INVESTASI PORTOFOLIO

Saatnya Ubah Strategi dari ”Cash is King” ke ”Cash is Opportunity”

Jika ada uang lebih saat ini, baiknya tidak hanya dibiarkan diam.

19 Apr 2026 07:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Erika Kurnia

Memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah menjadi tema global di 2026. Perang di antara dua kubu itu mengancam nasib ekonomi banyak negara dan hajat hidup banyak manusia lewat serangan ke ketahanan energi. Situasi ini pun ikut mengganggu dompet masyarakat karena harga sejumlah komoditas dan produk turunannya meningkat.

World Uncertainty Index, alat ukur ketidakpastian ekonomi dan kebijakan global yang disusun berdasarkan analisis teks laporan Economist Intelligence Unit (EIU) di sejumlah negara, menunjukkan bahwa ketidakpastian global melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah pada Februari 2026. Indeks mencapai level 106, melampaui puncak sebelumnya di era pandemi Covid-19, krisis keuangan 2008, dan serangan 11 September di Amerika Serikat.

Dampak ketidakpastian ini pun telah menjalar hingga ke Indonesia. Data Badan Pusat Statistik mencatat bahwa inflasi tahunan 3,48 persen secara tahunan pada Maret 2026. Tekanan inflasi terutama yang berasal dari komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) tumbuh sekitar 6,08 persen secara tahunan serta komponen harga bergejolak (volatile food) sebesar 4,24 persen secara tahunan.

Infografik riset Tingkat Inflasi Indonesia di Tengah Ketegangan Geopolitik Global.

Meskipun inflasi secara keseluruhan masih berada dalam kisaran target pemerintah (2,5 persen ±1 persen), tekanan pada komponen harga yang diatur pemerintah dan pangan bergejolak menunjukkan bahwa biaya hidup terus merangkak naik. Pada akhirnya, nilai riil aset masyarakat tertekan.

Survei Bank Indonesia menangkap perubahan perilaku porsi tabungan meningkat menjadi 17,7 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 16,5 persen. Kenaikan ini mengindikasikan adanya kecenderungan ”bermain aman”, saat rumah tangga mulai menahan konsumsi dan memperkuat cadangan keuangan di tengah ketidakpastian.

Ivan Kusuma, Head of Investment and Insurance DANA, melihat, dalam situasi penuh ketidakpastian, kas menjadi jangkar awal. Likuiditas memberikan ruang bernapas ketika pasar bergejolak. Namun, jika porsinya terlalu besar, kas justru kehilangan fungsi strategisnya.

”Menumpuk dana dalam bentuk tunai dalam jangka panjang berisiko tergerus inflasi sehingga nilai riilnya dapat menurun. Oleh karena itu, memegang kas sebaiknya dilakukan secukupnya untuk kebutuhan likuiditas dan dana darurat, sementara sebagian lainnya dialokasikan ke aset atau instrumen yang memiliki potensi menjaga nilai terhadap inflasi,” tuturnya, di Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Ivan mengatakan, instrumen yang relatif aman untuk menjaga nilai uang terhadap inflasi adalah emas dan surat berharga negara (SBN).

”Untuk investor pemula, fokus pada instrumen yang relatif stabil dan membangun portofolio secara bertahap jauh lebih penting dibandingkan dengan mengejar imbal hasil tinggi. Penting juga untuk menjaga diversifikasi aset dan menyesuaikannya dengan profil risiko masing-masing,” kata Ivan.

Bagaimanapun prinsip yang mengemuka di pasar adalah apakah kini masanya cash is king atau memprioritaskan uang tunai daripada aset keuangan lainnya. Namun, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Brigita Kinari, kepada Kompas, Jumat (17/4/2026), mengatakan, saat ini adalah eranya cash is for opportunity. Artinya, likuiditas dijaga bukan untuk diam, melainkan untuk bergerak pada waktu yang tepat.

IPOT, kata Brigita, melihat pasar global saat ini berada dalam fase transisi dari risk-off atau menghindari risiko ke strategi kembali ke aset berisiko atau risk-on secara terbatas. Strategi ini seiring meredanya tensi geopolitik Timur Tengah yang ditandai gencatan senjata Israel-Lebanon dan masih berlanjutnya negosiasi.

”Pada indeks global, saham bergerak menguat moderat; sementara IHSG yang sempat rebound atau balik naik meski kenaikannya masih selektif. Pada surat utang, pasar mulai lebih stabil, tetapi tetap sensitif terhadap pergerakan inflasi dan yield (imbal hasil) global,” tuturnya.

Di komoditas, harga minyak menguat mencerminkan risiko pasokan yang masih diperhitungkan. Sementara harga emas cenderung stabil mengindikasikan masih adanya tren pengambilan keuntungan. Dari sisi valas, rupiah masih tertekan di kisaran Rp 17.138 per dolar AS akibat arus keluar asing.

”Secara keseluruhan, sentimen pasar mulai membaik, tetapi pelaku pasar masih cenderung berhati-hati menunggu kepastian hasil negosiasi,” katanya.

Emas sumber likuiditas

Laporan terbaru World Gold Council dalam kajian ”You asked, we answered: Has gold’s performance structurally changed?” mencatat bahwa lonjakan aktivitas perdagangan justru terjadi saat harga melemah. Dalam sebulan terakhir hingga 17 April 2026, harga emas dunia bercokol di bawah 5.000 dolar AS per troy ounce, setelah di awal tahun menembus rekor 5.500 dolar AS per troy ounce.

Penulis laporan mencatat, koreksi harga diikuti peningkatan volume perdagangan hingga ratusan miliar dolar AS per hari. Ketika harga emas terkoreksi pada akhir Januari, volume transaksi harian global melonjak ke sekitar 965 miliar dolar AS, level tertinggi sepanjang sejarah.

Memasuki 2026, emas menembus kisaran di atas 5.500 dolar AS per ons pada akhir Januari, melanjutkan tren kuat dari 2025 ketika harga emas melonjak lebih dari 60 persen dan mencetak lebih dari 50 rekor harga tertinggi.

Infografik Analisis Harga Emas Proyeksi Pergerakan Harga Emas.

Namun, berbeda dengan fase reli sebelumnya yang relatif konsisten, pergerakan tahun ini jauh lebih cepat berbalik. Pola ini juga pernah terlihat saat krisis keuangan global 2008 dan pandemi 2020. Aktivitas ini mencerminkan bahwa emas digunakan sebagai sumber likuiditas saat pasar mengalami tekanan.

”Artinya, dalam kondisi stres pasar, emas tidak hanya disimpan sebagai aset aman, tetapi juga dijual untuk memenuhi kebutuhan likuiditas,” kata Head of Research (Asia Pacific, ex-India) and Deputy Head of Trade Engagement (China)World Gold Council, Ray Jia, salah satu penulis laporan.

Meski volatilitas meningkat tajam, laporan tersebut menekankan bahwa fenomena ini bukan perubahan struktural permanen. Secara historis, volatilitas emas cenderung kembali ke kisaran normalnya, berkisar 10-18 persen, dalam waktu relatif singkat.

”Dalam banyak episode krisis, harga emas memang kerap turun di awal karena tekanan likuiditas, tetapi kemudian pulih dan mencatat kinerja lebih baik saat ketidakpastian berlanjut,” kata penulis.

Emas kini juga semakin terintegrasi dalam sistem keuangan global, bergerak bukan hanya karena faktor safe haven, melainkan juga karena kebutuhan likuiditas lintas aset. Secara struktural, emas masih memiliki karakter unik, yaitu korelasi rendah terhadap saham dan obligasi, serta fungsi sebagai alat diversifikasi.

”Dalam kondisi inflasi tinggi, ketika saham dan obligasi bisa bergerak searah, emas tetap memberikan perlindungan terhadap risiko portofolio,” kata penulis laporan.

Selektif di obligasi dan saham

Aset lain juga tetap menarik sebagai alat diversifikasi di tengah tekanan ekonomi jika dapat dimanfaatkan secara terukur.

Brigita menjelaskan, obligasi, termasuk SBN, menawarkan yield yang relatif menarik di tengah suku bunga yang masih tinggi dan memberikan pendapatan tetap. Namun, sensitivitas terhadap perubahan kebijakan global membuat pendekatan terhadap instrumen ini menjadi lebih taktis.

”Yield obligasi masih relatif tinggi dan ada risiko fiskal. Maka, yang menawarkan tenor pendek lebih cocok,” katanya.

Jika ingin berinvestasi di pasar saham, investor perlu mempelajari saham-saham yang menjadi pemberat ataupun penopang kenaikan indeks.

Ia mencontohkan indeks pasar saham dalam negeri yang saat ini telah mulai bangkit ke level 7.634 pada penutupan perdagangan Jumat (17/4/2026), setelah masuk level terendah sepanjang tahun di posisi 6.917 pada awal April 2026.

Suasana main hall Bursa Efek Indonesia dengan layar yang menunjukkan grafik Indeks Harga Saham Gabungan pada penutupan bursa, Jumat (17/4/2026). IHSG ditutup di level 7.634, naik 3,6 persen dalam sebulan terakhir meski masih turun 11 persen dari posisi di awal 2026.

Kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini tidak sepenuhnya ditopang oleh saham berkapitalisasi besar, seperti perbankan, tetapi lebih banyak didorong oleh rotasi ke saham-saham tertentu, termasuk konglomerasi dan sektor yang sebelumnya tertinggal.

Dalam situasi tersebut, Brigita menilai, likuiditas dalam bentuk tunai tetap penting karena investor asing masih banyak menjual saham dan volatilitas masih tinggi. Namun, menurut dia, tunai bisa disiapkan sebagai amunisi untuk menangkap peluang buy on weakness atau membeli di harga murah, bukan untuk diam sepenuhnya di luar pasar.

”So, strategi yang lebih ideal adalah masuk secara bertahap, bukan sekaligus atau all in. Dengan cara ini, investor tetap bisa menangkap momentum kenaikan, tetapi juga menjaga fleksibilitas jika terjadi koreksi lanjutan. Jika terlalu defensif dalam bentuk tunai, investor berisiko tertinggal momentum di saham-saham yang mulai diakumulasi dan memiliki valuasi menarik,” katanya menjelaskan.

Pembagian portofolio

Di tengah lanskap yang berubah cepat, Brigita menilai, tidak ada lagi satu instrumen yang dominan dalam segala kondisi. Alokasi portofolio yang fleksibel menjadi kunci. Ia menyarankan agar portofolio saham dibuat di kisaran 35-45 persen untuk pertumbuhan jangka panjang. Portofolio obligasi 20-25 persen untuk stabilitas pendapatan.

Kemudian, aset komoditas, termasuk emas, berkisar 10-15 persen sebagai penyeimbang risiko. Sementara kas atau pasar uang 15-20 persen sebagai penopang likuiditas.

Pada akhirnya, perubahan terbesar bukan pada pasar, melainkan pada cara pandang. Aset tidak lagi cukup disimpan, tetapi harus dikelola. Bagi investor yang mampu membaca pola tersebut, mengelola likuiditas, dan menjaga diversifikasi, ketidakpastian bukan hanya risiko. Ia juga membuka ruang untuk bertahan, sekaligus bertumbuh.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati