Warga Palestina bergembira menyambut bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.
18 Feb 2026 09:09 WIB · Internasional
AP/EYAD BABA
Ada pemandangan berbeda daripada hari-hari biasanya di Gaza. Jalan-jalan masih berantakan dan berdebu. Namun, di atas jalan banyak kabel lampu kelap-kelip beraneka warna.
Sementara di sekitar tenda pengungsi yang dibangun di sela-sela bangunan yang runtuh akibat perang, anak-anak memasang hiasan sederhana berbentuk bulan dan bintang. Hiasan itu itu mereka tempelkan di tembok-tembok yang mulai miring.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/18/7e0e191a-1226-4345-bda1-58d72790c47a.jpg)
Menjelang sore, kumpulan bocah terlihat bermain kembang api di antara reruntuhan bangunan sambil menunggu waktu shalat Tarawih pertama. Saat petang, ratusan pria melaksanakan shalat Tarawih pertama di dua masjid yang berdekatan.
Walaupun banyak kerusakan, Masjid Lakanz dan Masjid Omari di kota Gaza menjadi tujuan warga untuk melaksanakan shalat Tarawih perdana. Sebuah tenda besar dipasang menggantikan atap masjid yang telah runtuh.
Di tengah suasana yang tidak sepenuhnya aman, warga Palestina bergembira menyambut bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah. Di Gaza, hari pertama bulan suci Ramadan jatuh pada hari Rabu (18/2/2026).
Selama Ramadhan, umat Islam yang taat akan berpuasa setiap hari dari subuh hingga matahari terbenam. Dalam keadaan normal, bulan ini sering kali menyatukan keluarga dan teman untuk berbuka puasa dalam pertemuan yang penuh sukacita.
”Tidak ada kebahagiaan setelah kami kehilangan keluarga dan orang-orang terkasih,” kata Fedaa Ayyad, warga Kota Gaza. Situasi di Gaza saat ini jauh dari normal. Suasana ini telah mereka rasakan selama tiga tahun terakhir saat perang Israel dan Hamas berlangsung.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/18/b1568433-038f-46b1-b9a7-a04a363234c2.jpg)
Serangan militer Israel tidak saja menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina, tetapi juga menyebabkan kerusakan yang meluas serta menggusur sebagian besar penduduk wilayah tersebut. Israel melancarkan serangan setelah Hamas membunuh sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 orang lainnya dalam serangan mereka pada 7 Oktober 2023.
Saat warga Gaza mengunjungi pasar minggu ini, beberapa menyesalkan bahwa kesulitan ekonomi menyelimuti bulan ini. ”Tidak ada uang tunai di kalangan masyarakat. Tidak ada pekerjaan,” kata Waleed Zaqzouq, warga kota Gaza.
Warga lain, Raed Koheel, yang tinggal di Kota Gaza mengatakan bahwa banyak yang berubah dari Ramadhan kali ini dibandingkan sebelum perang. ”Dulu, suasananya lebih menyenangkan. Jalan-jalan diterangi dengan dekorasi. Semua jalan memiliki dekorasi. Anak-anak kami bahagia.”
Meskipun demikian, di tengah kesulitan, beberapa orang di Jalur Gaza telah berupaya menghadirkan sedikit nuansa perayaan Ramadhan. Seniman kaligrafi Hani Dahman melukis ucapan ”Selamat Datang, Ramadhan” di tembok-tembok yang tersisa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/18/1883bfb2-3972-48a6-ae71-0074a3f46378.jpg)
Sementara Mohammed Taniri membuat dekorasi di antara reruntuhan tembok dengan memasang hiasan kertas dan plastik. Terlepas dari semua kesulitan yang ada, umat Islam di Gaza menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dengan penuh syukur. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto