POLYTRON INDONESIA TERBUKA 2026

Bukan Lagi Waktunya Amallia/Fadia Bereuforia

Amallia/Fadia haus akan kemenangan untuk bisa segera mewujudkan ambisi mereka, yaitu menembus persaingan dunia. Di Indonesia Terbuka, kemenangan pertama diraih.

03 Jun 2026 18:06 WIB · Olahraga

Kompas/Danu Kusworo

Oleh Rebiyyah Salasah, Kelvin Hianusa

JAKARTA, KOMPAS — Meski baru dipasangkan tak lama, Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti begitu tak sabar untuk segera menembus level elite dunia. Maka, kemenangan atas unggulan turnamen bukan lagi hasil yang perlu dirayakan berlebih. Amallia/Fadia justru memacu diri untuk meraih kemenangan-kemenangan serupa demi mencapai tujuan mereka.

Untuk kali kedua beruntun, Amallia/Fadia berhasil mengalahkan Baek Ha Na/Lee So Hee (Korea Selatan). Amallia/Fadia meraih kemenangan terbaru atas peringkat ketiga dunia sekaligus unggulan di Polytron Indonesia Terbuka 2026 tersebut pada babak pertama di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Amallia/Fadia menang 21-13-17-21, 21-14.

Ketika meraih kemenangan perdana atas Baek/Lee di Kejuaraan Bulu Tangkis Asia 2026, April lalu, akan sangat wajar jika Amallia/Fadia jika merayakannya. Apalagi, kemenangan itu membuat rekor pertemuan dengan Bae/Lee menjadi imbang. Amallia/Fadia membalas kekalahan di Piala Sudirman 2025 saat mereka belum dipatenkan sebagai pasangan.

Namun, kemenangan kedua yang hanya berselang sebulan ini bukan lagi momentum untuk perayaan berlebih. Amallia/Fadia menyadari hal itu. Selain baru babak awal, tujuan mereka lebih besar, yaitu sesegera mungkin menembus level elite dunia.

Ekspresi pasangan ganda putri Indonesia Amalia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti berhadapan dengan ganda putri Korea Selatan Baek Ha Na/Lee So Hee dalam babak 32 besar Polytron Indonesia Terbuka 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Pasangan ganda putri Indonesia Amalia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti melangkah ke babak 16 besar usai mengalahkan ganda putri Korea Selatan Baek Ha Na/Lee So Hee 21-13, 17-21, 21-14.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 03-06-2026

“Kemenangan melawan pemain top sangat berharga untuk kami yang ingin secepatnya bersaing di level atas. Kemenangan juga untuk mengukur ada di mana sebenarnya level kami,” kata Fadia.

“Target kami secepatnya ada di level tinggi, bersaing dengan Baek/Lee, juga (peringkat satu dunia asal China), Liu (Sheng Shu)/Tan (Ning). Dengan saat ini kami masih ranking ke-29, undian akan sering mempertemukan kami dengan level tinggi. Jadi, kami akan memanfaatkan pertandingan melawan top level itu untuk mencari poin,” ucapnya lagi.

Sektor ganda putri Indonesia merombak pasangan dalam setahun terakhir. Fadia baru dipasangkan dengan Amallia mulai Januari 2026. Sadar tertinggal dalam start sebagai pasangan, Fadia berulang kali mengutarakan tekad untuk mengejar dan segera memasuki persaingan level atas.

Bagi Fadia dan Amallia, keinginan itu bagai kerinduan yang harus terbayar. Baik Fadia maupun Amallia sama-sama pernah menembus setidaknya peringkat 10 besar dunia bersama pasangan sebelumnya.

Bersama Apriyani, Fadia pernah menempati peringkat keempat dunia. Sementara itu, Amallia pernah menempati peringkat kedelapan dunia bersama Febriana Dwipuji Kusuma.

Pasangan ganda putri Indonesia Amalia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti berhadapan dengan ganda putri Korea Selatan Baek Ha Na/Lee So Hee dalam babak 32 besar Polytron Indonesia Terbuka 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Pasangan ganda putri Indonesia Amalia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti melangkah ke babak 16 besar usai mengalahkan ganda putri Korea Selatan Baek Ha Na/Lee So Hee 21-13, 17-21, 21-14.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 03-06-2026

Indonesia Terbuka pun menjadi kesempatan mewujukan tekad yang terus diutarakan itu. Amallia/Fadia sudah punya modal dalam tahap awal persaingan ini, mulai dari memenangi level Super 300 di Thailand Masters 2026 hingga mencapai semifinal Kejuaraan Asia yang setara dengan level Super 1000.

Tak hanya itu, dengan pasangan sebelumnya, Amallia dan Fadia juga punya pengalaman mampu melewati babak awal. Saat debut di Indonesia Terbuka 2021 bersama Febriana, Amallia bahkan langsung menembus perempat final. Fadia juga mencapai perempat final sebagai hasil terbaiknya di Indonesia Terbuka bersama Apriyani pada 2022 dan 2023.

Pengalaman itu harus diimbangi juga kecerdikan mencari solusi ketika situasi mulai tidak lagi berpihak ke mereka. Apalagi persaingan di level Super 1000 begitu ketat.

Amallia/Fadia sudah menunjukkannya ketika melawan Baek/Lee. Modal kemenangan pada pertemuan sebelumnya ternyata hanya berperan pada keunggulan gim pertama.

Pasangan Amalia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti melaju ke babak 16 besar turnamen Polytron Indonesia Terbuka 2026, Rabu (3/6/2026) di Istora Senayan, Jakarta. Mereka mengalahkan pasangan Korea Baek Ha Na/Lee So Hee 21-13, 17-21,21-14.

Ketika memasuki gim kedua, Baek/Lee mengubah pola permainan menjadi lebih agresif yang membuat mereka bisa memperpanjang “nyawa”. Amallia/Fadia kesulitan dengan perubahan itu, bahkan sempat tertinggal lima angka pada kedudukan 4-9 pada gim penentu. Mereka malah bermain terburu-buru sehingga banyak melakukan unforced error.

Beruntungnya, mereka tidak menyerah. Perlahan, Amallia/Fadia mengejar ketertinggalan dan memanfaatkan situasi ketika lawan mulai lengah. Teriakan penonton yang meramaikan Istora turut menambah semangat Amallia/Fadia. “Kami tidak menyerah, kami mencari cara bagaimana untuk mengambil kembali poin dan fokus untuk poin berikut-berikutnya,” kata Amallia.

Kemenangan mengantarkan Amallia/Fadia ke babak 16 besar untuk menghadapi wakil Hongkong, Yeung Nga Ting/Yeung Pui Lam. Amallia/Fadia juga menyusul ganda putri lainnya yang sudah lolos lebih dulu, yaitu Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum dan Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari.

Adapun langkah Lanny Tria Mayasari/Apriyani Rahayu, yang juga bermain pada Rabu, terhenti lebih cepat. Lanny/Apriyani takluk dari unggulan kelima, Yuki Fukushima/Mayu Matsumoto (Jepang), 18-21, 19-21.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah, Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase