keagamaan, dan amal. Dalam keadaan normal, bulan ini sering kali menyatukan keluarga dan teman untuk berbuka puasa bersama yang penuh sukacita.

Namun, keadaan di Gaza sangat  jauh berbeda. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, serangan militer Israel telah menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina dan menyebabkan kerusakan yang masif serta menyebabkan sebagain besar penduduk kehilangan tempat tinggalnya. Israel melancarkan serangan tersebut setelah militan pimpinan Hamas membunuh sekitar 1.200 orang, sebagian besar warga sipil, dan menyandera 251 orang lainnya dalam serangan mereka pada 7 Oktober 2023.

Israel Palestinians Gaza Ramadan
Israel Palestinians Gaza Ramadan

Bagi Al Zamli, tantangan terbesar di bulan Ramadhan ini adalah menyediakan makanan untuk keluarganya. Ia mengatakan bahwa ia menerima bantuan yang terbatas. Makanan, seperti daging dan unggas, lebih mahal daripada harga sebelum perang. Apa lagi hidup tanpa pekerjaan dan penghasilan membuatnya tambah sulit untuk berbelanja berbagai kebutuhan tersebut. ”Anak-anak ingin merasa bahagia, seperti anak-anak orang lain, ingin berpakaian, dan makan sesuatu yang bersih dan istimewa,” katanya.

Tekanan finansial dapat meningkat secara signifikan selama Ramadhan, katanya. Biasanya, banyak pembeli berbondong-bondong ke pasar untuk membeli bahan makanan pokok dan dekorasi serta perlengkapan lainnya.  Namun, kondisinya telah berubah. Banyak warga Gaza yang mengeluhkan sulitnya kondisi ekonomi pada Ramadhan kali  ini.

Meskipun demikian, di tengah kesulitan, beberapa orang di Jalur Gaza telah berupaya menghadirkan sedikit nuansa perayaan bulan Ramadhan. Mereka menggantungkan untaian dekorasi Ramadhan di antara reruntuhan. Di kamp pengungsian mereka, anak-anak Al Zamli bermain dengan kaleng soda kosong yang dibentuk menyerupai lentera Ramadhan.

Israel Palestinians Gaza Ramadan
Israel Palestinians Gaza Ramadan
Israel Palestinians Gaza Ramadan
APTOPIX Israel Palestinians Gaza Ramadan

Kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada 10 Oktober berupaya menghentikan perang yang telah berlangsung lebih dari dua tahun antara Israel dan Hamas. Meskipun pertempuran besar telah mereda, gencatan senjata tersebut masih diwarnai dengan tembakan pasukan Israel yang terjadi hampir setiap hari. Pasukan Israel telah melakukan serangan udara berulang kali dan sering menembaki warga Palestina di dekat zona yang dikuasai militer.

Al Zamli mengatakan, perang telah merampas banyak hal darinya dan keluarga. Menantu laki-lakinya tewas tak lama setelah ia menikahi putrinya yang kini menjanda.

Ramadhan kali ini ia berdoa ”agar pertumpahan darah berakhir…. Diberi keselamatan, keamanan dan ketenangan”.  Serta ”dapat menyediakan makanan dan pakaian yang baik untuk anak-anak kami.” (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Priyombodo .
 | 

Editor:

Yuniadhi Agung
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto